Custom Search
Showing posts with label SASTRA. Show all posts
Showing posts with label SASTRA. Show all posts

Sejarah Singkat SI RAJA HASIBUAN dohot Pomparanna

Pinatomu-tomu ni : A. Mathias Hasibuan / Br. Sitorus

Patujolo
Sian perspektif ni sejarah tung mansai maol do mandapothon sada pembuktian positif laho patoranghon latar belakang ni ompunta si Raja Hasibuan dohot angka pinomparna. Ala na so adong bukti-bukti otentik na boi bahenonnta mendukung angka barita na ta boto tarsingot di jujur ngolu ni Si Raja Hasibuan dohot anak nang boruna. Alai sian perspektif legenda manang turi-turian, tong-tong na boi do bahenonnta laho mangantusi jujur ngolu ni ompunta si Raja Hasibuan secara garis besar. Jala adong do maragam turi-turian na sanga ta bege manang ta jaha tarsingot ni Ompunta Si Raja Hasibuan. Baik na ta dapothon sian poda ni angka natua-tua, manang na boi ta jaha di buku-buku dohot internet na adong nuaeng on.

Adong do marragam turi-turian ta boto, jala sian angka turi-turian i, adong do sada benang merah na boi buanhononta laho mangantusi jujur ngolu ni Ompunta Si Raja Hasibuan. Sian benang merah (Garis besar) ni angka turi-turian i ma na hu pangke hami laho manurathon Jujur ngolu ni Ompunta si Raja Hasibuan.

SI RAJA HASIBUAN Dan Marga-Marga Turunannya

Jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hasibuan berada pada keturunan (sundut) kedelapan : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan.

Dalam silsilah masyarakat suku batak (dalam struktur tarombo) bahwa si Raja Hasibuan adalah keturunan dari si Raja Sobu, si Raja Sobu yang hidup pada abad xv atau sekitar tahun 1455 adalah keturunan ke V dari si Raja Batak, ayahnya bernama Tuan Sorbadibanua anak dari istrinya yang ke dua bernama si Boru Basopaet (Putri Mojopahit).

RAJA SIHUBIL Dan Marga-Marga Keturunannya

Tiga cucu langsung Tuan Sihubil adalah Raja Mataniari, Raja ni Apul, serta Raja Siboro. Dewasa ini keturunannya menggunakan marga Tampubolon, Silaen, dan Baringbing, serta sebutan tambahan yang menyertai marga. Seperti halnya percabangan pohon, marga-marga itu seringkali masih mencirikan asal usulnya.

Belum diketahui sekitar tahun berapa masing-masing marga mulai digunakan. Akan tetapi secara umum dalam masyarakat Batak, pendirian marga adalah urusan besar yang sangat serius. Keinginan ini mengharuskan kesepakatan bersama, serta bermacam upacara rituil Batak kuno. Upacara-upacara itu dilarang pemerintah Hindia Belanda, serta sangat ditentang agama Kristen dan Islam yang dianut kemudian. Pada abad ke 20 tidak ada lagi marga baru yang muncul.

Tanpa bermaksud menghalangi kebebasan pribadi, Tarombo On-line menambahkan marga dibelakang nama para keturunan Tuan Sihubil. Semua marga dianggap mulai digunakan pada generasi 10 setelah Tuan Sihubil.

Lomba Gondang Naposo Meriahkan Horas Samosir Fiesta III Tahun 2011.

Perlombaan Gondang Naposo di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, bertujuan memeriahkan penyelenggaraan Horas Samosir Fiesta III Tahun 2011.

“Gondang Naposo (Tarian anak muda diiringi kendang, red.) merupakan ajang menggali dan mengangkat seni budaya dalam suatu konsep yang baik dan tepat,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kabupaten Samosir, Theodora Sihotang, di Pangururan, Selasa.

Ia menjelaskan, kegiatan itu juga bermanfaat menggali dan mengangkat legenda, serta seni budaya setempat yang menjadi salah satu modal penting untuk promosi wisata di kawasan tersebut.
Sebab, katanya, even tersebut dapat mempromosikan pariwisata melalui pembinaan generasi muda.

Mereka, katanya, dapat mengembangkan wawasan dan melatih kecakapan berbagai unsur seni, sekaligus meningkatkan program pemasaran lewat tampilan lomba seni budaya.




Ia mengatakan, perlombaan tersebut diikuti peserta berasal dari Kecamatan Harian, Sianjur Mulamula, dan Sitiotio yang dikategorikan dalam wilayah III dirangkaikan dengan kegiatan Horas Samosir Fiesta III Tahun 2011.

Lomba tersebut diikuti sembilan grup dengan masing-masing personel sebanyak 26 orang, berasal dari kelompok Karang Taruna tiga kecamatan itu.

Ia mengatakan, dewan juri dipilih dari pelaku seni budaya di wilayah setempat yakni O. Naibaho, Marlina Simbolon, dan Zico Harianja.

Ia mengharapkan, melalui Gondang Naposo anak-anak remaja dan anggota Karang Taruna bisa semakin terampil dalam mengembangkan berbagai unsur seni budaya yang memiliki rasa cinta dan bangga terhadap kekayaan nilai seni budaya Batak.

Bupati Samosir, Mangindar Simbolon, menyebutkan, sebagai orang Batak harus bangga terhadap warisan seni budaya.

Masyarakat, katanya, harus melestarikan dan mengembangkan tradisi seni budayanya.

“Suku Batak memiliki unsur seni budaya, aksara, bahasa, dan tatanan hukum adat sehingga layak disebut sebagai ‘Bangso Batak’,” katanya.

Ia mengatakan, Horas Samosir Fiesta sangat mendukung pencapaian visi Kabupaten Samosir sebagai daerah tujuan wisata lingkungan yang inovatif pada 2015 melalui merevitalisasi seni budaya Batak.

Pada masa mendatang, katanya, Samosir dapat menjadi acuan seni budaya Batak.

Ia mengatakan, zaman dulu, Gondang Naposo identik dengan sarana komunikasi, media mencari jodoh pemuda dengan pemudi Batak.

Saat ini, katanya, di samping sebagai ajang komunikasi, keberadaan Gondang Naposo juga ajang pelestarian dan menggali seni budaya Batak untuk diteruskan kepada generasi muda.

Kegiatan tersebut dibagi dalam tiga wilayah dengan maksud agar dapat dinikmati seluruh masyarakat secara menarik.

“Kita juga menyadari bahwa seni budaya ‘tari tortor’ bukanlah hanya sebagai warisan budaya, tapi sudah menjadi salah satu aktivitas bagi masyarakat Batak yang tidak terlepas dari kegiatan adat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mangindar.

ANTARA Sumut


DR. Ferdinand Lumban Tobing, Dokter Pejuang Masa Revolusi

Sebagai pemimpin militer dengan jabatan Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan pada awal revolusi, dr. Ferdinand Lumban Tobing turun memimpin perjuangan gerilya di hutan-hutan.

Ferdinand Lumban Tobing adalah seorang pejuang kemerdekaan yang berlatar belakang profesi dokter. Ketidaksenangannya terhadap kolonial yang sudah lama tersimpan dalam hati Ferdinand mencapai puncaknya tatkala Ferdinand melihat penderitaan saudara sebangsanya diperlakukan tidak manusiawi di zaman kerja paksa (romusha) yang diberlakukan pemerintah pendudukan Jepang. Saat itu ia protes terhadap pemerintah pendudukan Jepang, protes yang mengakibatkan dirinya menjadi target pembunuhan tentara Jepang.

Dalam sejarah perjuangannya, putra bangsa kelahiran Tapanuli ini lebih banyak tercatat pada zaman pendudukan Jepang dan zaman revolusi kemerdekaan, yakni perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda merebut kembali Republik Indonesia, peristiwa yang lebih sering dikenal dengan istilah Agresi Militer Belanda.

Ferdinand Lumban Tobing dilahirkan di Sibuluan, Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 19 Februari 1899. Namun, berhubung keluarganya pindah ke Pulau Jawa, masa remaja pun dilalui Ferdinand di Pulau Jawa. Bahkan, pendidikan dasar pun dijalani dan diselesaikannya di Depok, Bogor, Jawa Barat.

