Custom Search
Showing posts with label SIMALUNGUN. Show all posts
Showing posts with label SIMALUNGUN. Show all posts

Pernah Tau Batu gantung dan Asal-usul Nama Kota Parapat...?

Pernah Tau Batu gantung dan Asal-usul Nama Kota Parapat...? Dahulu kala, di sada huta terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni.

Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.

Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.

“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.

Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.

Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.

“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.

Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.

“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.

Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat.

“Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..

Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan.

Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.

“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.

“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.

“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.

“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.

“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah.

Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.

Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”

“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.

“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.

“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.

“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.

Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.

“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.

“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.

Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.

“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”

“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.

Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutastampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.

“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.

“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.

“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.

“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.

“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.

Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.

Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batucadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.

Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”

Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Dari beberapa SUMBER

Pendeta Djaulung Wismar Saragih

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Memajukan Simalungun

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Gereja Kristen Protestan Simalungun

MYCULTURED


Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Gereja Kristen Protestan Simalungun

Peranan Pdt. Dj. Wismar Saragih dalam mempercepat penyebaran Injil di kalangan rakyat Simalungun berlanjut di saat ia mengajukan surat protes kepada penginjil H. Volmer di Saribudolog pada tanggal 27 Oktober 1937. Surat itu memprotes perubahan nama Distrik Simalungun-Pesisir Timur (Simalungun-Oostkust) menjadi "Sumatera Timur, Aceh dan Dairi" yang disahkan HKBP dalam tata gerejanya pada tahun 1940. Hal itu dilakukannya atas kekhawatiran hilangnya identitas Simalungun pada rakyat Simalungun yang bergereja di Distrik tersebut.

Walaupun surat itu ditolak, namun keberatan yang secara berkelanjutan diajukan oleh komunitas Kristen-Simalungun tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika Sinode am HKBP yang diadakan pada tanggal 10-11 Juli 1940 di Pearaja membicarakan keberatan mereka dan memutuskan agar Kerkbestuur HKBP membicarakan hal tersebut dengan jemaat Simalungun. Pembicaraan tersebut kemudian diadakan di Raya, Saribudolog dan Nagoridolog pada tanggal 26 September 1940 dan memutuskan agar komunitas Simalungun diberi satu distrik tersendiri bernama Distrik Simalungun dengan wakil orang Simalungun di sinode HKBP.

Dj. Wismar Saragih kemudian menjadi salah seorang peserta rapat yang diadakan pada tanggal 5 Oktober 1952 yang bertujuan agar Jemaat-jemaat HKBP distrik Simalungun berdiri sendiri dan terpisah dari HKBP, dan membentuk HKBPS serta pengurus-pengurus dan majelis-majelis gerejanya. Pemisahan ini dilakukan secara sepihak oleh HKBP distrik Simalungun, dan baru diakui oleh wakil-wakil HKBP pada rapat bersama antara delegasi HKBP dan Pengurus Harian HKBP Simalungun (HKBPS) tentang pandjaeon (pemisahan) HKBP Simalungun di Pematang Siantar, 21-22 Januari 1953 yang keputusannya ditandatangani pada tanggal 22 Januari 1953. Pada kepengurusan HKBPS, Dj. Wismar Saragih menduduki jabatan Wakil Ephorus, yang merupakan jabatan tertinggi di kepengurusan pusat HKBPS dan diwakili oleh seorang Sekretaris Jendral. Saat itu HKBPS tidak memiliki Ephorus sebagai upaya untuk tetap memelihara hubungan baik dengan HKBP. HKBPS merupakan rintisan menuju kemandirian penuh jemaat-jemaat di Simalungun di dalam Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).

Karya-karya Dj. Wismar Saragih
Berikut sebagian dari karya-karya Pdt. Djaulung Wismar Saragih:

* Tadah ni tondujta: in ma hata ni Naibata rupeita ari-ari (ayat marhasoman hatorangan), Tandjung Pengharapan, 1967.
* Memorial peringatan pendeta J. Wismar Saragih: marsinalsal, 240 halaman, BPK Gunung Mulia, 1977.
* Ambilan na madear pasai Toehan Jesoes Kristoes: songon sinoeratkon ni Si Loekas
* Loopbaan J. Wismar Saragih, 141 halaman, British and Foreign Bible Society, 1939.
* Portama i tongah djaboe, 59 halaman, Pan Djaporman, 1942.
* Pasal panggomgomion (pamerentahan), 48 halaman, Comite "Na Ra Marpodah", 1929.
* Barita ni toean Rondahaim na ginoran ni halak toean raja na Mabadjan, 79 halaman.
* Siluah hun pulou Djawa (oleh-oleh dari Djawa), 38 halaman, Adventus, 1950.
* Roehoet manoeratkon hata Batak Simaloengoen, marhiteihon soerat Boelanda (soerat Latijn): marondolan bani besluit ni Directeur O & E, 27 April 1920, Issue 14246, 24 halaman, 1934.
* Buei ambilan na binuat humbani buku na pansing padan na basaia, 136 halaman, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 1957.
* Partingkian ni hata Simaloengoen: Simaloe-ngoen Bataks verklarend woordenboek, 280 halaman, Comite "Na Ra Marpodah Simaloe-ngoen," 1938 (mulai diproduksi oleh Zendingsdrukkerij pada 1936).
* Padan Na Baru, bersama Petrus Purba dan LAI, 403 halaman, LAI, 1978.
* Pardiateihon ma, ise do ia: Goluh pakon pangajarion ni Jesus, bersama Petrus Purba dan LAI, 91 halaman, LAI, 1976.
* Ambilan na madear mangihutkon si Johannes: indjil Johannes, bersama Petrus Purba dan LAI, 63 halaman, LAI, 1971.

***Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pendeta Djaulung Wismar Saragih

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Memajukan Simalungun

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Gereja Kristen Protestan Simalungun

MYCULTURED





Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Memajukan Simalungun

Dj. Wismar berpendapat bahwa kunci kemajuan orang Simalungun ada pada peningkatan kesadaran akan harkat dan martabat dirinya sendiri dan peningkatan taraf hidupnya di berbagai bidang kehidupan, terutama pada wawasan berpikir orang Simalungun melalui budaya baca dan tulis.

