Custom Search
Showing posts with label ADAT. Show all posts
Showing posts with label ADAT. Show all posts

Sejarah Singkat SI RAJA HASIBUAN dohot Pomparanna

Pinatomu-tomu ni : A. Mathias Hasibuan / Br. Sitorus

Patujolo
Sian perspektif ni sejarah tung mansai maol do mandapothon sada pembuktian positif laho patoranghon latar belakang ni ompunta si Raja Hasibuan dohot angka pinomparna. Ala na so adong bukti-bukti otentik na boi bahenonnta mendukung angka barita na ta boto tarsingot di jujur ngolu ni Si Raja Hasibuan dohot anak nang boruna. Alai sian perspektif legenda manang turi-turian, tong-tong na boi do bahenonnta laho mangantusi jujur ngolu ni ompunta si Raja Hasibuan secara garis besar. Jala adong do maragam turi-turian na sanga ta bege manang ta jaha tarsingot ni Ompunta Si Raja Hasibuan. Baik na ta dapothon sian poda ni angka natua-tua, manang na boi ta jaha di buku-buku dohot internet na adong nuaeng on.

Adong do marragam turi-turian ta boto, jala sian angka turi-turian i, adong do sada benang merah na boi buanhononta laho mangantusi jujur ngolu ni Ompunta Si Raja Hasibuan. Sian benang merah (Garis besar) ni angka turi-turian i ma na hu pangke hami laho manurathon Jujur ngolu ni Ompunta si Raja Hasibuan.

SI RAJA HASIBUAN Dan Marga-Marga Turunannya

Jika dirunut dari si Raja Batak maka Si Raja Hasibuan berada pada keturunan (sundut) kedelapan : Si Raja Batak -- Raja Isumbaon -- Tuan Sorbadibanua alias Sisuanon -- Siraja Sobu alias Toga Sobu -- Hasibuan.

Dalam silsilah masyarakat suku batak (dalam struktur tarombo) bahwa si Raja Hasibuan adalah keturunan dari si Raja Sobu, si Raja Sobu yang hidup pada abad xv atau sekitar tahun 1455 adalah keturunan ke V dari si Raja Batak, ayahnya bernama Tuan Sorbadibanua anak dari istrinya yang ke dua bernama si Boru Basopaet (Putri Mojopahit).

Penjelasan Komunitas Mandailing di Malaysia Soal Tari Tor-tor

Komunitas Mandailing di Malaysia meminta saudara mereka di Indonesia memahami usulan soal tari Tor-tor masuk dalam warisan kebudayaan negeri jiran. Salah satu alasannya adalah agar Tari Tor-tor bisa lestari dan mendapat pengakuan negara, tidak hanya dipentaskan di rumah saja.

"Kami sudah 200 tahun di sini, sebelum wujud Malaysia dan Indonesia, kami sudah ada di sini. Kenapa tidak boleh kebudayaan Mandailing ada," ujar tokoh Mandailing di Malaysia, Ramli Abdul Karim Hasibuan, saat berbincang dengan, Senin (18/6/2012).




Ramli juga mempersoalkan bahasa yang digunakan media di Indonesia soal 'klaim'. Tidak ada yang namanya Malaysia mengklaim tari Tor-tor. Dia bercerita tor-tor merupakan bahasa Mandailing yang artinya tarian-tarian.

Dia bersama 500 ribu warga komunitas warga Mandailing dari berbagai macam marga di Malaysia antara lain Nasution dan Siregar, ingin budaya Mandailing diakui juga oleh pemerintahnya.

"Ini sudah hampir 70 tahun kami perjuangkan. Kemarin 14 Juni ada acara Perhimpunan Anak Mandailing, dan kami meminta kepada yang terhormat Menteri Penerangan supaya kebudayaan Mandailing diangkat sama tingginya dengan budaya China dan India, juga dengan budaya Minang dan Jawa. Saat itu disebutkan akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam akta warisan negara, sebagai pelestarian suatu budaya," terang Ramli yang sempat mengajak detikcom berbicara bahasa Mandailing ini.