Selepas sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan Sekolah Dokter di Jakarta yang di zaman kolonial Belanda benama STOVIA. Setamat dari STOVIA pada tahun 1924, ia bekerja sebagai dokter bagian penyakit menular di rumah sakit CBZ, sekarang bernama Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Selama menjalani profesi sebagai dokter, Ferdinand sering dipindah-pindah. Beberapa tahun bekerja di RSCM, ia kemudian dipindahkan ke Tenggarong, Kalimantan Timur. Dari Tenggarong ia kemudian dipindah ke Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, beliau menjalani tugas sampai tahun 1935 sebelum kemudian dipindahkan lagi ke daerah Tapanuli, tanah kelahirannya. Di daerah Tapanuli sendiri beliau pertama-tama ditempatkan di Padang Sidempuan, kemudian dipindahkan ke Sibolga.

Bersamaan saat Ferdinand bertugas di Sibolga, Perang Dunia II sedang berkobar. Di Indonesia sendiri, pasukan pendudukan Belanda mengalami kekalahan dari pasukan Jepang. Sehingga, bangsa Indonesia yang tadinya merupakan koloni Belanda kemudian digantikan oleh Jepang.

Sesuai pengakuan Jepang sebelumnya, sebagai sesama Asia mereka datang menolong bangsa Indonesia mengusir pasukan Belanda yang notabene berkulit putih alias Eropa, maka di awal kemenangan Jepang, rakyat Indonesia juga merasa senang dengan kemenangan tersebut dan berpikir telah terbebas dari penjajahan. Namun kemerdekaan yang diimpikan rupanya hanya sebuah fatamorgana. Ucapan Jepang hanyalah omong kosong.

Jepang ternyata tidak berbeda dengan bangsa Belanda maupun bangsa imperialis lainnya, ingin menguasai bangsa Indonesia. Bahkan, kekejaman tentara Jepang melebihi tentara Belanda. Semua pria dewasa diwajibkan romusha, yakni kerja paksa untuk mengerjakan pembukaan jalan, membuat benteng dan lain-lain tanpa diupah. Hasil pertanian dan ternak rakyat dirampas dengan paksa tanpa ganti rugi. Barang siapa yang tidak menuruti perintah dihukum penjara, kerja paksa, dibuang, bahkan dibunuh atau hukuman mati.

Di era pendudukan Jepang ini, dokter Ferdinand Lumban Tobing bertugas sebagai dokter pengawas kesehatan romusha. Karena itu, ia menyaksikan dengan jelas bagaimana para romusha (pekerja paksa) - yang ketika itu membuat benteng di Teluk Sibolga - diperlakukan tidak manusiawi oleh tentara Jepang. Dengan perasaan sedih beliau seakan dipaksa menonton kesengsaraan yang dialami saudara-saudara sebangsanya sendiri. Hatinya tidak sanggup menerima. Beliau pun melancarkan protes terhadap pemerintah Jepang. Namun akibatnya, beliau dicurigai dan menjadi salah seorang terpelajar Tapanuli yang menjadi target yang akan dibunuh Jepang.

Sebagai dokter, beliau seorang profesional murni. Hatinya tidak sanggup membiarkan orang yang sedang membutuhkan keahliannya menderita, sekalipun itu orang yang tidak disukainya. Maka tatkala seorang tentara Jepang jatuh dari kendaraan, dokter Ferdinand ini pun menyelamatkan nyawa tentara tersebut dengan mengobatinya semaksimal mungkin hingga sembuh. Melihat pertolongan yang diberikannya, tentara Jepang pun mengurungkan niat mengejar dan membunuh Ferdinand.

Di pentas politik, dokter Ferdinand termasuk seorang yang berhasil. Pada tahun 1943 saat masih di zaman pendudukan Jepang, beliau sudah diangkat menjadi Ketua Syu Sangi Kai (Dewan Perwakilan Daerah) Tapanuli, di samping sebagai anggota Cuo Sangi In.

Pada tahun 1945, sejarah dunia tercatat, Perang Dunia kedua berakhir. Jepang menyerah kepada pasukan sekutu. Dengan demikian, pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia pun dipaksa meninggalkan tanah Indonesia. Kesempatan emas tersebut tidak disia-siakan para pemimpin bangsa Indonesia, kemerdekaan Indonesia pun diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Di awal kemerdekaan ini, Ferdinand Lumban Tobing diangkat jadi Residen Tapanuli, sejak bulan Oktober 1945.

Namun sebagaimana tercatat dalam sejarah, Pemerintah Kerajaan Belanda tidak mengakui kemerdekaan Republik Indonesia yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 tersebut. Mereka masih berusaha merebut kembali Indonesia yang sebelumnya merupakan daerah jajahannya dengan melancarkan serangan-serangan militer yang lebih dikenal dengan istilah Agresi Militer I dan II Belanda.

Pada awal revolusi inilah perjuangan Ferdinand semakin nyata dalam mempertahankan kemerdekaan negeri yang sangat dicintainya. Sebagai seorang Residen, beliau ketika itu benar-benar menghadapi suatu situasi yang sangat sulit. Beliau harus menyaksikan dan membiarkan putra-putra daerah keresidenannya, Tapanuli berperang bersabung nyawa melawan saudara sebangsanya sendiri dari Sumatera Timur. Ketika itu, daerah Sumatera Timur yang sebelumnya telah jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer I Belanda, maju memerangi Tapanuli.

Kecintaan akan kemerdekaan negerinya ditambah pendirian yang teguh, tegas dan tak mudah digertak menjadi modal perjuangan Ferdinand Lumban Tobing. Dengan semangat perjuangan yang berkobar dan tak takut mati, maka pada Agresi Militer II Belanda, dengan tanpa ragu sedikitpun Ferdinand bersedia diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan. Dan sebagai pemimpin militer, ia pun harus turun di barisan depan, memimpin perjuangan gerilya di hutan-hutan, naik gunung turun gunung.

Perjuangan ternyata tidak sia-sia, berkat perjuangan seluruh bangsa Indonesia di pusat maupun di daerah, baik yang berjuang di bidang politik, diplomatik, pendidikan, angkat senjata maupun cara lainnya, akhirnya kedaulatan Republik Indonesia diakui oleh dunia internasional. Pasca pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, dr. Ferdinand Lumban Tobing ditawari menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Utara tapi ditolak oleh Ferdinand. Namun pada Kabinet Ali I (Juli 1953-Juli 1955) ia bersedia menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan (ad interim). Kemudian, ia juga pernah menjadi Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah, dan terakhir menjabat Menteri Negara Urusan Transmigrasi.

Pada usia 63 tahun, tepatnya pada 7 Oktober 1962, beliau meninggal dunia di Jakarta. Sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, beliau layaknya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tapi atas permintaan keluarga, jenazahnya dimakamkan di tanah kelahirannya di Kolang, Sibolga.

Dr. Ferdinand Lumban Tobing dikagumi dan dikenang banyak orang karena perhatiannya yang sangat besar terhadap orang kecil, seperti para romusha di zaman pendudukan Jepang. Dalam membela dan berbuat baik kepada orang kecil tersebut, terlihat bahwa dr Ferdinand tanpa pamrih.

Mengingat jasa-jasa dr. Ferdinand Lumban Tobing dalam perjuangan kemerdekaan, maka atas nama negara, pemerintah menganugerahkan gelar kehormatan kepada beliau sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan tersebut disahkan dengan SK Presiden Republik Indonesia No.361 Tahun 1962, tanggal 17 Nopember 1962.

