Custom Search
Showing posts with label TRADITIONAL FOOD. Show all posts
Showing posts with label TRADITIONAL FOOD. Show all posts

Inilah Spaghettinya Orang Batak

Orang Italia bolehlah punya kuliner khas berupa spaghetti. Orang Batak pun tak mau kalah. Perkenalkan kuliner mi satu ini, namanya Mi Gomak. Tepatnya di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, sebuah warung sudah terkenal sejak lama sebagai penjual Mi Gomak.

Konon, Mi Gomak di warung ini paling enak di seantero Samosir. Dorman Restaurant, begitu sebutan Warung yang berada di Jalan Aek Hangat, Pangururan, Samosir. Lalu, seperti apa Mi Gomak? Mi yang digunakan bukan mi telor yang keriting dan tipis.

Sementara mi yang digunakan untuk Mi Gomak adalah mi lidi yang diameternya lebih lebar dan lurus seperti spaghetti. Teksurnya juga lebih kenyal, namun mudah putus saat digigit. Sausnya ibarat bolognese versi rendang.




“Sambalnya ini campur-campur saja, seperti bumbu rendang. Pertama tumis bumbu lalu campur santan,” kata Manik, pengelola rumah makan tersebut.

Bumbu-bumbu terdiri dari merica, jahe, andaliman, kelapa parut disangrai, daun bawang, bawang putih, dan bawang merah. Buah andaliman memang menjadi bumbu khas untuk masakan-masakan Batak. Tak lengkap kuliner Batak tanpa andalliman.

Rasanya? Enaknya bukan main. Saus berempah seperti rendang namun lebih halus, berkolaborasi dengan mi tebal yang lembut. Selintasan seperti spaghetti bolognese dengan rasa lebih berempah dan pedas, tanpa rasa asam dari tomat.

Kelar makan satu piring mi gomak, rasanya begitu membekas di lidah. Mi gomak lebih seru dimakan dengan telur bebek rebus. Menurut Manik, mi gomak mendapat sebutan tersebut karena cara makannya yang dengan menggunakan tangan.

“Diraup pake tangan, istilah sini ‘digomak’,” jelasnya.

Cocok menyantap mi gomak untuk sarapan pagi di Samosir. Teman makan mi gomak adalah kopi Samosir. Aromanya wangi dan rasanya lembut dengan selintasan rasa tanah.

Kopi jenis arabika tersebut mendapat aroma wangi dari kayu manis. Ya, orang Samosir memiliki kebiasaan menyangrai biji kopi dengan kulit kayu manis dan buah pala. Membuat rasa kopi semakin kaya.

Di Samosir terdapat beberapa warung yang menjual mi gomak. Namun, Dorman Restaurant disebut-sebut sebagai rumah makan yang menjual mi gomak sejak tahun 1982. Selama bertahun-tahun, rasa dari mi gomak tetap konsisten.

Bahkan penggemar mi gomak tersebut rela berjam-jam melintasi jalur darat dari daratan Sumatera Utara hanya untuk menikmati mi gomak di rumah makan ini. Manik sendiri adalah menantu dari pendiri Dorman Restaurant. Resep yang diwariskan tetap dijaga agar spaghetti ala orang Batak itu pun tetap lestari.

Sumber: KOMPAS




Nikmatnya Mi Gomak Sumut ...

"Mi gomak" menjadi menu favorit berbuka puasa sebagian masyarakat pada setiap Ramadhan karena makanan khas daerah Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara tersebut memiliki cita rasa unik dan dapat dibeli dengan mudah di warung-warung setempat.

"’Mi gomak’ menjadi makanan khas favorit bagi kami sehingga terasa kurang afdol berbuka puasa jika tidak menikmati hidangan spesial tersebut," kata H Hasibuan, seorang warga di Balige, Sumatera Utara, Rabu (25/7/2012).