Ramli menegaskan, tari Tor-tor diusulkan sebagai warisan kebudayaan bangsa bukan berarti diklaim Malaysia, tapi justru agar dilestarikan, dipelihara dan dipertahankan supaya jangan hilang.

"Selepas masuk dalam pelestarian budaya, akan diberi peruntukan budget keuangan bagi kebudayaan ini. Jadi tidak ada niat Malaysia mengklaim milik Malaysia, kalau disebut itu milik Mandailing," jelasnya.

Masyarakat Mandailing sudah selama 200 tahun berkiprah di Malaysia. Mereka tersebar mulai dari wilayah Perak, Selangor, Negeri Sembilan, hingga Kuala Lumpur. Keturunan Mandailing dari marga Nasution dan Siregar bahkan banyak yang menjadi pejabat di pemerintahan Malaysia.

"Kami ingin budaya Mandailing juga diangkat di sini. Kami berpesan kepada saudara kami di Mandailing, kami juga warga Mandailing, kami ingin kebudayaan kami diakui di Malaysia. Tidak ada diklaim, tapi dilestarikan. Bukan hanya sekadar dipentaskan di belakang rumah," tuturnya.

Ramli mengibaratkan dengan kesenian Barongsai yang di era Gus Dur diperbolehkan dipertunjukkan di Indonesia. Tapi kesenian Barongsai itu pun tidak otomatis diklaim menjadi milik Indonesia, sebatas hanya menjadi kebudayaan saja.

"Kami hanya ingin budaya Mandailing di Malaysia dilestarikan," tegas Ramli yang juga editor di harian Utusan Malaysia ini.

detikNews


Cuplikan Film "Anak Sasada" Dengan Dialog Berbahasa Batak

Cuplikan Film "Anak Sasada" Dengan Dialog Berbahasa Batak



Film dalam bahasa Batak Toba ini mengisahkan perjalanan Sabungan meninggalkan kampung kelahiran di Tapanuli akibat kemiskinan. Ia merantau ke Medan dan terlibat permasalahan dengan sekelompok bandit pimpinan Big Pane. Di balik gambaran visual tersebut, film karya Pontyanus Gea ini membenturkan realitas sosio-ekonomi dengan kebudayaan (kebiasaan?) keluarga Batak Toba memperlakukan putra laki-laki satu-satunya di keluarga.

"Anak Sasada" Film Layar Lebar Pertama Berbahasa Batak

"Anak Sasada" Film Layar Lebar Pertama Berbahasa Batak


Film berbahasa Batak berjudul 'Anak Sasada' segera diluncurkan pada 3 Juli mendatang di Medan. Film berdurasi 120 menit ini mengambil tema kehidupan kakak beradik sejak kanak-kanak hingga dewasa. Seorang anak laki-laki yang manja, angkuh dan penuh kesombongan adalah kekuatan cerita film ini...

Pemahaman Rumah Adat Suku Batak

Suku Batak adalah salah satu suku di Indonesia yang banyak sekali tinggal di pulau Sumatera, namun saat ini keturunan suku Batak sudah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu ciri khas yang menarik adalah rumah adat suku Batak yang bentuknya sangat unik.

Rumah adat suku Batak Toba disebut juga ‘rumah bolon’. Rumah ini berbentuk panggung dengan bahan utama bangunan berupa kayu. Hal yang paling menarik perhatian adalah bentuk atapnya yang melengkung dan runcing di tiap ujungnya.

Di balik bentuknya yang sangat unik, ternyata rumah adat suku Batak ini memiliki makna dan arti tersendiri.Filosofi rumah adat suku batak memang sangat menarik untuk dipelajari, mulai dari proses pembangunan rumah sampai segala dekorasi, ternyata semuanya memiliki makna yang cukup dalam.