Proses pelayanan penginjilan yang dilakukan RMG dengan menggunakan bahasa pengantar Toba dengan anggapan bahwa suku Simalungun merupakan sub-etnis dari suku Toba mengakibatkan suku Simalungun semakin termarginalisasi. Hal ini melahirkan semangat oposisi dari Dj. Wismar Saragih dan rekan-rekannya yang merasa bahwa Suku Simalungun telah terabaikan oleh RMG. Semangat itu termanifestasikan dalam "Sinalsal" (sebuah majalah periodik yang diterbitkan pada periode 1928-1940) dan buku-buku yang dikarangnya.

Sadar akan perlunya memajukan dan melestarikan budaya Simalungun, J. Wismar Saragih telah merintis penyusunan Kamus Simalungun pada tahun 1916. Namun usaha itu menemui halangan saat Kamus tersebut selesai dikerjakan pada tahun 1918 tapi ditolak penerbitannya oleh Pemerintahan di kala itu. Di kemudian hari Kamus ini berhasil diterbitkan pada tahun 1936 dengan judul Partingkian ni Hata Simalungun.

Pada tahun 1917 Dj. Wismar Saragih mulai mengusahakan penggunaan buku pelajaran dengan bahasa Simalungun di sekolah-sekolah untuk menggantikan buku yang ada yang menggunakan bahasa pengantar Toba. Hal ini dilakukannya tanpa seizin Pendeta Muller dari RMG di Pematang Siantar (sesuai rekomendasi inspektur pendidikan di Medan) karena pengalamannya dengan RMG yang memarginalisasi suku Simalungun.

Upaya Dj. Wismar Saragih dalam memajukan unsur "hasimalungunan" (ke-Simalungunan) secara konkrit dimulai saat ia masih mengikuti sekolah pendeta di Sipoholon, dengan menerbitkan buku Podah Pasal Marhorja (Nasihat tentang Pekerjaan-1929), diikuti oleh serangkaian buku dalam bahasa Simalungun, yaitu: Panggomgomion (Pemerintahan, 1929), Pitoeah Banggal (Sexuele Leven) (Kitab Tuntunan Kehidupan Seksual, 1938), Partingkian ni Hata Simaloengoen (Kamus Bahasa Simalungun, 1936), dan berbagai buku-buku pelajaran untuk Sekolah Rakyat seperti Sitoloe Saodoran dan Rondang Ragiragian.

Keinginannya untuk memajukan rakyat Simalungun juga mendorongnya untuk berperan aktif mengajar masyarakat Simalungun agar mau bersekolah. Ia juga telah merintis sebuah sekolah sore khusus untuk puteri, suatu hal yang tidak biasa saat itu di bagian daerah manapun di Nusantara. Selain itu ia juga mendorong peningkatan minat baca orang Simalungun dengan mendirikan taman bacaan "Dos ni Riah" dan perpustakaan "Parboekoean ni Pan Djaporman" di Pamatang Raya (1937). Dj. Wismar Saragih juga mewujudkan kepeduliannya pada kelestarian budaya Simalungun dengan mendirikan Roemah Poesaka Simaloengoen (Museum Simalungun) di tahun 1940 dan sanggar kesenian "Parsora na Laingan" pada tahun 1937.

Usahanya membebaskan bangsa Simalungun melalui kekristenan terutama dilakukan melalui penterjemahan teks-teks Alkitab ke dalam Bahasa Simalungun, hal mana menyebabkan ia dijuluki "Een Simaloengoense Luther" (Luther dari Simalungun).Dj. Wismar Saragih dan beberapa teman-temannya menganggap bahwa laju penginjilan RMG di kalangan Suku Simalungun terhambat karena tidak digunakannya bahasa Simalungun sebagai media pengantar. Karenanya pada peringatan 25 tahun sampainya Injil di Simalungun (2 September 1928) Dj. Wismar Saragih turut merintis pendirian sebuah lembaga bahasa Simalungun bernama "Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen."

Pada tanggal 13 Oktober 1928 diadakan pertemuan di rumah Djaoedin Saragih di Pematang Raya yang dihadiri oleh 14 tokoh-tokoh Kristen Simalungun. Dalam pertemuan inilah disepakati pendirian badan yang memiliki tujuan untuk melestarikan dan memberdayakan bahasa Simalungun dengan nama di atas.

Selain melalui Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen, Wismar juga turut aktif mendukung berbagai gerakan yang memajukan suku Simalungun seperti Kongsi Laita dan lain-lain.

Karya-karya Dj. Wismar Saragih
Berikut sebagian dari karya-karya Pdt. Djaulung Wismar Saragih:

* Tadah ni tondujta: in ma hata ni Naibata rupeita ari-ari (ayat marhasoman hatorangan), Tandjung Pengharapan, 1967.
* Memorial peringatan pendeta J. Wismar Saragih: marsinalsal, 240 halaman, BPK Gunung Mulia, 1977.
* Ambilan na madear pasai Toehan Jesoes Kristoes: songon sinoeratkon ni Si Loekas
* Loopbaan J. Wismar Saragih, 141 halaman, British and Foreign Bible Society, 1939.
* Portama i tongah djaboe, 59 halaman, Pan Djaporman, 1942.
* Pasal panggomgomion (pamerentahan), 48 halaman, Comite "Na Ra Marpodah", 1929.
* Barita ni toean Rondahaim na ginoran ni halak toean raja na Mabadjan, 79 halaman.
* Siluah hun pulou Djawa (oleh-oleh dari Djawa), 38 halaman, Adventus, 1950.
* Roehoet manoeratkon hata Batak Simaloengoen, marhiteihon soerat Boelanda (soerat Latijn): marondolan bani besluit ni Directeur O & E, 27 April 1920, Issue 14246, 24 halaman, 1934.
* Buei ambilan na binuat humbani buku na pansing padan na basaia, 136 halaman, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 1957.
* Partingkian ni hata Simaloengoen: Simaloe-ngoen Bataks verklarend woordenboek, 280 halaman, Comite "Na Ra Marpodah Simaloe-ngoen," 1938 (mulai diproduksi oleh Zendingsdrukkerij pada 1936).
* Padan Na Baru, bersama Petrus Purba dan LAI, 403 halaman, LAI, 1978.
* Pardiateihon ma, ise do ia: Goluh pakon pangajarion ni Jesus, bersama Petrus Purba dan LAI, 91 halaman, LAI, 1976.
* Ambilan na madear mangihutkon si Johannes: indjil Johannes, bersama Petrus Purba dan LAI, 63 halaman, LAI, 1971.

***Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pendeta Djaulung Wismar Saragih

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Memajukan Simalungun

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Gereja Kristen Protestan Simalungun

MYCULTURED


Pendeta Djaulung Wismar Saragih

Djaulung Wismar Saragih Sumbayak (lahir 1888 di Sinondang Utara, kira-kira 3 km selatan Pematang Raya, meninggal dunia 7 Maret 1968) adalah Pendeta pertama dari suku asli Simalungun, dan seorang Budayawan yang gigih memperjuangkan kemajuan suku Simalungun. Sebagian karyanya adalah terjemahan Alkitab dalam Bahasa Simalungun yang membuatnya menjadi orang Indonesia pertama yang menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Nusantara (dalam hal ini Simalungun).

Djaulung Saragih Sumbayak dilahirkan dari keluarga terpandang. Ayahnya, Jalam Saragih Sumbayak bekerja untuk Raja Raya, Tuan Rondahaim Saragih Garingging (1828-1891) dan penggantinya, Tuan Soemajan Saragih Garingging (1857-1932), sebagai pembuat sarung senapan, yang membuatnya digelari "Tuhang Sarung ni Bodil." Ibunya bernama Roggainim boru Purba Sigumonrong dari kampung Raya Dolog.

Pada saat pergantian Raja di Kerajaan Raya setelah meninggalnya Tuan Rondahaim Saragih Garingging di tahun 1891, pecah perang saudara akibat ketidakcocokan pendapat mengenai siapa yang layak diangkat sebagai raja selanjutnya. Perang saudara ini mengakibatkan penderitaan mendalam bagi rakyat Simalungun di Kerajaan Raya, termasuk pada keluarga Jaulung Saragih. Penderitaan ini mendorongnya untuk mengangkat harkat keluarga sehingga menjadi pelopor kebangunan Simalungun.

Perkenalan dengan Kristen
Kedatangan penginjil RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft - kelompok penginjil dari Jerman) ke daerah Simalungun, terutama Pematang Raya yang dipimpin oleh Pdt. August Theis untuk memperkenalkan Alkitab dan ajaran Kristen pada Djaulung muda. Semangatnya untuk maju mendorongnya untuk masuk sekolah Zending di Pematang Raya setelah ia dibaptis pada tanggal 11 September 1910. Setelah dibaptis inilah ia menambahkan nama Wismar ke dalam namanya.

Selanjutnya ia meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Kweekschool (sekolah guru) di Narumonda, Tapanuli, selama tahun 1911-1915. Setelah lulus ia sempat mengajar selama 6 tahun. Namun pengangkatannya sebagai pegawai negri pada tahun 1921 menghentikan kariernya sebagai Guru. Pada tahun itu ia mulai menjabat sebagai Pangulu Balei, satu jabatan Sekretaris Wilayah pada pemerintahan Kerajaan Panei.

Saat terbuka kesempatan untuk menjadi Pendeta di tahun 1927, ia meninggalkan profesinya sebagai pegawai negri dan mendaftarkan diri. Ia diterima di sekolah pendeta HKBP di Sipoholon, Tapanuli (1927-1929). Selulusnya dari sekolah pendeta ini ia ditahbiskan di Simanungkalit pada tanggal 15 Desember 1929 menjadi seorang Pendeta HKBP, yang menjadikannya sebagai pendeta pertama dari Simalungun.

Partuha Maujana Simalungun
Pelestarian dan pengembangan adat istiadat Simalungun juga mendapat perhatian khusus J. Wismar Saragih. Salah satunya adalah idenya yang menganjurkan penggunaan pakaian adat Simalungun dalam kegiatan ibadah di Gereja, sesuatu yang mengundang kontroversi mengingat para penginjil RMG menganjurkan penanggalan tutup kepala, termasuk Gotong dan Suri-suri (tutup kepala khas adat Simalungun), di dalam masa ibadah di Gereja.

J. Wismar Saragih juga mendirikan lembaga kesenian yang bertujuan untuk memelihara kesenian musik tradisional dan mengembangkannya sebagai lagu Gereja.

Bersama-sama dengan tokoh Simalungun lainnya seperti Haji Ulakma Sinaga dan Rajamin Purba (Bupati Simalungun saat itu) ia kemudian mendirikan sebuah wadah pengetua-pengetua adat Simalungun yang diberi nama Partuha Maujana Simalungun.

Kemerdekaan Indonesia
Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, J. Wismar Saragih turut berperan serta aktif dalam memimpin rakyat untuk mendukung kemerdekaan. Hal ini dilakukannya secara efektif melalui mimbar gereja maupun pidato umum, seperti yang dilakukannya di Lapangan Sepak Bola Pematang Raya pada tanggal 23 Desember 1945. J. Wismar Saragih juga terpilih sebagai ketua saat dibentuknya Komite Nasional Kecamatan dan kemudian menjadi perutusan ke tingkat Kabupaten.

Karya-karya Dj. Wismar Saragih
Berikut sebagian dari karya-karya Pdt. Djaulung Wismar Saragih:

* Tadah ni tondujta: in ma hata ni Naibata rupeita ari-ari (ayat marhasoman hatorangan), Tandjung Pengharapan, 1967.
* Memorial peringatan pendeta J. Wismar Saragih: marsinalsal, 240 halaman, BPK Gunung Mulia, 1977.
* Ambilan na madear pasai Toehan Jesoes Kristoes: songon sinoeratkon ni Si Loekas
* Loopbaan J. Wismar Saragih, 141 halaman, British and Foreign Bible Society, 1939.
* Portama i tongah djaboe, 59 halaman, Pan Djaporman, 1942.
* Pasal panggomgomion (pamerentahan), 48 halaman, Comite "Na Ra Marpodah", 1929.
* Barita ni toean Rondahaim na ginoran ni halak toean raja na Mabadjan, 79 halaman.
* Siluah hun pulou Djawa (oleh-oleh dari Djawa), 38 halaman, Adventus, 1950.
* Roehoet manoeratkon hata Batak Simaloengoen, marhiteihon soerat Boelanda (soerat Latijn): marondolan bani besluit ni Directeur O & E, 27 April 1920, Issue 14246, 24 halaman, 1934.
* Buei ambilan na binuat humbani buku na pansing padan na basaia, 136 halaman, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 1957.
* Partingkian ni hata Simaloengoen: Simaloe-ngoen Bataks verklarend woordenboek, 280 halaman, Comite "Na Ra Marpodah Simaloe-ngoen," 1938 (mulai diproduksi oleh Zendingsdrukkerij pada 1936).
* Padan Na Baru, bersama Petrus Purba dan LAI, 403 halaman, LAI, 1978.
* Pardiateihon ma, ise do ia: Goluh pakon pangajarion ni Jesus, bersama Petrus Purba dan LAI, 91 halaman, LAI, 1976.
* Ambilan na madear mangihutkon si Johannes: indjil Johannes, bersama Petrus Purba dan LAI, 63 halaman, LAI, 1971.

***Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pendeta Djaulung Wismar Saragih

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Memajukan Simalungun

Pendeta Djaulung Wismar Saragih dan Gereja Kristen Protestan Simalungun

MYCULTURED



Donation (Sumbangan Sukarela)

Terima kasih sudah menyempatkan diri mengunjungi halaman ini. Situs web ini bersifat non komersial, karena itu tidak dirancang untuk memperoleh keuntungan materi. Jika Anda menyukai situs web ini, Anda bisa membantu untuk membuatnya lebih baik. Untuk pengembangan website ini kami membutuhkan sumbangan anda:

BANK MANDIRI
Nomor Rekening: 0060006969244

Kiriman sekecil apa pun akan sangat berharga bagi masa depan situs ini selanjutnya. Terima kasih sebelumnya atas dukungan Anda.


Pakaian Adat Simalungun

MYCULTURED

Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung “kekuatan” yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.

Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan mangulosi (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.

Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain. Ulos dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri, ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Ulos dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut Dalihan Natolu, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).

Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.



Suku Simalungun

MYCULTURED

Suku Simalungun adalah salah satu suku asli dari provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.

Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku "Si Balungu" dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.

Asal-usul

Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang :

1. Gelombang pertama (Simalungun Proto ), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.
2. Gelombang kedua (Simalungun Deutero), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.

Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.

Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.

Pustaha Parpandanan Na Bolag (pustaka Simalungun kuno) mengisahkan bahwa Parpandanan Na Bolag (cikal bakal daerah Simalungun) merupakan kerajaan tertua di Sumatera Timur yang wilayahnya bermula dari Jayu (pesisir Selat Malaka) hingga ke Toba. Sebagian sumber lain menyebutkan bahwa wilayahnya meliputi Gayo dan Alas di Aceh hingga perbatasan sungai Rokan di Riau.

Sistem Politik

Pada masa sebelum Belanda masuk ke Simalungun, suku ini terbagi ke dalam 7 daerah yang terdiri dari 4 Kerajaan dan 3 Partuanan.

Kerajaan tersebut adalah:

1. Siantar (menandatangani surat tunduk pada belanda tanggal 23 Oktober 1889, SK No.25)
2. Panei (Januari 1904, SK No.6)
3. Dolok Silou
4. Tanoh Djawa (8 Juni 1891, SK No.21)

Sedangkan Partuanan (dipimpin oleh seseorang yang bergelar "tuan") tersebut terdiri atas:

1. Raya (Januari 1904, SK No.6)
2. Purba
3. Silimakuta

Kerajaan-kerajaan tersebut memerintah secara swaparaja. Setelah Belanda datang maka ketiga Partuanan tersebut dijadikan sebagai Kerajaan yang berdiri sendiri secara sah dan dipersatukan dalam Onderafdeeling Simalungun.

Selain 3 partuanan yang tersebut atas masih terdapat beberapa partuaan yang lain antara lain:

1. Parbalogan (tuan parbalogan op.Dja Saip Saragih Napitu) yang wilayahnya dari parmahanan hingga ke tigaras
2. Sipolha (tuan Am.Dja Banten Damanik) merupakan orang tua dari mantan Bupati Simalungun Dja Banten Damanik
3. Sipintu angin (tuan op.S.Saragih Turnip) merupakan orang tua dari Saragih Ras. Yang hingga kini tugunya (tugu hoda bottar)masih terlihat di Perbatasan Panatapan Ds.Tigaras
4. dll.

Partuanan-partuanan ini tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Belanda saat itu, di daerah dilakukan perlawanan perlawanan kecil secara bergerilya.

Kepercayaan

Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari "Datu" (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa yang disebut Naibata, yaitu Naibata di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Naibata di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Naibata di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.

Orang Simalungun percaya bahwa manusia dikirim ke dunia oleh naibata dan dilengkapi dengan Sinumbah yang dapat juga menetap di dalam berbagai benda, seperti alat-alat dapur dan sebagainya, sehingga benda-benda tersebut harus disembah. Orang Simalungun menyebut roh orang mati sebagai Simagot. Baik Sinumbah maupun Simagot harus diberikan korban-korban pujaan sehingga mereka akan memperoleh berbagai keuntungan dari kedua sesembahan tersebut.

Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.

Ajaran Hindu dan Budha juga pernah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Buddha yang menunggangi Gajah (Budha).

Marga
Harungguan Bolon

Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR[9], yaitu:
* Sinaga
* Saragih
* Damanik
* Purba

Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keempat raja itu adalah:

Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).

Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.

Raja Banua Purba bermarga Purba
Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.

Raja Saniang Naga bermarga Sinaga
Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penebab Gempa dan Tanah Longsor.

Marga-marga perbauran
Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru.

Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.

Perkerabatan Simalungun
Partuturan

Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?"

Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).

Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.

Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:

* Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.

* Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun

* Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

Pakaian Adat
Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.

Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya.

Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.

Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan "mambere hiou" (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima Hiou. Hiou dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain.

Hiou dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya Hiou penutup kepala wanita disebut suri-suri, Hiou penutup badan bagian bawah bagi wanita misalnya ragipanei, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Hiou dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).

Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.



Kerajaan Nagur

MYCULTURED

Menurut Sdr Amanihut N. Siahaan, H Pardede dalam sejarah perkembangan Marga-marga Batak, di Simalungun pernah berdiri suatu kereajaan besar sekitar daerah Raya, yang bernama Timoraya Nagur. Disana berkembang feodalisme. Kerajaan ini menjadi kaya raya karena perdagangan dengan pantai Sumatera Timur. Serangan Sultan Aladdin Riayat Syah al Kahar tahun 1539 dapat digagalkannya. Tapi karena serangan ini kadi lemahlah dan tidak berdaya lagi. Belakangan yang mengalahkan Nagur ialah kerajaan Tuan Rondahaim, kira-kira 1870.

Ibu negeri dari kerajaan Nagur ini, dulu ada orang mengatakan dekat Tigarunggu, tatapi lebih banyak orang menyangka dekat Nagaraja sekarang, karena masih banyak nama-nama kampung yang memakai Nagur, umpamanya Nagur Bayu, Nagur Usang, Mariah Nagur dan Nagur Raja (Nagoraja, Nagaraja).