Pada umumnya, kata dia, warga setempat ataupun daerah lain di sekitar kawasan Tapanuli sudah tidak asing lagi dengan jenis kuliner tersebut. Bahkan orang luar kota pun selalu mencari makanan spesifik tersebut untuk dijadikan sebagai menu berbuka.




Disebut "mi gomak", kata dia, karena cara penyajiannya cukup unik, yakni "digomak" (digenggam langsung) menggunakan tangan saat menyajikannya ke dalam wadah sebelum ditaburi kuah santan dengan bumbu "andaliman" (sejenis bumbu penyedap khas) yang tumbuhnya hanya ada di daerah Tapanuli.

"Rasanya unik, enak dan nikmat dengan harga yang relatif tidak terlalu mahal serta cocok sebagai menu spesial untuk berbuka puasa," kata Hasibuan.

H Sibarani, warga yang lain, menambahkan, dirnya bersama keluarga menjadikan kuliner itu sebagai makanan kegemaran. Hampir setiap bulan Ramadhan mereka menikmatinya sebagai hidangan khas yang disajikan untuk berbuka puasa.

Sementara itu, Boru Napit, seorang pedagang "mi gomak" di Pusat Jajanan Kota Balige mengaku, kiosnya selalu ramai diserbu para pembeli dan menjadikannya sebagai salah satu menu pilihan berbuka setiap Ramadhan. Penganan khas itu mendatangkan keuntungan yang relatif cukup besar baginya.

Ia mengatakan, cara menyajikan mi tersebut sangat sederhana, yakni cukup dengan merebusnya dengan air panas dan selanjutnya menaburkan kuah santan dengan bumbu-bumbu khas yang khusus.

Selain itu, kata dia, bahan mentahnya yang terdiri dari mi kuning kering, mudah ditemukan di pasar setempat sehingga penganan ini sangat populer dan cukup dikenal oleh masyarakat.

"Orang menyebutnya sebagai ’spaghetti’ Batak karena bentuk dan cara penyajiannya yang hampir sama. Cuma rasanya yang berbeda," kata Boru Napit sambil melayani pembelinya.

Disebutkannya, hingga hari kelima bulan Ramadhan, dirinya telah mengolah lima kilogram tepung menjadi mi kuning.

"Setiap satu porsi spaghetti Batak ini, saya jual Rp5.000,- dan meskipun banyak pedagang yang menjual masakan yang sama, saya merasa tidak ada persaingan, sebab jumlah pembelinya pun lumayan banyak," katanya.

Sumber : Antara

Sumber: KOMPAS




Donation (Sumbangan Sukarela)

Terima kasih sudah menyempatkan diri mengunjungi halaman ini. Situs web ini bersifat non komersial, karena itu tidak dirancang untuk memperoleh keuntungan materi. Jika Anda menyukai situs web ini, Anda bisa membantu untuk membuatnya lebih baik. Untuk pengembangan website ini kami membutuhkan sumbangan anda:

BANK MANDIRI
Nomor Rekening: 0060006969244

Kiriman sekecil apa pun akan sangat berharga bagi masa depan situs ini selanjutnya. Terima kasih sebelumnya atas dukungan Anda.


Batak Karo, Extremes In Cuisine

MYCULTURED. Situated in the cool and pleasant Batak highlands, is a charming little town called Kabanjahe that is home to the loud and expressive Batak Karo people with an age-old culture.

The town, about two hours drive south of Medan, is also the epicenter of a traditional culinary scene that will astound even the most adventurous eaters.

Batak people are majority Christian and so are not restricted to halal food. Many of the area’s best meals are made with pork, but there are also halal dishes, as well as meals made from unusual ingredients.

http://thejakartaglobe.com/media/images/large/20090630180428248.jpg
Pungent but tasty pagit-pagit.


For pork lovers there are fried cutlets, sauteed pork in thick spicy sauces and babi panggang (roast pig) karo — often shortened to BPK — which is adored by locals and has become nationally famous.