Pembangunan Rumah Bolon

Proses pembangunan rumah adat suku Batak selalu dilaksanakan secara gotong royong. Bahan yang digunakan adalah bahan yang dengan kualitas baik, umumnya seorang pande (tukang) akan memilih kayu-kayu dengan cara memukul kayu tersebut dengan suatu alat untuk mencari bunyi kayu yang nyaring.

Pondasi rumah adalah hal yang terpenting, dibuat dengan formasi berbentuk segi empat, dipadu tiang dan dinding yang kuat. Makna dari pondasi ini sendiri adalah saling bekerja sama demi memikul beban yang berat.

Untuk bagian atas rumah, ditopang oleh sebuah tiang yang biasa disebut tiang “ninggor” dibantu oleh kayu penopang yang lain. Tiang “ninggor” ini lurus dan tinggi, orang suku Batak memaknainya sebagai simbol kejujuran. Untuk menjunjung tinggi kejujuran, perlu didukung oleh rasa keadilan (disimbolkan oleh kayu penopang pada “ninggor”).

Di bagian depan atap terdapat “arop-arop” bermakna harapan untuk bisa hidup layak. Lalu ada “songsong boltok” untuk menahan atap, yang punya arti bila ada pelayanan tuan rumah yang kurang baik sebaiknya dipendam dalam hati saja.

Interior Rumah Adat Suku Batak

Orang suku Batak selalu membersihkan ruangan rumah dengan cara menyapu semua kotoran dan mengeluarkannya lewat lubang “talaga” yang ada di dekat tungku masak. Hal ini juga bermakna untuk membuang segala keburukan di dalam rumah, juga melupakan kelakuan-kelakuan yang tidak baik.

Di dalam rumah terdapat semacam rumah panggung kecil yang mirip balkon pada rumah biasa. Tempat ini untuk menyimpan padi, bermakna pula sebagai pengharapan untuk kelancaran rezeki.

Di setiap rumah di bagian pintu masuk, selalu ada tangga. Bagi orang lain, bila ada tangga rumah rusak, mungkin akan mengeluh. Tapi bagi orang Batak, bila tangga rumah ini cepat rusak/aus, itu malah membanggakan. Karena itu artinya sering dipakai orang/dikunjungi orang karena tuan rumah tersebut adalah orang yang baik dan ramah.

Gorga

Gorga adalah pahatan/ukiran kayu yang ada pada rumah adat suku Batak. Hiasan ini sendiri memiliki nama-nama tersendiri berdasarkan bentuk ukirannya :

* Gorga simataniari (matahari) : menggambarkan matahari yang merupakan sumber kehidupan manusia.

* Gorga desa naualu : menggambarkan 8 penjuru mata angin yang sangat berkaitan erat dengan aktivitas ritual suku Batak

* Gorga singa-singa : menggambarkan tuan rumah sebagai orang yang kuat, kokoh, pemberani dan berwibawa.

Itu beberapa contoh nama gorga, masih cukup banyak nama gorga lainnya yang memiliki makna tertentu. Gorga sendiri sering dilukis dengan 3 warna :

* Merah : melambangkan kecerdasan dan wawasan yang luas sehingga lahir kebijaksanaan.
* Putih : melambangkan kejujuran yang tulus sehingga lahir kesucian.
* Hitam : melambangkan kewibawaan yang melahirkan kepemimpinan.
(Oleh: AnneAhira)

Mengenal Lebih Dekat Rumah Adat Suku Batak

Rumah adat suku Batak di Sumatera Utara ada yang dipasangi tanduk kerbau di pucuk atapnya, Hal ini melambangkan rumah sebagai “kerbau berdiri tegak”.

Suku Batak menganggap rumah adat mereka sebagai kerbau yang sedang berdiri dan dinamakan Rumah Balai Batak Toba. Bentuk rumah adat suku Batak berupa rumah panggung.

Selain sangat menghargai binatang kerbau, warga masyarakat Sumatera Utara sangat mencintai gotong royong dan kebersamaan. Misalnya, pada saat membangun rumah adat suku Batak, mereka melakukannya dengan bersama-sama.