Referensi : http://www.tokohindonesia.com/

GURBENUR SUMATERA UTARA:
1. Sutan Muhammad Amin Nasution (18 Juni 1948 - 1 Desember 1948)
2. Ferdinand Lumbantobing (1 Desember 1948 - 31 Januari 1950)
3. Sarimin Reksodiharjo (14 Agustus 1950 - 25 Januari 1951)
4. Abdul Hakim (25 Januari 1951 - 23 Oktober 1953)
5. Sutan Muhammad Amin Nasution (23 Oktober 1953 - 12 Maret 1956)
6. Sutan Kumala Pontas (18 Maret 1956 - 1 April 1960)
7. Raja Djundjungan Lubis (1 April 1960 - 5 April 1963)
8. Eny Karim (8 April 1963 - 15 Juli 1963)
9. Ulung Sitepu (15 Juli 1963 - 16 November 1965)
10. PR. Telaumbanua (16 November 1965 - 31 Maret 1967)
11. Marah Halim Harahap ( 31 Maret 1967 - 12 Juni 1978)
12. Edward Waldemar Pahala Tambunan (12 Juni 1978 - 13 Juni 1983)
13. Kaharuddin Nasution (13 Juni 1983 - 13 Juni 1988)
14. Raja Inal Siregar (13 Juni 1988 - 15 Juni 1998)
15. Tengku Rizal Nurdin (15 Juni 1998 -5 September 2005)
16. Rudolf Pardede (10 Maret 2006 - 16 Juni 2008)
17. Syamsul Arifin (16 Juni 2008 - sekarang)


MYCULTURED

TOKOH BATAK

  • Tillo Tillo

  • Unang Alani Arta

  • Uju Dingolu Hon Ma Nian

  • Aek Sibundong

  • Tudos Tu Bulung Motung

  • Taridem Idem

  • Aut Boi Ilu Makkatai

  • Ala Tipang

  • Sutan Muhammad Amin Nasution Gubernur Sumut Pertama

    Sejarah Sumatera Utara
    Sumatera Utara lahir tanggal 15 April 1948 dengan wilayah mencakup tiga keresidenan, yaitu, Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Ibu kotanya waktu itu belum di Medan, melainkan di Kutaraja, sekarang Banda Aceh. Gubernur Sumatera Utara yang pertama dijabat oleh Mr. S.M. Amin.

    Berdasarkan penemuan arkeologi, Sumatera Utara diketahui dihuni sejak zaman Mesolitikum. Penghuninya disebut sebagai orang Austro Melanesoid, banyak mendiami daerah muara sungai. Pada tahun 2000 SM, Sumatera Utara mulai dihuni oleh orang Proto Melayu dan kemudian dihuni pula oleh orang Deutro Melayu yang berasal dari daerah bagian selatan Cina.

    Pada awal tarikh Masehi, penghuni Sumatera Utara sudah menjalin hubungan dagang dengan orang-orang dari India dan Cina. Sekitar tahun 775 Masehi, Sumatera Utara termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Pemerintahan dengan system Kerajaan di Sumatera Utara muncul pada abad 15, yaitu dengan munculnya Kerajaan Nagur, Aru, Panai, dan Batangiou. Pada suatu ketika, terjadi peperangan antara Kerajaan Nagur dan Kerajaa Batangiou yang dimenangkan oleh Kerajaan Nagur. Karena kemenangan dalam peperangan tersebut, Kerajaan Nagur menjadi penguasa seluruh Simalungun.

    Pada abad 16, di Tapanuli muncul suatu kerajaan yang didirikan oleh keturunan Sisingamangaraja, yaitu Kerajaan Batak. Kerajaan ini kemudian mencakup seluruh Tapanuli, sampai ke Angloka, Mandailing, dan Dairi. Sementara itu, di daerah pesisir timur Sumatera Utara terdapat sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Aru. Wilayahnya meliputi daerah yang sangat luas, dari perbatasan Aceh sampai ke muara sungai Barumun, meliputi daerah Langkat, Deli Serdang, Asahan, dan Labuhan Batu.

    Ketiga kerajaan di atas, yaitu, Nagur, Batak, dan Aru terus menerus terlibat persaingan memperebutkan hegemoni di wilayah Sumatera Utara. Kekuasaan Kerajaan Nagur semakin luas, meliputi daerah pedalaman Asahan, Serdang Hulu, Tanah Karo sampai ke daerah Gayo atas, meliputi seluruh daerah pedalaman bagian utara Sumatera Utara. Sementara itu Kerajaan Batak (Sisingamangaraja) memperluah pengaruhnya ke seluruh Tapanuli, beberapa daerah di tanah Karo, bahkan kemudian merebut wilayah Simalungun yang sebelumnya di bawah kekuasaan Kerajaan Nagur. Sedangkan Kerajaan Aru, ketika itu mendapat ancaman dari tiga kekuasaan bedar di Selat Malaka, yaitu, Aceh, Portugis, dan Johor. Untuk menghindari ancaman itu, pusat Kerajaan Aru dipindah ke daerah pedalaman, yaitu di Deli Tua, sekarang wilayahnya sekitar sepuluh kilometer dari Medan.

    Pengaruh Aceh ke Sumatera Utara masuk pada abad 17. Seorang Panglima Aceh bernama Gocah Pahlawan dating ke Deli Tua dan menikah dengan putrid Wan Baluan dari Sunggal. Gocah Pahlawan inilah yang menurunkan raja-raja Deli dan raja-raja Serdang. Pada tahun 1669, beberapa daerah pesisir timur Sumatera Utara direbut oleh Siak. Siak kemudian menyusun pemerintahan berdasarkan aturan Minangkabau.

    Pada abad 19, pengaruh Belanda mulai masuk. pada tanggal 1 Februari 1859, Siak menandatangani penjanjian penting dengan Belanda. Isinya adalah pengakuan dari penguasa Siak bahwa daerahnya termasuk dalam kekuasaan Belanda. Belanda juga diizinkan membangun pangkalan di Bengkalis dan daerah yang yang dirasa perlu. Belanda juga diizinkan, bila perlu, mengutip pajak di daerah-daerah kekuasaan Siak.

    Belanda kemudian mengangkat seorang Asisten Residen di Siak. Kekuasaan Belanda ketika itu meliputi seluruh daerah jajahan Siak, yaitu daerah pesisir timur Sumatera. Sementara itu, di wilayah pesisir barat Sumatera Utara, kekuasaan Belanda mulai masuk sejak berakhirnya perang Paderi di Sumatera Barat. Untuk wilayah tanah batak pedalaman, cengkraman kekuasaan Belanda ditandai dengan adanya "perjanjian tembaga". Penjanjian tersebut berisi permintaan bantuan raja Gedombang dari Mandailing terhadap Belanda untuk menghadapi Paderi. Dengan adanya perjanjian tersebut, Belanda mulai menancapkan pengaruhnya di pedalaman Sumatera Utara. Selain itu, Belanda juga menyerang dan memduduki Pulau Nias pada tahun 1863.

    Pada tahun 1834, Belanda mendirikan Keresidenan Tapanuli. Pusat keresidenan berada di Sibolga dan menguasai empat daerah afdeling, yaitu, Sibolga en Omstreken, Angkola en Sipirok, Batakladen, dan Nias. Pada tanggal 1 Maret 1887, Belanda membentuk keresidenan di daerah Sumatera Timur. Keresidenan Sumatera Timur berpusat di Medan, terdiri atas empat daerah afdeling, yaitu, Deli Serdang, Simalungun dan Karolanden, Langkat, dan Asahan.

    Perluasan kekuasaan Belanda itu, banyak menimbulkan perlawanan rakyat. Namun, semua perlawanan tersebut tidak diorganisir dengan baik dan selalu dalam kekuatan yang kecil sehingga Belanda dapat meredam semua perlawanan tersebut. Perlawanan sengit baru terlihat ketika Belanda memperluas kekuasaannya ke daerah pedalaman, yaitu, tanah Batak. Perlawanan dipimpin oleh Sisingamangaraja XII. Perlawanan tersebut tersebar luas, selain di Toba, juga mencapai daerah kekuasaan Sisingamangaraja lainnya seperti Aceh Tenggara, Dairi, Pakpak, Karo, Simalungun, dan Toba sebelah selatan. Perlawanan Sisingamangaraja berlangsung 30 tahun, yaitu dari tahun 1877 sampai 1907. Setelah mematahkan perlawanan Sisingamangaraja ini, berarti Belanda sudah menguasai Sumatera Utara secara penuh.

    Perlawanan terhadap Belanda mulai muncul kembali pada awal abad 20. Kali ini pergerakan lebih secara politik dan digerakan oleh tokoh-tokoh yang berpendidikan seperti Tan Malaka, Dr. Pirngadi dan Adenan Nur Lubis. Pada saat itu, banyak bermunculan organisasi-organisasi politik yang sebagian diantaranya merupakan cabang dari organisai yang berpusat di Jakarta. Mereka adalah Syarikat Ilam, PNI, Gerindo, Partindo, Al Jami'atul Washliyah, NU, Muhammadiyah, dan organiasi-organiasi pergerakan lain.