Marga yang memerintah Nagur ialah marga Damanik. Tetapi lain dari marga Manik yang datang kemudian dari Toba, sebab bagian-bagian marga ini lain dari yang disana, misalnya: Manik Sola, Manik Sarasan, Manik Usang, Manik Bayu. Boleh jadi ini termasuk pada SImalungun yang pertama menduduki daerah ini.

Diambil dari : Seminar Kebudayaan Simalungun 1974, oleh J. Wismar Saragih.




Kerajaan Silou Purba

MYCULTURED

Kemungkinan ke Simalungun datang dua periode, kalau kita sebut pertama Proto Simalungun dan yang kedua Deutro Simalungun yang datangnya dari Toba.

Yang pertama itu masuknya dari Aceh atau terus dari Sumatera Timur (Pesisir Timur), rupanya telah membentuk satu kerajaan yang luas berbatas di laut asin dan laut tawar (yang dimaksud berbatas dengan selat Malaka dan Danau Toba) yang bernama Kerajaan Silou. Hampir pada segala kerajaan di Simalungun, pada akhir-akhir ini ada beberapa kampung yang bernama Silou, umpamanya

* di Raya : Silou Buntu, Silou Raya.
* di Panei, umpamanya Nagori Silou (dekat Urung Panei), Silou Marihat (dekat Dolog Huluan),
* di Siantar : Silou Malela, Silou Bayu dan Silau Malaha
* di Tanoh Jawa : Silau Bosar, Silou Majawa, Silou
* di Dolog Silou : Silou Marawan, Silou Kahean, Silou Dunia, Silou Hanopan, Silou Pangaribuan
* di Kisaran : Silou Laut, Silou, Parhutaan Silou

Cerita di Silou Buntu yang ditulis oleh Sdr. J. Edison Saragih, Pematang Silou itu di Silou Buntu (parhutaan), disana masih lengkap, ada Buntu Panjomuran (penjemuran) dan Buntu Pandodingan (bukit tempat bernyanyi. Raja Silou yang pertama bernama JIGOU yang kedua MORAIJOU dan yang ketiga TARITI.

Selama raja ketiga memerintah, Kerajaan Silou masih luas kekuasaannya, tetapi kemudian tidak ada lagi. Kuburan dari Raja Tariti, sekarang ini sudah menjadi keramat dan masih diurus oleh tutunannya pada kira kira 20 tahun yang lewat (sekitar thn 1954-red).

Orang lain menerangkan bahwa Pematang (ibu kota) kerajaan Silou mungkin dekat dolok Marawa di Silou Kahean, karena disanalah ada Parhutaan Silou. Marga mereka disebut PURBA, boleh jadi karena sebelah timur (Purwa, Purba). Boleh jadi Simalungun yang pertama itu pindah ke Toba, oleh satu sebab dan bertempat di sekitar Pusuk Buhit dan dari sana berserak keseluruh penjuru Tanah Batak.

Menurut keterangan Tuan Bandar Alam Purba Tambak, keturunan mereka Purba Tambak bukan dari Toba, tetapi dari Aceh, begitu juga Sidasuha bercabang dari Tambak. Marga ini tidak terdapat di Toba. Tapi menjadi pertanyaan juga karena marga Tambak ini ada sedikit di kota Pinang dan Mandailing.

Diambil dari : Seminar Kebudayaan Simalungun 1974, oleh J. Wismar Saragih.



Sejarah Marga Saragih Dari Sudut Pandang Simalungun

MYCULTURED

Kali ini kita coba membahas tentang marga Saragih yang banyak mendiami Tanah Simalungun bahkan bisa dikatakan merekalah salah satu penduduk asli Tanah Simalungun.

Saat ini banyak berkembang mengenai sejarah marga ini yang selalu digencarkan oleh pihak Toba bahwa marga Saragih ini adalah hasil diaspora dari keturunan Saragi Tua anak dari Raja Nai Ambaton,namun saya tidak sepaham dengan sejarah yang menurut saya rekaan pihak Toba namun hanya merupakan kebetulan sama nama aja antara Saragi anaknya Raja Nai Ambaton dengan Saragih yang berada di Simalungun yang diyakini berasal India atau sekisaran Kerajaan Nagore tempo dahulu.

Adapun Raja Nai Ambaton bukanlah raja yang seperti kita bayangkan selama ini bahwa ia mempunyai kerajaan,kekuasaan yang luas dan rakyat tp Raja Nai Ambaton hanyalah sebutan raja alias kepala kampungnya saja seperti halnya Raja Silahisabungan dan juga Raja Sisingamaraja karena rakyat Toba tidak pernah mengenal sistem tertata feodalisme seperti yang dijalankan oleh Raja-Raja di Simalungun yang benar-benar sebuah Kerajaan pada arti sebenarnya.

Alkisah seorang keturunan Raja Saragih di Simalungun masuk hutan untuk berburu hewan buruan,si Saragih ini ditemani berburu dengan Harimau kesayangannya,keasyikan berburu tanpa ia sadari bahwa ia sebenarnya sudah jauh meninggalkan tanah Simalungun dan berada di Tanah Toba.Rupanya ia tersesat di daerah yang baru pertama kali datangi tersebut.

Tinggallah ia di sana dan menikahi gadis boru Toba kemudian beranak ia dan menghasil anak-anak yang kemudian akan menurunkan marga Simarmata,Turnip,Manihuruk,Sitanggang dsb..

Ketika usianya semakin tua,rindulah si Saragih ini pada kampung halamannya di Simalungun,ia pun berniat untuk kembali,sebelum ia berangkat balik ke Simalungun ia berpesan kepada anak dan cucunya bahwa mereka wajib untuk kembali ke Tanah Simalungun karena aslinya leluhur dan tanah mereka adalah di Simalungun bukan di Toba.

Makanya mengapa banyak marga-marga yang katanya tergabung dalam “Parna” tsb selalu digerakkan untuk kembali ke Simalungun dibandingkan dengan marga-marga Toba lainnya.Ini dikarena bahwa Simalungunlah tanah leluhur mereka.

Kita bisa mengambil contoh dari marga Simarmata yang lebih banyak bersembunyi dibalik marga Saragih yang artinya lebih banyak marga Simarmata yang di Simalungun ketimbang dengan Simarmata yang berada di Toba.

Ini hanyalah mengisahkan ulang sejarah marga Saragih dari sudut pandang Sejarah Marga Saragih Simalungun,jika ada yang terganggu dengan kisah sejarah ini,saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.