Bagian-bagian Rumah Adat Suku Batak

1. Rumah adat suku Batak terdiri dari tiga bagian yang disebut tritunggal benua, yaitu:

* atap rumah atau benua atas yang dipercaya sebagai tempat dewa.
* lantai dan dinding atau benua tengah yang ditempati manusia.
* kolong rumah atau benua bawah yang dipercaya sebagai sebagai tempat kematian.

Pada zaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar. Untuk masuk ke dalam rumah harus menaiki tangga dari kolong rumah. Anak tangganya berjumlah lima sampai tujuh buah.

2. Bagian rumah adat Batak berupa tiang biasanya dekat dengan pintu. Tiang ini memepunyai bentuk yang bulat panjang, yang dimaksudkan untuk menyangga bagian atas atau lantai dua.

3. Balok digunakan untuk menghubungkan semua tiang yang disebut juga dengan rassang. Balok bentuknya lebih tebal daripada papan Balok ini bisa menyatukan tiang-tiang depan, belakang, samping kanan dan kiri rumah, dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku).

4. Terdapat pintu di kolong rumah untuk jalan masuk kerbau supaya bisa masuk ke dalam kolong.

5. Rumah adat suku Batak mempunyai atap rumah yang terbuat dari ijuk. Ijuk ini terdiri atas 3 lapisan. Tuham-tuham merupakan lapisan pertama, sedangkan lapisan kedua disebut lalubak dan kemudian dilanjutkan dengan lapisan ketiga.

6. Tangga rumah adat suku Batak ada dua macam, yaitu:

* Pertama adalah tangga jantan (balatuk tunggal). Tangan jantan terbuat dari beberapa potongan pohon. Jenis pohon yang bisa dijadikan tangga tidak sembarang. Pohon ini biasanya disebut sibagure, merupakan jenis pohon yang mempunyai batang kuat.
* Kedua disebut tangga betina (balatuk boru-boru). Jenis tangga ini merupakan paduan beberapa potong kayu yang keras dan biasanya terdiri atas anak tangga dengan hitungan yang ganjil.

Ciri Khas Rumah Adat Suku Batak

Ada beberapa ciri khas yang dapat dijumpai pada rumah adat suku Batak. Diantaranya adalah

* Bentuk bangunan merupakan perpaduan dari tiga macam hasil seni, yaitu seni pahat, seni ukir, serta hasil seni kerajinan.
* Bentuk rumah adat dari suku Batak pada umumnya melambangkan “Kerbau berdiri tegak”.
* Menghias bagian atap dengan tanduk kerbau.
* Bangunan dibuat berdasarkan musyawarah dan saran-saran dari para orang tua.
(Oleh: AnneAhira)

Exhibition is dedicated to the artifacts of the Batak

In Paris, at the Museum Quai Branly, there is a complete section on the Indonesian archipelago, from Merauke to Papua.

The collections of specific groups in Indonesia are now under the expert guidance of Constance de Monbrison, the curator of the Indonesian collection.

The collections originate from various sources, including those from the former Museum of Mankind, Trocadero, Paris, and private donations from French and Dutch collectors or travellers.

A substantial section of the Batak collection here in Paris was acquired in 2001 by the French state from the Barbier-Mueller collection of the southeast Asian archipelago in Geneva -- or again from direct donations over the past two centuries.

Jean-Paul Barbier-Mueller himself undertook several journeys to this area beginning from the late 1960s.

Guest curator of the small but brilliant show of 94 artifacts and textiles -- representing the cream of Quai Branly's artifacts, together with loans, particularly from the Netherlands -- is ethnologist Peter ter Keurs.

Ter Keurs is curator and specialist of material cultures of tribal groups in Indonesia, the Philippines and New Guinea. At present, he is curator at the National Museum of Ethnology in Leyden, Netherlands.

Ter Keurs: "The aim -- together with co-curator Constance de Monbrison -- was not to show the entire range of Batak civilization, but to evoke certain themes.

"At the same time we also meant to introduce the vivid past of this long-forgotten society to visitors here.