    Di Tapanuli terdapat pula organisasi keagamaan, khususnya gerejani yang masuk ke daerah ini sejak abad 19. Pengaruh nasionalisme mulai terasa dalam gereja sekitar tahun 1930. Sejumlah orang Batak yang tergabung dalam perkumpulan Hatopan Kristen Batak mengkritik gereja yang masih dipimpin oleh bangsa asing.

    Pada tanggal 13 Maret 1942, Tentara Jepang memasuki Medan. Mereka kemudian menduduki Mesjid Raya untuk dijadikan benteng. Dalam waktu ingkat, pasukan Jepang dapat menduduki kota-kota penting di Sumatera Utara. Raja-raja di Sumatera Utara kemudian diperintah untuk membantu pelaksanaan berbagai kebijakan pemerintah Jepang. Jepang memerintah di Sumatera Utara secara sewenang-wenang, dan menyengsarakan rakyat. Diantara kebijakan yang menyengsarakan rakyat adalah Romusha. Romusha bertujuan memobilisasi seluruh rakyat untuk membantu Jepang dalam pembangunan pertahanan di kawasan Asia Tenggara. Banyak diantara para romusha ini dikirim ke luar negeri seperti Birma, Thailand dan tempat lain untuk dipekerjakan secara paksa dan tidak manusiawi.

    Dua hari setelah Jepang menyerah kepada sekutu, yaitu pada17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Di awal kemerdekaan ini, Sumatera Utara termasuk dalam wilayah provinsi Sumatera. Seperti diuraikan di atas, pada tanggal 15 April 1948, Sumatera Utara terbentuk dengan wilayah mencakup tiga keresidenan, yaitu, Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.

    Pada tanggal 3 Oktober 1945, Dr. F. Lumbantobing diangkat sebagai residen Tapanuli. Selanjutnya dilakukan pembentukan KNI di seluruh wilayah yang disertai dengan pembentukan Pemuda Republik Indonesia (PRI). Dalam memperingati tiga bulan proklamasi kemerdekaan, tapatnya tanggal 17 Oktober 1945, di Tarutung dilakukan rapat umum yang dihariri oleh seluruh rakyat setempat. Dalam kesempatan itu, rakyat mengucapkan ikrar setia kepada pemerintah Republik Indonesia.

    Pada era RIS, identitas Sumatera Utara hilang karena wilayahnya masuk dalam Negara Sumatera Timur. Pada tanggal 15 Agustus 1950, pasca kembalinya RI dari bentuk RIS ke NKRI, provinsi Sumatera Utara kembali terbentuk dengan wilayah mencakup tiga keresidenan, yaitu, Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli dengan Medan ditetapkan sebagai Ibukotanya. Gubernur definitif pertamanya adalah A. Hakim yang kemudian pada tahun 1953 diganti oleh Mr. S.M. Amin. Pada tahun 1956, Aceh berdiri sendiri sebagai provinsi, dengan demikian wilayah Sumatera Utara hanya mencakup wilayah Sumatera Timur dan Tapanuli. Kondisi wilayah ini tetap sampai sekarang. Pada tahun 1956 ini SM. Amin diganti oleh St. Kumala Pontas yang menjabat gubernur sampai tahun 1960.

    Sampai awal terbentuknya rezim Orde Baru, Sumatera Utara masih disibukan dengan konflik-konflik baik vertical ataupu horizontal. Akibat konflik tersebut, empat gubernur berikutnya tidak bisa melakukan pembangunan. Mereka adalah Raja Junjungan Lubis (1960-1963), Eny Karim (1963-1963), Ulung Sitepu (1963-1965), dan P.R. Telaumbanua (1965-1967). Pembangunan daerah baru bias dilakukan di era Orde Baru. Gubernur yang menjabat pertama di era Orde Baru adalah Brigjen Marah Halim Harahap (1967-1978). Gubernur berikutnya adalah Mayjen E.W.P. Tambunan (1978-1983), Mayjen Kaharuddin Nasution (1983-1988), Mayjen Raja Inal Siregar (1988-1998), Mayjen Teungku Rizal Nurdin (1998-2005), Rudolf Pardede (2005-2008), dan Syamsul Arifin (2008-2013).

    Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution
    Krueng Raba Nasution

    Mr SM Amin alias Mr Sutan Muhamad Amin dengan nama kecil Krueng Raba Nasution, lahir di Lho’ Nga (Aceh) pada 22 Pebruari 1904. Dilahirkan oleh seorang ibu bernama Siti Mardiah asal Batang Natal Mandailing, dan ayah bernama Muhamad Taif gelar Raja Aminudin berasal dari kampung Pidoli Dolok, Penyabungan

    ☐ Masa Kanak-kanak (1915-1919)
    ■ Solok (1915-1916) ■ Sibolga (1916-1927) ■ Tanjung Pinang (1918-1919)
    ☐ MASA PEMUDA (1919-1933)
    ■ Murid MULO/Pasar Baru (1921-1924)
    ■ Yogyakarta (1924-1927) ■ Batavia Centrum (1927-1933)
    ☐ MASA DEWASA (1934-1962)
    ■ Di Kutaraja (1934-1941) ■ Di Jakarta (1951-1953) ■ Masa di Jakarta (1956-1948)
    ■ Di Tanjung Pinang/Riau (1958-1960) ■ Di Jakarta (1960-1962)
    ☐ ■ Di Jakarta (1962-1984)
    * http://mistersmamin.blogspot.com)

    GURBENUR SUMATERA UTARA:
    1. Sutan Muhammad Amin Nasution (18 Juni 1948 - 1 Desember 1948)
    2. Ferdinand Lumbantobing (1 Desember 1948 - 31 Januari 1950)
    3. Sarimin Reksodiharjo (14 Agustus 1950 - 25 Januari 1951)
    4. Abdul Hakim (25 Januari 1951 - 23 Oktober 1953)
    5. Sutan Muhammad Amin Nasution (23 Oktober 1953 - 12 Maret 1956)
    6. Sutan Kumala Pontas (18 Maret 1956 - 1 April 1960)
    7. Raja Djundjungan Lubis (1 April 1960 - 5 April 1963)
    8. Eny Karim (8 April 1963 - 15 Juli 1963)
    9. Ulung Sitepu (15 Juli 1963 - 16 November 1965)
    10. PR. Telaumbanua (16 November 1965 - 31 Maret 1967)
    11. Marah Halim Harahap ( 31 Maret 1967 - 12 Juni 1978)
    12. Edward Waldemar Pahala Tambunan (12 Juni 1978 - 13 Juni 1983)
    13. Kaharuddin Nasution (13 Juni 1983 - 13 Juni 1988)
    14. Raja Inal Siregar (13 Juni 1988 - 15 Juni 1998)
    15. Tengku Rizal Nurdin (15 Juni 1998 -5 September 2005)
    16. Rudolf Pardede (10 Maret 2006 - 16 Juni 2008)
    17. Syamsul Arifin (16 Juni 2008 - sekarang)


    MYCULTURED

    TOKOH BATAK


    Sutan Muhammad Amin Nasution Tokoh Sumpah Pemuda Sumatera

    Sejarah Sumatera UtaraAda sejumlah pemuda yang menjadi tokoh penting di balik peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Salah satunya adalah Kroeng Raba Nasution atau lebih dikenal dengan nama Mr SM Amin.

    "Dia adalah anggota Komite 9 bersama Muhammad Yamin. Di masa setelah kemerdekaan, dia adalah gubernur pertama Sumut, Aceh dan Riau," kata Ichwan Azhari, dosen Jurusan Sejarah, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Senin (26/10).

    Ia menambahkan, sepanjang hidupnya SM Amin telah memperlihatkan nilai kejuangan, patrotisme, pemikiran, dan kepribadian yang luar biasa untuk memperjuangkan Indonesia yang bersatu dan berdaulat.

    "SM Amin merupakan tokoh besar yang, jika mengacu ke konsep pahlawan nasional pemerintah Indonesia, layak diusulkan menjadi pahlawan nasional. Bahkan SM Amin tidak hanya tokoh yang penting untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional, tapi yang lebih penting lagi, bagaimana tokoh besar ini dapat dipelajari sehingga bisa menjadi bagian dari memori yang hidup bagi masyarakat Sumatera Utara, Aceh dan Riau. Ini mengingat di tiga provinsi inilah beliau pernah berkiprah sebagai gubernur di masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia," tandas Ichwan.