BPK consists of roasted pork slices with three accompaniments: a bowl of broth made from the essence of boiled pig’s bones, a platter of porcine blood cooked with pepper and chili, and a saucer of extra-hot chili sauce. Grab a plate, scoop in the rice and eat with your hands the way the locals do — you may well find yourself asking for seconds.

Rumah Makan Mariras on Jalan Jamin Ginting that connects Kabanjahe to the town of Berastagi and Medan, serves these fabulous pork dishes. It is usually visited by droves of hungry guests during lunch hours, but closes in the early afternoon.

Another interesting pork dish called kidu-kidu is served here and in other typical Karo restaurants. Kidu-kidu is the local version of a sausage with pig intestines, innards and pork.

Chopped cassava leaves are also added to the sausage to add a slight bitterness to the delicious creation.

Restoran Asima on Jalan Rata Perangin-angin is known for serving the best pinadar in town, which is a meal of chicken thighs, wings or breasts, roasted and mixed with chicken blood, then cooked and with a generous amount of spices.

If you enjoy spicy foods, this one is a must-try.

There’s no scarcity of eateries serving halal foods, some which advertise “Rumah Makan Muslim” in their windows. A traditional Karo rendition of halal chicken is known as tasak telu , the best of which can be found in a place with the name, “Tasak Telu Ayam,” advertised on a banner found along Jalan Jamin Ginting.

Tasak telu literally means “cooking three times,” and consists of three dishes: The first part is boiled chicken. The second part is a sauce made of finely-ground mature corn kernels, spices and the remaining stock from the boiled chicken.

The third part is an assortment of chopped vegetables and spiced coconut. Tasak telu is a rich, hearty meal.

While menus with BPK or tasak telu are as popular as ever, other traditional Karo dishes, such as the exotic kidu, are disappearing from the Karo tables.

Kidu is the Karo word for white, plump grubs or insect larvae found in sugar palm trees. The kidu-kidu sausages mentioned above are named as such because they look similar to the short, fat grubs. The grubs are lightly fried to make the outer skin crispy while keeping the inner part juicy, and then briefly cooked in a boiling sauce called arsik — a Batak sauce made from andaliman (Szechuan peppers), turmeric, garlic and candlenut. The juice pops out of the kidu as you bite into it, providing a texture similar to an oily cake that tastes salty and provides a lot more protein.

Nowadays, people are less inclined to eat such creatures, so if you want to try kidu you may have to acquire the grubs yourself. People in the market may know where to look for some and you can ask a restaurant to cook them up for you.

Finally, the truly adventurous might be tempted to try a notoriously pungent dish called pagit-pagit . The ingredients include a brew of cassava leaves, santan (coconut milk), rimbang (a bitter but non-toxic variety of the nightshade family), flowers of some locally-available plants and some arsik sauce. Pork or beef meat may be used.

This combination alone might sound reasonable, but it is the additional substance — juice from a cow’s cud, food that has been digested and regurgitated — that may make pagit-pagit harder to swallow. If you can stand the smell, you may be able to enjoy its yummy taste. The unique concoction can be found in Rumah Makan Purbasari, an eatery with deep crimson walls, on Jalan Bangsi Sembiring, very close to the town center.

Most decent eateries in Kabanjahe are located along major streets, so finding the ones described here should not be difficult. You may even wish to walk around the town, soaking in the local lifestyle and enjoying the cool breeze.

Alternately, you can take public transportation. Note that minibuses in Kabanjahe are not identified by the direction in which they go or by numbers. Instead, routes are indicated by names of destinations on the route, written on the colorful sides of the buses: Merga Silima, Sigantang Sira, Kama, Bintang Karo, Rio, and Persada Nusantara are among them.

If you ask for directions locals may for example, tell you to “take a Sigantang Sira and stop at the second intersection.”

These journeys may take a bit of getting used to, but are well worth the epicurean reward.


thejakartaglobe.com

Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...