"These are societies based in the valley or surrounding low mountains, where Lake Toba is found in contemporary Indonesia."

The Dutch curator added that the first European explorers had to deal with the ferocious attitude of the Batak people, so that the colonial Dutch only "discovered" this valley in 1853.

Therefore the word "Batak" itself, whose origins are yet unknown by specialists, acquired a connotation of unknown, fiercely proud peoples.

Visitors to this show can rest assured that there are still many other Batak artifacts in the main Indonesian section of the museum. However, a choice of the cream of the artifacts, enriched by loans, is now situated in one of the airy special balcony-wing spaces of the museum, focusing on vital points of Batak culture.

For example in one well-lit showcase, visitors can admire a selection of weapons and knives collected by French consul and businessman Jules Claine (1856-1938), who visited the Batak area in June 1890.

At first, a simple map greets visitors to the geographical site: Sumatra, Indonesia (and before that the Dutch colony of the East Indies).

Visitors can begin to visualize the ancient caldera of a volcano, in which nestles Lake Toba.

Around the lake, now 100 by 30 kms large, six main ethnic groups settled down.

At the center, the south, southeast and at the west of Lake Tobe (Danau Toba) lived the Tobas; at the north-west, the Pakpak and Pak Dairi; at the north and north-east, the Karos and Simalungan; south of which live the Mandailing and the Angkola.

Some contemporary photos illustrate the present day.

The three-dimensional feeling around this large surface of water is important.

As well as the tropical climate and rich soil coming from the former volcano the Batak peoples' dependence on canoes, boats, and later steam-boats is also documented.

The top of a priest magician's baton, which is attached to a long, smooth wooden cane and acts as shield. The carved head is topped by cock feathers, horse hair and brass details. (Courtesy of Quai Branly Museum)The top of a priest magician's baton, which is attached to a long, smooth wooden cane and acts as shield. The carved head is topped by cock feathers, horse hair and brass details. (Courtesy of Quai Branly Museum)

However many aspects of the history of the Bataks still remain largely unknown, if not entirely wrapped in mystery, such as their scripts, based on the Ekawi derived from the ancient Javanese used by priests for their rituals.

These were kept in divination books, like long strips of paper in accordion form, pressed between two wooden covers. The sacred texts and magic recipes could only by read by the Edatu or high-priests. We have one specimen here.

Such details lie far away from the European tradition of intellectuals. Village life provided the family groups with a social setting.

It is now well-know that big family groups are called Emarga by the Tobas, or Emerga by the Karos.

These margas were Exogame meaning that nobody was allowed to marry within his or her own marga.

The hierarchy of these clans depended on the origins of the wives: the marga from which a wife originated was thus higher in stature.

Family life took place around the impressively built wooden houses on stilts which show the sculptural mastery, and architectural concepts of the Batak.

Here we find samples of such sculpture.

Also displayed is a fine sample of a funeral puppet in wood and clothed as that of the departed spirit, above its wooden case. Besides these are choice stone sculptures, funerary and otherwise, like a rice granary.

Constance de Monbrison, who comes from a distinguished family of collectors of extraordinary artifacts, from world ethnic groups in the past and present, concurs with Ter Keur's approach.

De Monbrison explained during a tour of the exhibition: "I was also struck by the resemblance of certain stone sculptures with other parts of the austronesian world.

"Architectural elements in wood are handled with extreme dexterity by the artisans who built these houses. Not a single iron nail is used. Whether with cast alloys of metal or in wooden sculptures, the fertile imagination of the male master-sculptures and jewelers are astounding."

Ter Keurs and De Monbrison have not forgotten the role of women in Batak society.

The role of the woman is not only in child-bearing and cooking, but also essential in weaving traditional, ritual textiles.

Six textiles -- five ancient and one contemporary -- are on display chosen with the aid of Dutch-Canadian expert on Batak textiles, Sandra Niessen, another contributor to the catalogue.