    Ichwan Azhari menyebutkan, sejak menjadi mahasiswa, SM Amin aktif dalam kegiatan perjuangan berdirinya negara Indonesia. Dia juga ikut dalam komite gerakan Indonesia Muda yang berhasil melebur organisasi-organisasi pemuda kedaerahan/kesukuan menjadi perhimpunan yang mengutamakan keindonesiaan, hingga lahir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

    Setamat kuliah sebagai sarjana hukum (Mr./ Meester in de Rechten), S M Amin tidak bersedia menjadi pegawai negeri yang mengabdi pada kepentingan pemerintah Belanda, walau dengan gelar itu sangat terbuka untuk menjadi kaya secara finansial dan sangat dibutuhkan memperkuat instrumen pemerintah Belanda. "Sebaliknya, dia berprofesi sebagai pengacara untuk menegakkan keadilan dan tinggal di daerah yang penuh gejolak di Kutaradja (Banda Aceh). Sebuah sikap keteladanan yang dapat dicitrakan sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim kolonialisme," tutur Ichwan.

    Pada masa pendudukan Jepang, S M Amin bekerja sebagai Direktur Sekolah Menengah di Kutaradja (Banda Aceh) yang berhasil merangsang tumbuhnya kader-kader berjiwa nasional.

    Ichwan menjelaskan, setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, dalam kedudukannya sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara, S M Amin terus melakukan perlawanan kepada Belanda, baik pada agresi militer Belanda I maupun II. "Akibat keberaniannya melawan Belanda, dia pun ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara," ujarnya.

    SM Amin juga ikut berjuang tegaknya negara dalam jalur diplomatik dimana beliau dilibatkan dalam perundingan Linggarjati antara Republik Indonesia dan pemerintah Belanda.

    Ichwan mengatakan, SM Amin juga merupakan tokoh integrasi. Semasa menjadi Gubernur Sumatera Utara, dia ditugaskan untuk menyelesaikan konflik serta perlawanan daerah Aceh terhadap pemerintah pusat. Dia dianggap mempunyai kemampuan dan dianggap sangat berjasa karena berhasil menyelesaikan ancaman desintegrasi bangsa di Aceh melalui pendekatan perundingan dan negosiasi," papar Ichwan.

    Hal lain yang juga tidak boleh dilupakan, kata Ichwan, S M Amin juga menghasilkan karya pemikiran di bidang hukum dan politik yang pada zamannya menjadi sumber inspirasi tetap tegaknya negara Indonesia. "Sampai saat ini karya-karya pemikirannya yang tertuang dalam berbagai pidato, tulisan di surat kabar, majalah dan lebih 12 buah buku merupakan bukti jasanya dibidang pemikiran yang luar biasa, yang jika dipelajari sangat bermanfaat untuk mengatasi berbagai krisis ideologis, hukum dan politik di Indonesia saat ini maupun di masa depan," ungkap Ichwan Azhari. (OL-7)

    Sumber: http://www.mediaindonesia.com

    Mr. Sutan Muhammad Amin Nasution
    Krueng Raba Nasution

    ☐ Masa Kanak-kanak (1915-1919)
    ■ Solok (1915-1916) ■ Sibolga (1916-1927) ■ Tanjung Pinang (1918-1919)
    ☐ MASA PEMUDA (1919-1933)
    ■ Murid MULO/Pasar Baru (1921-1924)
    ■ Yogyakarta (1924-1927) ■ Batavia Centrum (1927-1933)
    ☐ MASA DEWASA (1934-1962)
    ■ Di Kutaraja (1934-1941) ■ Di Jakarta (1951-1953) ■ Masa di Jakarta (1956-1948)
    ■ Di Tanjung Pinang/Riau (1958-1960) ■ Di Jakarta (1960-1962)
    ☐ ■ Di Jakarta (1962-1984)
    * http://mistersmamin.blogspot.com)

    GURBENUR SUMATERA UTARA:
    1. Sutan Muhammad Amin Nasution (18 Juni 1948 - 1 Desember 1948)
    2. Ferdinand Lumbantobing (1 Desember 1948 - 31 Januari 1950)
    3. Sarimin Reksodiharjo (14 Agustus 1950 - 25 Januari 1951)
    4. Abdul Hakim (25 Januari 1951 - 23 Oktober 1953)
    5. Sutan Muhammad Amin Nasution (23 Oktober 1953 - 12 Maret 1956)
    6. Sutan Kumala Pontas (18 Maret 1956 - 1 April 1960)
    7. Raja Djundjungan Lubis (1 April 1960 - 5 April 1963)
    8. Eny Karim (8 April 1963 - 15 Juli 1963)
    9. Ulung Sitepu (15 Juli 1963 - 16 November 1965)
    10. PR. Telaumbanua (16 November 1965 - 31 Maret 1967)
    11. Marah Halim Harahap ( 31 Maret 1967 - 12 Juni 1978)
    12. Edward Waldemar Pahala Tambunan (12 Juni 1978 - 13 Juni 1983)
    13. Kaharuddin Nasution (13 Juni 1983 - 13 Juni 1988)
    14. Raja Inal Siregar (13 Juni 1988 - 15 Juni 1998)
    15. Tengku Rizal Nurdin (15 Juni 1998 -5 September 2005)
    16. Rudolf Pardede (10 Maret 2006 - 16 Juni 2008)
    17. Syamsul Arifin (16 Juni 2008 - sekarang)


    MYCULTURED

    TOKOH BATAK


    Pemahaman Rumah Adat Suku Batak

    Suku Batak adalah salah satu suku di Indonesia yang banyak sekali tinggal di pulau Sumatera, namun saat ini keturunan suku Batak sudah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu ciri khas yang menarik adalah rumah adat suku Batak yang bentuknya sangat unik.

    Rumah adat suku Batak Toba disebut juga ‘rumah bolon’. Rumah ini berbentuk panggung dengan bahan utama bangunan berupa kayu. Hal yang paling menarik perhatian adalah bentuk atapnya yang melengkung dan runcing di tiap ujungnya.

    Di balik bentuknya yang sangat unik, ternyata rumah adat suku Batak ini memiliki makna dan arti tersendiri.Filosofi rumah adat suku batak memang sangat menarik untuk dipelajari, mulai dari proses pembangunan rumah sampai segala dekorasi, ternyata semuanya memiliki makna yang cukup dalam.

    Pembangunan Rumah Bolon

    Proses pembangunan rumah adat suku Batak selalu dilaksanakan secara gotong royong. Bahan yang digunakan adalah bahan yang dengan kualitas baik, umumnya seorang pande (tukang) akan memilih kayu-kayu dengan cara memukul kayu tersebut dengan suatu alat untuk mencari bunyi kayu yang nyaring.

    Pondasi rumah adalah hal yang terpenting, dibuat dengan formasi berbentuk segi empat, dipadu tiang dan dinding yang kuat. Makna dari pondasi ini sendiri adalah saling bekerja sama demi memikul beban yang berat.

    Untuk bagian atas rumah, ditopang oleh sebuah tiang yang biasa disebut tiang “ninggor” dibantu oleh kayu penopang yang lain. Tiang “ninggor” ini lurus dan tinggi, orang suku Batak memaknainya sebagai simbol kejujuran. Untuk menjunjung tinggi kejujuran, perlu didukung oleh rasa keadilan (disimbolkan oleh kayu penopang pada “ninggor”).

    Di bagian depan atap terdapat “arop-arop” bermakna harapan untuk bisa hidup layak. Lalu ada “songsong boltok” untuk menahan atap, yang punya arti bila ada pelayanan tuan rumah yang kurang baik sebaiknya dipendam dalam hati saja.

    Interior Rumah Adat Suku Batak

    Orang suku Batak selalu membersihkan ruangan rumah dengan cara menyapu semua kotoran dan mengeluarkannya lewat lubang “talaga” yang ada di dekat tungku masak. Hal ini juga bermakna untuk membuang segala keburukan di dalam rumah, juga melupakan kelakuan-kelakuan yang tidak baik.

    Di dalam rumah terdapat semacam rumah panggung kecil yang mirip balkon pada rumah biasa. Tempat ini untuk menyimpan padi, bermakna pula sebagai pengharapan untuk kelancaran rezeki.