Buku “RONDAHAIM,Sebuah Kisah Kepahlawanan Menentang Penjajahan di Simalungun”

MYCULTURED

Buku tentang Kepahlawanan Tuan Rondahaim Saragih Garingging dengan judul buku “Barita ni Tuan Rondahaim,na ginoran ni halak Tuan Raya Na Mabajan” pertama kali ditulis oleh Pdt.J.Wismar Saragih namun tidak pernah ia terbitkan hingga ia meninggal dunia,nanti oleh anak bungsunya Pdt.J.Wismar Saragih yaitu Jaiman Saragih baru karya ini di publikasikan melalui fotokopi sebanyak 100 eksemplar.Dalam karya asli tersebut masih dalam bahasa Simalungun dialek Raya,kemudian baru diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Berikut ini saya coba membuat resensi buku ini :

Menurut sejarah yang ditulis oleh Pelopor Kebangkitan Budaya Simalungun tersebut diceritakan bahwa Tuan Rondahaim Saragih Garingging sebenarnya hanyalah anak selir dan bukanlah Putra Mahkota penerus Kerajaan Raya dari Permaisuri/Puang Bolon Kerajaan Raya,ayah Tuan Rondahaim Saragih Garingging adalah Tuan Huta Dolog Saragih Garingging dan Kakeknya adalah Tuan Morahkalim Saragih Garingging.

Ibu dari Tuan Rondahaim adalah Permaisuri Ramonta bermarga Suha yang berasal dari Panei,Permaisuri Ramonta Suha termasuk permaisuri yang disia-siakan oleh Tuan Huta Dolog,kurang diberi perhatian dibandingkan dengan permaisuri-permaisurinya yang lain.

Tuan Rondahaim mempunyai 2 orang saudara perempuan yaitu Tuan Puteri Essem dan Tuan Puteri Mudaha,sedangkan saudara tiri Tuan Rondahaim berbeda ibu adalah Tuan Joranim,Tuan Imbang,Tuan Taim,Tuan Puteri Kumek,Tuan Puteri Rimmani dan Tuan Amborokan.

Saking ditelantarkannya Permaisuri Ramonta membuat ia bersama anak-anaknya kadang tidak dikenal sebagai salah satu permaisuri Raja Raya Tuan Huta Dolog,begitu pun dengan pakaian Tuan Rondahaim kecil yang seadanya bahkan bisa dikatakan compang-camping membuat banyak yang menganggapnya rendah.

Namun Rondahaim sangat mudah bergaul dan bersikap sosial di masa mudanya dengan memberikan hasil ladangnya seperti tebu,pisang dan ubi pada masyarakat di sekitarnya membuat ia cepat mempunyai teman dari masyarakat jelata.

Bagi Tuan Rondahaim,tidak ada bedanya antara mempunyai ayah atau tidak karena Tuan Huta Dolog jarang mengunjungi mereka,Tuan Huta Dolog meninggal ditahun 1826 dan kemudian digantikan oleh saudara tirinya Tuan Huta Dolog yaitu Tuan Sinondang sebagai pelanjut Kerajaan Raya.

Oleh pamannya yang saat itu menjadi Raja Raya maka Tuan Rondahaim diangkat sebagai salah satu Raja Goraha (Panglima Perang) tentu saja dengan prestasi yang gemilang.

Suatu waktu salah satu penguasa bawahan Kerajaan Raya yaitu Tuan Mahata yang menjadi Tuan di daerah Manak Raya mau berdiri sendiri dan lepas dari kekuasaan Kerajaan Raya,membuat Tuan Sinondang sebagai Raja Raya perlu memberikan pelajaran kepada bawahannya tsb,Tuan Rondahaim ikut menuju Manak Raya bersama Raja Tuan Sinondang yang langsung memimpin pasukan untuk meredakan pemberontakan di Manak Raya.

Pada pertempuran di Manak Raya,Tuan Sinondang terkena tembakan di perutnya tepatnya di Kandung kemihnya yang kemudian menewaskannya,kejadian itu terjadi sesudah Tuan Rondahaim berumur 20tahun.

Masa pemeintahan Tuan Sinondang yang hanya 3tahun itu namun seakan-akan telah menyiapkan Tuan Rondahaim sebagai calon penggantinya,selepas kematian Tuan Sinondang maka naiklah Tuan Rondahaim sebagai penerus tahta kerajaan Raya walaupun banyak yang coba menghalanginya.

Cita-cita dari Tuan Rondahaim hanyalah satu yaitu memperluas Kerajaan Raya karena Kerajaan Raya masih kecil pada saat itu jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain yang ada di Simalungun.Jadi Ia menginginkan Kerajaan Raya menjadi luas dan terkenal.

Selanjutnya Tuan Rondahaim banyak melakukan expansi baik pada kerajaan-kerajaan di sekitarnya maupun perlawanan pada expansi penjajah Belanda di Kerajaan Raya,ketangguhan Tuan Rondahaim membuat Belanda sulit menaklukkan Kerajaan Raya hingga di akhir hidup Tuan Rondahaim.

Tuan Rondahaim,sang raja sejati Kerajaan Raya itu meninggal dengan tenang di Raya,bukan di medan juang karena ia tidak pernah terkalahkan.

Ada baiknya agar para generasi muda Simalungun untuk mewarisi semangat juang yang dimiliki oleh Tuan Rondahaim dalam mempertahankan prinsip yang tidak mau kalah dari pengaruh bangsa asing seperti Belanda,karena sesungguhnya suku bangsa Simalungun sendiri mempunyai tata aturan hidup dengan norma-norma yang cukup layak untuk dipertahankan hingga saat ini ketimbang terlalu jauh dipengaruhi oleh serangan westernisasi dari Amerika maupun Eropa.

Jika setiap generasi muda Simalungun mempunyai semangat seperti yang dimiliki oleh Tuan Rondahaim pasti Simalungun akan cepat maju dan jauh meninggalkan daerah-daerah di sekitarnya bahkan bisa menjadi barometer bagi daerah lain karena sifat Tuan Rondahaim yang cinta pada budaya sendiri dan ingin selalu menjaga wilayahnya dari pengaruh asing.

Gimana sekarang?apakah Anda sebagai Generasi Muda Simalungun mampu menjadi Tuan Rondahaim abad Milienium?