Two of these textiles entered French museum collections in the XIX century: one in 1880, donated by a Dr. Ruck, and another by the curatorship of the Dutch East Indies after the "Exposition Universelle of 1889" in Paris. The other three came from the ex-Barbier-Mueller Batak textile collection.

The quality of these also clearly display signs of being ancient. Niessen added a contemporary Batak textile from her collection.

As a young man, Tassilo Adam was a privileged witness to Batak life after beginning to work for a Dutch tobacco plantation in Deli, near Medan, in 1899 at the age of 21.

Adam began to take photos with a large, unwieldy camera and to develop the big-plate prints himself.

Major portions of the collections of the master photographer and amateur ethnographer were donated to the Tropenmuseum in Amsterdam, as well as to the Brooklyn Museum in the U.S.

Additionally, the Quai Branly Museum commissioned Dutch photographer Peter Horree to take specific color photos in the very recent past.

Here we see houses on stilts, the rest of the stone statuary, the landscape around Lake Toba, and present-day faces, to compare with those taken by Adam.

Batak poet and writer Sitor Situmorang, on his visit to show, together with his wife Barbara Brouwer on April 3 commented: "All I can see is but a fragment of the past as I experienced it".

The poet remembers the larger context in his memories of his youth and past experiences.

However this exhibition is a worthy tribute to the Batak people. Do hurry up and witness it before it ends. Or procure the catalogue which will last longer, but is still only in French.

North of Sumatra, the Batak
Quai Branly Museum, Paris
(Sumber: http://www.thejakartapost.com/)

MYCULTURED


Mamoholi atau Manomu-nomu

Di wilayah adat Toba, mamoholi disebut manomu-nomu yang maksudnya adalah menyambut kedatangan (kelahiran) bayi yang dinanti-nantikan itu. Disamping itu juga dikenal istilah lain untuk tradisi ini sebagai mamboan aek ni unte yang secara khusus digunakan bagi kunjungan dari keluarga hula-hula/tulang.

Pada hakikatnya tradisi mamoholi adalah sebuah bentuk nyata dari kehidupan masyarakat Batak tradisional di bona pasogit yang saling bertolong-tolongan (masiurupan). Seorang ibu yang baru melahirkan di kampung halaman, mungkin memerlukan istirahat paling tidak 10 hari sebelum dia mampu mempersiapkan makanannya sendiri. Dia masih harus berbaring di dekat tungku dapur untuk menghangatkan badannya dan disegi lain dia perlu makanan yang cukup bergizi untuk menjamin kelancaran air susu (ASI) bagi bayinya.

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, maka saudara-saudara sekampung akan secara bergantian dari hari ke hari berikutnya mempersiapkan makanan bagi si ibu berupa nasi, lauk daging ayam atau ikan (na tinombur), jenis sayuran yang dipercaya membantu menambah produksi ASI (seperti bangun-bangun) dan lain-lain. Selain makanan siap saji, ada juga keluarga-keluarga yang membawa bahan makanan dalam bentuk mentah seperti beras, ayam hidup, ikan hidup dan yang lebih mentah lagi dalam bentuk uang. Sehingga paling sedikit untuk dua atau tiga bulan berikutnya si ibu yang baru melahirkan itu tidak perlu khawatir akan makanan yang ia butuhkan untuk merawat bayinya sebaik-baiknya sampai ia kuat untuk melakukan tugas-tugas kesehariannya.

Kunjungan pihak hulahula/tulang untuk menyatakan sukacita dan rasa syukur mereka atas kelahiran cucu itu adalah sesuatu yang khusus. Mungkin mereka akan datang beberapa hari setelah kelahiran bayi itu dalam rombongan lima atau enam keluarga yang masing-masing mempersiapkan makanan bawaannya, sehingga dapat dibayangkan berapa banyak makanan yang tersedia sekaligus.