    Di setiap rumah di bagian pintu masuk, selalu ada tangga. Bagi orang lain, bila ada tangga rumah rusak, mungkin akan mengeluh. Tapi bagi orang Batak, bila tangga rumah ini cepat rusak/aus, itu malah membanggakan. Karena itu artinya sering dipakai orang/dikunjungi orang karena tuan rumah tersebut adalah orang yang baik dan ramah.

    Gorga

    Gorga adalah pahatan/ukiran kayu yang ada pada rumah adat suku Batak. Hiasan ini sendiri memiliki nama-nama tersendiri berdasarkan bentuk ukirannya :

    * Gorga simataniari (matahari) : menggambarkan matahari yang merupakan sumber kehidupan manusia.

    * Gorga desa naualu : menggambarkan 8 penjuru mata angin yang sangat berkaitan erat dengan aktivitas ritual suku Batak

    * Gorga singa-singa : menggambarkan tuan rumah sebagai orang yang kuat, kokoh, pemberani dan berwibawa.

    Itu beberapa contoh nama gorga, masih cukup banyak nama gorga lainnya yang memiliki makna tertentu. Gorga sendiri sering dilukis dengan 3 warna :

    * Merah : melambangkan kecerdasan dan wawasan yang luas sehingga lahir kebijaksanaan.
    * Putih : melambangkan kejujuran yang tulus sehingga lahir kesucian.
    * Hitam : melambangkan kewibawaan yang melahirkan kepemimpinan.
    (Oleh: AnneAhira)

    Mengenal Lebih Dekat Rumah Adat Suku Batak

    Rumah adat suku Batak di Sumatera Utara ada yang dipasangi tanduk kerbau di pucuk atapnya, Hal ini melambangkan rumah sebagai “kerbau berdiri tegak”.

    Suku Batak menganggap rumah adat mereka sebagai kerbau yang sedang berdiri dan dinamakan Rumah Balai Batak Toba. Bentuk rumah adat suku Batak berupa rumah panggung.

    Selain sangat menghargai binatang kerbau, warga masyarakat Sumatera Utara sangat mencintai gotong royong dan kebersamaan. Misalnya, pada saat membangun rumah adat suku Batak, mereka melakukannya dengan bersama-sama.

    Bagian-bagian Rumah Adat Suku Batak

    1. Rumah adat suku Batak terdiri dari tiga bagian yang disebut tritunggal benua, yaitu:

    * atap rumah atau benua atas yang dipercaya sebagai tempat dewa.
    * lantai dan dinding atau benua tengah yang ditempati manusia.
    * kolong rumah atau benua bawah yang dipercaya sebagai sebagai tempat kematian.

    Pada zaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar. Untuk masuk ke dalam rumah harus menaiki tangga dari kolong rumah. Anak tangganya berjumlah lima sampai tujuh buah.

    2. Bagian rumah adat Batak berupa tiang biasanya dekat dengan pintu. Tiang ini memepunyai bentuk yang bulat panjang, yang dimaksudkan untuk menyangga bagian atas atau lantai dua.

    3. Balok digunakan untuk menghubungkan semua tiang yang disebut juga dengan rassang. Balok bentuknya lebih tebal daripada papan Balok ini bisa menyatukan tiang-tiang depan, belakang, samping kanan dan kiri rumah, dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku).

    4. Terdapat pintu di kolong rumah untuk jalan masuk kerbau supaya bisa masuk ke dalam kolong.

    5. Rumah adat suku Batak mempunyai atap rumah yang terbuat dari ijuk. Ijuk ini terdiri atas 3 lapisan. Tuham-tuham merupakan lapisan pertama, sedangkan lapisan kedua disebut lalubak dan kemudian dilanjutkan dengan lapisan ketiga.

    6. Tangga rumah adat suku Batak ada dua macam, yaitu:

    * Pertama adalah tangga jantan (balatuk tunggal). Tangan jantan terbuat dari beberapa potongan pohon. Jenis pohon yang bisa dijadikan tangga tidak sembarang. Pohon ini biasanya disebut sibagure, merupakan jenis pohon yang mempunyai batang kuat.
    * Kedua disebut tangga betina (balatuk boru-boru). Jenis tangga ini merupakan paduan beberapa potong kayu yang keras dan biasanya terdiri atas anak tangga dengan hitungan yang ganjil.

    Ciri Khas Rumah Adat Suku Batak

    Ada beberapa ciri khas yang dapat dijumpai pada rumah adat suku Batak. Diantaranya adalah

    * Bentuk bangunan merupakan perpaduan dari tiga macam hasil seni, yaitu seni pahat, seni ukir, serta hasil seni kerajinan.
    * Bentuk rumah adat dari suku Batak pada umumnya melambangkan “Kerbau berdiri tegak”.
    * Menghias bagian atap dengan tanduk kerbau.
    * Bangunan dibuat berdasarkan musyawarah dan saran-saran dari para orang tua.
    (Oleh: AnneAhira)

    Arti Batak : Penunggang Kuda

    Sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Phill Ichwan Azhari menyampaikan hasil penelitiannya di Jerman terkait etimologi (asal-usul kata) dan genealogi (asal-usul garis turunan) Batak. Simpulan Ichwan: Batak bukan berasal dari Batak sendiri, tapi dikonstruksi para musafir barat dan dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Benarkah demikian?

    Ilmuwan Batak yang juga Guru Besar Departemen Sejarah Unimed Prof Bungaran A Simanjuntak sedikit ‘gerah’ dengan publikasi Ichwan itu. Menurut Bungaran, tak perlu terlalu meyakini arsip-arsip di Jerman. “Belum tentu arsip-arsip di sana merupakan arsip yang valid, perlu dikonfirmasi ulang. Saya rasa kita tidak perlu terlalu menghebat-hebatkan arsip yang ada di sana,” katanya via telepon seluler, Kamis (18/11) lalu.

    Bungaran menegaskan, asal-usul nama etnik Batak merupakan hasil dari budaya maupun sejarah di Sumut. “Batak merupakan satu kata dari bahasa Batak sendiri yang artinya penunggang kuda. Dari sisi inilah nama Batak ini muncul. Nama ini sudah sejak lama ada,” katanya.

    Menurutnya, etnis Batak merupakan ras Mongolia Mansuria. “Awalnya kurang lebih 5000 tahun lalu, tentara Mongol berperang dengan bangsa Tar-tar, terpojok dan kemudian lari menuju Indonesia Bagian Timur melalui China. Para tentara Mongol ini pada saat itu mengendarai kuda, dan masyarakat di daerah Indonesia Bagian Timur (saat itu belum beretnis Batak) menamai tentara Mongol ini dengan ’Batak.’ Itulah awal nama etnik Batak,” tutur Bungaran.

    Bukan Hal Baru

    Bagi sebagian orang, hasil penelitian Ichwan itu mungkin mengejutkan. Tapi bagi sebagian lain, ini polemik yang sudah ‘basi’, sebab sudah sejak awal abad ke-20 pengertian dan asal kata Batak dipolemikkan. Sebutan atau perkataan Batak sebagai nama satu etnis di Indonesia, misalnya, sudah dibicarakan dalam beberapa penerbitan surat kabar pada tahun 1900-an. Sejumlah penulis ketika itu sudah berdebat, apa sesungguhnya pengertian kata (nama) Batak dan dari mana asal muasal kata itu?

    Di suratkabar Pewarta Deli No. 82 tahun 1919, misalnya, polemik terjadi antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J Simanjutak. Polemik yang sama terjadi di suratkabar keliling mingguan yang diterbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920.

    Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya tampil sebagai penengah di antara silang pendapat yang ada. JS mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda yang terbit tahun 1903, ada halaman 64 menulis: “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residentie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : oerang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan) kepada bangsa itoe…”

    Berdasarkan sejumlah referensi, umumnya kata Batak menyiratkan defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Menurut Ambrosius Hutabarat dalam catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938, pengertian Batak adalah orang yang mahir menaiki kuda, memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang berjiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan menghadapi bahaya/rintangan.

    Bahkan, salah seorang pemikir Batak ketika itu, Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis teori bahwa suku Batak adalah sai-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal-usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda (sekitar Asia Tenggara sekarang), masuk ke pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia.