Istana raja purba

MYCULTURED

Rumah Bolon Pamatang Purba Kecamatan Purba Simalungun berdiri abad XV pada masa kerajaan Tuan Pangultop ultop. Setelah itu, ada 13 kerajaan yang silih berganti menduduki Rumah Bolon tersebut yaitu:

Kings of the Purba Dynasty

1. Tuan Pangultop Ultop, 1624-1648
2. Tuan Ranjinman, 1648-1669
3. Tuan Nanggaraja, 1670-1692
4. Tuan Batiran, 1692-1717
5. Tuan Bakkaraja, 1718-1738
6. Tuan Baringin, 1738-1769
7. Tuan Bona Batu, 1769-1780
8. Tuan Raja Ulan, 1781-1796
9. Tuan Atian, 1800-1825
10. Tuan Horma Bulan, 1826-1856
11. Tuan Raondop, 1856-1886
12. Tuan Rahalim, 1886-1921
13. Tuan Karel Tanjung, 1921-1931
14. Tuan Tuan Mogang, 1933-1947

ada 8 bangunan yang masih utuh sampai sekarang yaitu, Rumah Bolon, Balai Bolon, Pattangan Raja, Pattangan Puang Bolon, Jambur, Losung, Balai Buttu dan Jabu Jungga. “



Tarian Simalungun

MYCULTURED

Toping-toping dan tangis tangis adalah jenis tarian tradisional dari suku Batak Simalungun yang dilaksanakan pada acara duka cita di kalangan keluarga Kerajaan. Toping-toping atau huda-huda ini terdiri dari 3 (tiga)m bagian, bagian pertama yaitu huda-huda yang dibuat dari kain dan memiliki paruh burung enggang yang menyerupai kepala burung enggang yang konon menurut cerita orang tua bahwa burung enggang inilah yang akan membawa

roh yang telah meninggal untuk menghadap yang kuasa, bagian yang kedua adalah manusia memakai topeng yang disebut topeng dalahi dan topeng ini dipakai oleh kaum laki-laki dan wajah topeng juga menyerupai wajah laki-laki dan kemudia topeng daboru dan yang memakai topeng ini adalh perempuan karena topeng ini menyerupai wajah perempuan (daboru). Pada tanggal 06 s/d 08 Agustus 2009 tepatnya di Kota Perdagangan Pematang Siantar diadakan acara yang disebut dengan Pasta Rondang Bintang, acara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Dalam acara ini digelar berbagai kegiatan seni dan budaya diantaranya berbagai jenias tari daerah Simalungun, Festival Lagu daerah, permainan tradisional (Jelengkat atau enggrang) dan Festival Toping-toping dan tangis-tangis.

Festival toping-toping dan tangis-tangis ini diadakan pada acara Pesta Rondang Bintang dengan tujuan untuk mengangkat dan mengembangkan kembali peranan toping-toping atau tangis-tangis yang biasanya dilaksanakan pada saat acara duka cita di daerah Simalungun. Pada Zaman dahulu penampilan huda-huda atau toping-toping dan tangis-tangis hanya dilaksanakan dikalangan keluarga kerajaan saja dan karena sekarang

keberadaannya sudah tidak ada lagi, maka akan diaktifkan kembali dalam kehidupan sehari hari. Dari sekian lama Pesta Rondang Bintang dilaksanakan baru kali ini diadakan festival toping-toping dan tangis-tangis karena dari pengamatan dan pantauan dilapangan sudah sangat jarang dan biasanya acara ini juga dilaksanakan jika orang yang punya hajatan adalah orang yang sudah saur matua atau orang yang sudah lengkap anak, cucu dari masa tuanya.

Dengan keragaman budaya yang ada di Indonesia, tentanya kebudayaan ini sangatlah penting arti dan manfaatnya dimasa mendatang, oleh sebab itu diharapkan hendaklah kita dapat melestarikan budaya peninggalan nenek moyang kita yang diwariskan kepada kita dan anak cucu kita. Kalau ditinjau dari segi jenis tarian dan kebudayaan, tari toping-toping dan tangis-tangis ini tidak dapat kita jumpai dimanapun terkecuali di daerah Simalungun dan ini akan menjadi aset atau kekayaan budaya daerah Simalungun khususnya dan Sumatera Utara juga Indonesia pada umumnya, oleh sebab itu marilah kita menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya yang kita miliki.



Asal muasal Habonaron Do Bona

MYCULTURED

Perihal kejujuran orang Simalungun berpedoman kepada falsafah hidup mereka yaitu Habonaron do Bona, Hajungkaton do Sapata” yang artinya segala sesuatu harus berpangkal dari yang benar. Orang yang tidak konsisten menjungjung tinggi falsafah ini diyakini akan mendapatkan hal-hal yang tidak baik. Falsafah ini juga berdampak pada pola pikir orang Simalungun yang sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Suatu keputusan barulah diambil setelah dipikiran masak-masak, dan sekali ia memutuskannya maka jarang ia menarik keputusannya itu. Sebagaimana dalam ungkapan Simalungun, “Parlobei idilat bibir ase marsahap, bijak mosor pinggol asal ulang mosor hata”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa orang Simalungun bukanlah tipikal manusia yang sembrono atau terburu-buru dalam mengambil dan menentukan sebuah kebijakan dan keputusan, seluruhnya harus dipikirkan masak-masak dan keputusan itu adalah tetap, artinya tidak akan pernah berubah lagi. Hal ini berdampak pada sikap orang Simalungun yang begitu lambat dalam menerima Injil.

Disisi lain, falsafah itu berpengaruh kepada sikap dan tabiat orang Simalungun sehari-hari yang selalu dipenuhi ketakutan untuk berbuat kesalahan, lebih suka berserah kepada Ompung Naibata daripada mengadakan perlawanan yang spontan. Seperti ketika para pendatang membanjiri Tanah Simalungun setelah penandatanganan Perjanjian Pendek (Korte Verklaring) antara raja-raja Simalungun dengan pemerintahan Belanda, khususnya imigran Batak Toba, orang Simalungun memilih membuka lahan baru di Simalungun Atas yang tanahnya relatif kurang subur ketimbang terlibat konflik dengan para pendatang, sekalipun mereka sangat dirugikan oleh kedatangan para imigran itu.

Pertanyaan yang tidak kalah penting untuk diketahui adalah darimanakah asal-muasal falsafah itu? Penulis sendiri menemukan dua sumber yang berbicara tentang asal muasal falsafah di atas.