    Drs DJ Gultom bahkan bersusah payah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak dengan membaca sejarah, legenda, mitologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.
    Beberapa perkataan “batak” antara lain ditemukan dalam hampir seluruh bahasa sub etnis Batak mulai Pak-pak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Toba, yang pada umumnya bermakna heroik, tidak negatif. Berbagai penjelasan itu disampaikan untuk meluruskan anggapan seolah-olah ‘Batak’ adalah suatu aliran/kepercayaan tentang suatu agama yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak ketika itu.

    Namun dalam pemeriksaan Ichwan terhadap arsip-arsip di Jerman, penelusuran data di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda, sama sekali tidak ada penjelasan tentang defenisi Batak sebagai penunggang kuda, yang kemudian diplesetkan sehingga menjadi sangat peyoratif terhadap identitas kebatakan.

    Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Tak mengherankan peneliti Batak asal Belanda bernama Van der Tuuk, pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan Batak untuk nama etnik karena imej negatif pada kata itu.

    “Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu,” katanya.

    Dalam peta-peta kuno itu, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat. kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

    Bermula dari Daniel Perret

    Menurut salah seorang pengamat Kebatakan, Thompson Hs, penelitian Ichwan Azhari itu terkait dengan isu tentang Batak yang dilontarkan Daniel Perret dalam bukunya berjudul Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Buku tersebut sudah diseminarkan oleh PUSSIS pimpinan Ichwan Azhari sendiri.
    Dalam buku Daniel Perret, semua istilah Batak dicatat dalam tanda petik dan identifikasi “batak” dalam setting kolonial waktu itu merupakan bagian dari dikotomi antara melayu yang dianggap beradab melalui kesultanan dan keislamannya dan posisi orang-orang “batak” yang belum menganut Islam yang dianggap stereotip dari orang-orang yang tidak beradab.

    “Peta dikotomi ini saya kira yang ingin diungkapkan kembali oleh Ichwan Azhari tanpa mengungkap posisi Melayu di Sumatera Utara. Kita tunggu saja sambungan penelitiannya,” ujar Thompson.

    Menurut Thompson, hasil penelitian Ichwan itu juga terkait dengan kepentingan isu Batak yang diperdebatkan lagi oleh sebagian orang Karo belakangan ini. Dalam sebuah diskusi di Padangbulan baru-baru ini, identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan muncul dari seorang antroplog Karo, Juara Ginting. Juara mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak disematkan pada suku Karo. Menurut Juara, tak ada kaitan antara Batak dengan Karo. Juara tak setuju jika Karo dianggap Batak, sebab Karo punya standar adat-istiadat yang mandiri. Kalaupun ada kemiripan tidak bisa langsung diklaim, harus dilihat dari banyak sisi.

    “Tentu saja orang Karo tidak harus menjadi Batak. Itulah mungkin dasar lain di samping argumen Juara Rimanta Ginting yang mengambil catatan-catatan lama secara umum. Lalu orang Toba sendiri juga bisa juga menganggap dirinya bukan orang Batak. Mamun masalahnya bukan di situ,” kata Thompson.

    Masyarakat Mandailing juga menolak disebut Batak. Sebab Mandailing sudah diketahui sejak abad ke-14, menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing. Nama Mandailing tercatat dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M.

    Tapi ‘Batak’ sama sekali tidak disebut dalam kitab tersebut. Nama Batak itu sendiri tidak diketahui asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun.

    Saat Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu, mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, tapi juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Belandalah yang kemudian membatakkan bangsa/umat Mandailing dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda.
    Kembali ke hasil penelitian Ichwan. Menurutnya, konsep Batak dari misionaris Jerman semula digunakan kelompok masyarakat di kawasan Tapanuli Utara, tapi lebih lanjut dipakai Belanda menguatkan cengekraman ideologi kolonial.
    Perlahan-lahan konsep Batak itu meluas dipakai Belanda termasuk sebagai pernyataan identitas oleh penduduk di luar daerah Toba. Peneliti Belanda kemudian merumuskan konsep sub suku batak dalam antropologi kolonial yang membagi etnik Batak dalam beberapa sub suku seperti sub suku Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun serta Batak Pak Pak.(Hariansumutpos-Panda MT Siallagan/saz)

    MYCULTURED



    Asal Usul Kata Batak bukan dari Batak


    Batak bukan dari Batak, tapi dikonstruksi para musafir Barat dan dikukuhkan misionaris Jerman . Kata Batak diambil para musafir dari penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan.

    Demikian Sejarahwan Unimed Phill Ichwan Azhari. Sejumlah referensi memang sangat minim menjelaskan makna Batak secara etimologi (asal-usul kata) dan genealogis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua lema tentang ’Batak’. Pertama, Batak berarti petualang, pengembara. Pembatak malah diberi arti perampok dan penyamun. Lema kedua, Batak disebut sebagai suku bangsa di Sumatera Utara.

    Eron Damanik mengatakan, nama Batak memang tidak terdapat secara jelas, tetapi beberapa istilah yang dicatat adalah seperti Batta; Batas, Bata, Batech, dll. Semua istilah ini merujuk kepada pemaknaan: Liar, Kanibal dan belum beradab.

    Sama halnya dengan Melayu yang bukan merujuk pada kelompok etnis, tetapi kelompok kebudayaan, yakni mereka yang berada di pesisir pantai. Nicolo menyebut ‘Batech’ pada waktu menjelaskan orang Pedalaman (Inland) Lambri dan Pasai, dimana mereka ini hidup liar dan uncivilized.

    Justru, orang yang pertama menulis term ‘Bata’ yang dekat dengan term ‘batak’ dewasa ini adalah Pinto. Pinto pada saat itu Ia ada di Malaka, hingga tahun 1539 pada waktu serangan Aceh (Lambri) dizaman Al Qahar-II ke Aru Delitua.
    Menurut Perret, kedua istilah: Batak dan Melyu muncul pada abad ke-15, dan semakin intensif digunakan atau dikontruksi oleh orang luar (pengelana Barat) untuk memisahkan orang di pedalaman (yang belum beradab) yang disebut dengan Batak dengan orang di pesisir pantai (sudah beradab) yang disebut dengan Malay. Pada abad ke-17, tulisan tentang kedua kelompok ini hilang dari peredaran dan muncul kembali sejak abad ke-18. Pada abad ke-19, semakin mengemuka apalagi pada waktu kedatangan Anderson pada tahun 1823, dan semakin dipertegas lagi pada saat Jacobus Nienhuys yang membuka perkebunan tembakau.

    Pada akhirnya, sejak era kemerdekaan nama itupun dicatat sebagai nama etnis yakni Batak yang terdiri dari lima sub etnis yakni Toba, karo, Simalungun, Pak-pak, dan Mandailing Angkola. Jadi, sesungguhnya Konsep Batak dan Melayu adalah dua konsep yang diciptakan dari luar terutama oleh penulis-penulis abad ke-14-15M.

    Sementara menurut Thompson Hs, kata ‘Batak’ memang tidak disinggung langsung dalam pustaka-pustaka khususnya Toba, tapi ada istilah ‘bataha’ yang bisa berasosiasi menjadi Batak. Istilah Batak sudah muncul melalui catatan-catatan sebelum kedatangan misionaris ke tanah Batak. Secara etimologis “batak” masih perlu diusut pengertiannya. Jadi tidak cukup dari arti kamus seperti yang dilakukan di KUBI atau KBBI.

    “Baru-baru ini saya melihat sebuah dokumen hasil penelitian DNA seorang Toba dan Karo yang menyimpulkan asal-usul DNA berasal dari kelompok Afrika (Kenya). Batak sebagai genealogis dapat menjelaskan pengertian dan asal-usul aslinya. Tapi batak secara kultur sudah dikonstruksi oleh sejarah, seperti sejarah Melayu, Jawa, Bugis, dan lain-lain. “Kapak membela kayu, batak menjadi melayu” itu adalah sejarah. Jadi Ichwan Azhari bisa juga mengusut genealogis dan kulturnya di balik upaya penelitian ilmiah. karena kepentingan ilmiah juga tidak selalu netral,” ujar Thompson.

    Memang perkembangan kebiasaan Batak menyatakan diri sebagai Batak lebih aktif dilakukan oleh orang Toba, meskipun mereka sudah menerima anutan agama di luar praktik agama kuno. Disadari atau tidak, Toba menjadi dominan sebagai Batak melalui penggunaan bahasa dan tindak sub-kulturnya, sehingga masalah internal kebatakan tidak jarang menuduh orang toba “tukang monopoli” kebatakan itu.