Sumber pertama menyebut falsafah di atas ditegakkan oleh Tuan Sormaliat, yang berawal dari ditemukannya Bambu Bertulis sebanyak tujuh buah per batang; dimana bambu itu berisi tulisan dari ruas paling bawah hingga ke ruas atas yang berisi: penanggalan waktu (bulan, hari dan jam), ilmu pengobatan, ilmu nujum, ilmu pemanggil roh, dan lain-lain. Ia menemukannya di kerajaan Batang Toruh, tepat di dasar jurang tempat ia jatuh. Kemudian selama tujuh hari lamanya ia bertapa disana seraya menuliskannya kembali ke dalam “laklak ni hayu alim” (kulit kayu ulin).6 Pengetahuan yang ia peroleh dari Bambu Bertulis itulah yang kemudian ia pakai mengalahkan kekuatan musuh-musuh yang berusaha menganggu ketentraman manusia. Akhirnya ia menegakkan dan bersandar pada falsafah Habonaron do Bona serta mengajarkannya kepada masyarakat kerajaan Rahat Di Panei.7 Sumber kedua menyatakan bahwa seloka Habonaron Do Bona terdapat dalam Pustaka Simalungun kuno yang disebut Pustaha Parmungmung Bandar Syah Kuda yang bertarikh kira-kira abad XV ketika Simalungun masih bernama Harajaon Purba Deisa Na Ualuh. Dalam laklak itu dikisahkan bagaimana burung Nangordaha akhirnya memberikan keadilan (habonaron) kepada Sang Ma Jadi putra raja Purba Deisa Na Ualuh dengan cara membantunya dalam pertempuran antara Sang Ma Jadi dengan Raja Samidora (Samudera Pasai di Aceh). Ketika Nangordaha menukik hendak membunuh raja Samidora terdengarlah di langit ucapan “Habonaron do Bona” sebanyak tiga kali. Seloka itu kemudian ditetapkan sebagai lambang kabupaten Simalungun pada masa pemerintahan Bupati Radjamin Purba (1960-1970)

Footnote

1 D. Kenan Purba, SH & Drs. J.D. Purba, “Sejarah Simalungun”, (Jakarta: Bina Budaya Simalungun, 1995), hlm.6.
2 Walter Lempp, “Benih yang Tumbuh (12): Gereja Gereja di Sumatera Utara” (Jakarta, 1976) dalam buku Juanda Raya P. Dasuha & Martin Lukito Sinaga, “Tole! Den Timorlanden Das Evangelium!” (Pematangsiantar: Kolportase GKPS, 2003), hlm. 22.
3 Juanda Raya P. Dasuha & Martin Lukito Sinaga, “Tole! Den Timorlanden Das Evangelium!” (Pematangsiantar: Kolportase GKPS, 2003), hlm. 23.
4 Mansen Purba, “Simalungun Abad ke-19” dalam Ambilan pakon Barita GKPS No.137/September 1985, hlm.50.
5 Juanda Raya P. Dasuha & Martin Lukito Sinaga, “Tole! Den Timorlanden Das Evangelium!” (Pematangsiantar: Kolportase GKPS, 2003), hlm. 42.
6 Drs. Henry Guntur Tarigan, “Folklore Simalungun”, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980), hlm 22
7 Ibid. hlm 58.
8 Juanda Raya P. Dasuha & Martin Lukito Sinaga, “Tole! Den Timorlanden Das Evangelium!” (Pematangsiantar: Kolportase GKPS, 2003), hlm 42 (diambil dari catatan kaki)
9 Ibid
10 Kosuke Koyama, “Tiada Gagang pada Salib”, (Jakarta: BPK GM, 1986),hlm. 4.
11 Kwok Pui-lan, “Discovering the Bible in the Non-Biblical World”, (New York: Orbis Book, 1995)
12 Hesselgrave David J, Theology and Mission, Baker Book House, 1976, Korean tras dari Jeon Ho-Jin, Seoul: Tyranus Press, 1986,p. 73. Diambil dari buku Suh Sung Min, “Injil dan Penyembahan Nenek Moyang”, (Yogyakarta: Media Presindo, 2001), hlm. 341.
13 Stephen.B. Bevans, “Model-Model Teologi Kontekstual”, (Flores: Ledalero, 2002), hlm. 41.
14 Martin Lukito Sinaga, “Identitas Poskolonial Gereja Suku dalam Masyarakat Sipil: Studi tentang J.Wismar Saragih dan Komunitas Kristen Simalungun”, (Yogyakarta: LKiS, 2004), hlm. 54,
15 Jan. S. Aritonang, “Sejarah Pendidikan Kristen Di Tanah Batak”, pp. 452-454 dalam buku Suh Sung Min, “Injil dan Penyembahan Nenek Moyang”, (Yogyakarta: Media Presindo, 2001), hlm. 318-319.
16 Berdasarkan pengalaman penulis, bahwa banyak parhorja kuria (sintua maupun syamas) di GKPS X yang aktif martambar (berobat) maupun bertanya kepada ompung/kakek penulis selaku seorang namarpambotoh (datu).
17 Dalam buku Folklore Simalungun disebutkan bahwa ilmu yang diperoleh oleh Tuan Sormaliat diperoleh dari bambu bertulis. Sedangkan ilmu yang diperoleh oleh Herdin Purba adalah hasil turunan dari orang tua sebelumnya. Ilmu ini harus terus dilestraikan dengan cara menurunkannya kepada generasi berikutnya. Demikian seterusnya.
18 Drs. Henry Guntur Tarigan, “Folklore Simalungun”, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980), hlm. 32. Penulis tidak tahu pasti apakah mantera diatas juga dipakai oleh Herdin Purba. Namun yang pasti, dalam hal-hal tertentu ia juga mengucapkan menteranya.
19 Dari pengalaman penulis; penjaga badan yang diberikan itu terbuat dari beras yang digongseng sampai berwarna hitam dengan rasa yang pahit. Kemudian beras ini ditumbuk sampai halus dan di beri mantera.
20 Drs. Henry Guntur Tarigan, “Folklore Simalungun”, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980), hlm. 36.
21 Ibid. hlm. 36-46.
22 Jan. S. Aritonang, “Sejarah Pendidikan Kristen Di Tanah Batak”, pp. 452-454 dalam buku Suh Sung Min, “Injil dan Penyembahan Nenek Moyang”, (Yogyakarta: Media Presindo, 2001), hlm. 319.
23 Ibid. hlm. 321-322.
24 Kosuke Koyama, “Tiada Gagang pada Salib”, (Jakarta: BPK GM, 1986), hlm. 79.



Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...