    Menurut Thompson, istilah Batak dengan variasi ucapannya sudah muncul melalui catatan-catatan pra misionaris dan kolonial. Bahkan sebelum kolonial belum menyentuh Batak, istilah itu sudah disinggung Raffles dan William Marsden dalam bukunya. Catatan dalam naskah Cina pra kolonialisme juga sudah menyingung istilah Batak itu. Mungkin rumusan atau konstruksi yang dilakukan misionaris dan kolonial pada masa perkebunan di Deli hanya semacam penguatan, seperti analogi nama Indonesia, yang sesungguhnya dilakukan oleh seorang Jerman.

    “Kita tunggu maksud konteks penelitian Ichwan Azhari, apakah mau membeberkan batak secara genealogis atau politik baru dikotomi Melayu dan Batak. Itu bagus agar orang-orang yang merasa Batak dapat melihat dirinya kembali dalam nuansa post-kolonialisme. Mungkin saja Ichwan Azhari melakukan hal itu untuk menemukan identitasnya di balik metode dan gengsi ilmiah, apakah dia Melayu atau campuran bukan Melayu. hehehe..” ujar Thompson mengakhiri. (Hariansumutpos-Panda MT Siallagan/saz)



    MYCULTURED




    Exhibition is dedicated to the artifacts of the Batak

    In Paris, at the Museum Quai Branly, there is a complete section on the Indonesian archipelago, from Merauke to Papua.

    The collections of specific groups in Indonesia are now under the expert guidance of Constance de Monbrison, the curator of the Indonesian collection.

    The collections originate from various sources, including those from the former Museum of Mankind, Trocadero, Paris, and private donations from French and Dutch collectors or travellers.

    A substantial section of the Batak collection here in Paris was acquired in 2001 by the French state from the Barbier-Mueller collection of the southeast Asian archipelago in Geneva -- or again from direct donations over the past two centuries.

    Jean-Paul Barbier-Mueller himself undertook several journeys to this area beginning from the late 1960s.

    Guest curator of the small but brilliant show of 94 artifacts and textiles -- representing the cream of Quai Branly's artifacts, together with loans, particularly from the Netherlands -- is ethnologist Peter ter Keurs.

    Ter Keurs is curator and specialist of material cultures of tribal groups in Indonesia, the Philippines and New Guinea. At present, he is curator at the National Museum of Ethnology in Leyden, Netherlands.

    Ter Keurs: "The aim -- together with co-curator Constance de Monbrison -- was not to show the entire range of Batak civilization, but to evoke certain themes.

    "At the same time we also meant to introduce the vivid past of this long-forgotten society to visitors here.

    "These are societies based in the valley or surrounding low mountains, where Lake Toba is found in contemporary Indonesia."

    The Dutch curator added that the first European explorers had to deal with the ferocious attitude of the Batak people, so that the colonial Dutch only "discovered" this valley in 1853.

    Therefore the word "Batak" itself, whose origins are yet unknown by specialists, acquired a connotation of unknown, fiercely proud peoples.

    Visitors to this show can rest assured that there are still many other Batak artifacts in the main Indonesian section of the museum. However, a choice of the cream of the artifacts, enriched by loans, is now situated in one of the airy special balcony-wing spaces of the museum, focusing on vital points of Batak culture.

    For example in one well-lit showcase, visitors can admire a selection of weapons and knives collected by French consul and businessman Jules Claine (1856-1938), who visited the Batak area in June 1890.

    At first, a simple map greets visitors to the geographical site: Sumatra, Indonesia (and before that the Dutch colony of the East Indies).

    Visitors can begin to visualize the ancient caldera of a volcano, in which nestles Lake Toba.

    Around the lake, now 100 by 30 kms large, six main ethnic groups settled down.

    At the center, the south, southeast and at the west of Lake Tobe (Danau Toba) lived the Tobas; at the north-west, the Pakpak and Pak Dairi; at the north and north-east, the Karos and Simalungan; south of which live the Mandailing and the Angkola.

    Some contemporary photos illustrate the present day.

    The three-dimensional feeling around this large surface of water is important.

    As well as the tropical climate and rich soil coming from the former volcano the Batak peoples' dependence on canoes, boats, and later steam-boats is also documented.

    The top of a priest magician's baton, which is attached to a long, smooth wooden cane and acts as shield. The carved head is topped by cock feathers, horse hair and brass details. (Courtesy of Quai Branly Museum)The top of a priest magician's baton, which is attached to a long, smooth wooden cane and acts as shield. The carved head is topped by cock feathers, horse hair and brass details. (Courtesy of Quai Branly Museum)

    However many aspects of the history of the Bataks still remain largely unknown, if not entirely wrapped in mystery, such as their scripts, based on the Ekawi derived from the ancient Javanese used by priests for their rituals.

    These were kept in divination books, like long strips of paper in accordion form, pressed between two wooden covers. The sacred texts and magic recipes could only by read by the Edatu or high-priests. We have one specimen here.

    Such details lie far away from the European tradition of intellectuals. Village life provided the family groups with a social setting.

    It is now well-know that big family groups are called Emarga by the Tobas, or Emerga by the Karos.

    These margas were Exogame meaning that nobody was allowed to marry within his or her own marga.

    The hierarchy of these clans depended on the origins of the wives: the marga from which a wife originated was thus higher in stature.

    Family life took place around the impressively built wooden houses on stilts which show the sculptural mastery, and architectural concepts of the Batak.

    Here we find samples of such sculpture.

    Also displayed is a fine sample of a funeral puppet in wood and clothed as that of the departed spirit, above its wooden case. Besides these are choice stone sculptures, funerary and otherwise, like a rice granary.

    Constance de Monbrison, who comes from a distinguished family of collectors of extraordinary artifacts, from world ethnic groups in the past and present, concurs with Ter Keur's approach.

    De Monbrison explained during a tour of the exhibition: "I was also struck by the resemblance of certain stone sculptures with other parts of the austronesian world.

    "Architectural elements in wood are handled with extreme dexterity by the artisans who built these houses. Not a single iron nail is used. Whether with cast alloys of metal or in wooden sculptures, the fertile imagination of the male master-sculptures and jewelers are astounding."

    Ter Keurs and De Monbrison have not forgotten the role of women in Batak society.

    The role of the woman is not only in child-bearing and cooking, but also essential in weaving traditional, ritual textiles.

    Six textiles -- five ancient and one contemporary -- are on display chosen with the aid of Dutch-Canadian expert on Batak textiles, Sandra Niessen, another contributor to the catalogue.

    Two of these textiles entered French museum collections in the XIX century: one in 1880, donated by a Dr. Ruck, and another by the curatorship of the Dutch East Indies after the "Exposition Universelle of 1889" in Paris. The other three came from the ex-Barbier-Mueller Batak textile collection.

    The quality of these also clearly display signs of being ancient. Niessen added a contemporary Batak textile from her collection.

    As a young man, Tassilo Adam was a privileged witness to Batak life after beginning to work for a Dutch tobacco plantation in Deli, near Medan, in 1899 at the age of 21.

    Adam began to take photos with a large, unwieldy camera and to develop the big-plate prints himself.

    Major portions of the collections of the master photographer and amateur ethnographer were donated to the Tropenmuseum in Amsterdam, as well as to the Brooklyn Museum in the U.S.

    Additionally, the Quai Branly Museum commissioned Dutch photographer Peter Horree to take specific color photos in the very recent past.

    Here we see houses on stilts, the rest of the stone statuary, the landscape around Lake Toba, and present-day faces, to compare with those taken by Adam.

    Batak poet and writer Sitor Situmorang, on his visit to show, together with his wife Barbara Brouwer on April 3 commented: "All I can see is but a fragment of the past as I experienced it".

    The poet remembers the larger context in his memories of his youth and past experiences.

    However this exhibition is a worthy tribute to the Batak people. Do hurry up and witness it before it ends. Or procure the catalogue which will last longer, but is still only in French.

    North of Sumatra, the Batak
    Quai Branly Museum, Paris
    (Sumber: http://www.thejakartapost.com/)

    MYCULTURED


    Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

    Delivered by FeedBurner

    KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

    LinkWithin

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...