Untuk menyambut dan menghormati kunjungan hulahula itu maka tuan rumah pun mengundang seluruh keluarga sekampungnya untuk bersama-sama menikmati makanan yang dibawa oleh rombongan hulahula itu. Setelah makan bersama, anggota rombongan hulahula akan menyampaikan kata-kata doa restu semoga si bayi yang baru lahir itu sehat-sehat, cepat besar dan dikemudian hari juga diikuti oleh adik-adik laki-laki maupun perempuan. (band W Hutagalung, 1963: 245)

(Sumber: BATAKPOS)

MYCULTURED




Donation (Sumbangan Sukarela)

Terima kasih sudah menyempatkan diri mengunjungi halaman ini. Situs web ini bersifat non komersial, karena itu tidak dirancang untuk memperoleh keuntungan materi. Jika Anda menyukai situs web ini, Anda bisa membantu untuk membuatnya lebih baik. Untuk pengembangan website ini kami membutuhkan sumbangan anda:

BANK MANDIRI
Nomor Rekening: 0060006969244

Kiriman sekecil apa pun akan sangat berharga bagi masa depan situs ini selanjutnya. Terima kasih sebelumnya atas dukungan Anda.


UMPASA PODA NI NATUA-TUA.

MYCULTURED


Poda do sibahen na sursuran;
Roha do sibahen dao ni partuturan.

Habang pidong pua manjoloani sidaodao,
Sai mangunsisi do nasa tua sian jolma na so marpaho,
Sipalea natuatua na so umboto adat marbao.

Tinaba hau toras bahen sopo tu balian,
Na pantun marnatoras ingkon dapotan parsaulian,
Alai na tois marnatoras, olo ma i gomahon ni babiat.

Hotang binebe nebe ma ninna hotang pulogos
Ai unang hamu mandele ai godang do tudos tudos

Asa tano porsea ma hatubuan ni marga manurung
Alai molo porsea hita tu Debata dapot ma hita dame na sumurung

Asa tano porsea ma hatubuan ni marga manurung
Molo dang porsea hita tu amanta Debata saut ma hita maung aung

Pagulut lali tu asar ni tabuan
Ai unang hamu pagulut dohot marsalisih ala ni sidabuan

Masiamin-aminan songon lampak ni gaol, masitungkol-tungkolan songon suhat di robean

Ingkon sada songon daion aek, unang mardua songon daion tuak.


AKKA UMPASA NA ASING

MYCULTURED


Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.

Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.

Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.

Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.

Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.

Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.

Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.

Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.

Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.

Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.

Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura,
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.

Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.


UMPASA MANGAMPU

MYCULTURED


Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon,
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.

Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora.
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.

Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.

Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.

Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.


UMPASA TU NA BARU MARBAGAS.

MYCULTURED


Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.

Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.

Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.

Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.

Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.

Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.


UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.

MYCULTURED


Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna.

Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.

Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.

Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.



UMPASA NI NAPOSO BULUNG.

MYCULTURED


Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do

Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata


Rumang dohot ruhut ni ulaon Mangain

MYCULTURED

Songon naung tangkas taboto jala nunga hea ra taulaohon di tonga-tonga ni keluarganta, molo adong ulaon na-Mangain Boru manang Mangain Anak nahombar ma i tu naadong nahurang jala sipatureon di ruhut ni adat Dalihan Natolu, di ruhut ni ulaon habatakon. Ala so halak Batak hian dope tutu nasida (anak manang boru nanaeng siainon i), jadi porlu pahantuson hadirion nasida marhite na mamampehon sada marga na adong di halak Batak tu nasida.

Ulaon mangain anak manang boru na sian luar suku Batak, manang na so adong margana gabe dibahen marmarga halak batak, somal do taida i ma di na naeng marulaon adat. Isarana, di tingki na naeng pamuli boru, pangolihon anak, manang di na naeng manggarar adat na gok (sulang-sulang pahompu) sian sada keluarga naung hot ripe, alai sada sian nasida (ama manang ina) ndang halak Batak.

Asa mardalan adat-paradaton tutu, jolo pahantuson manang patureon ma angka nahurang, i ma mamampehon margana. Alana, di hita halak Batak, molo marulaon adat-paradaton, hombar ma i tu pandohan na mandok: Asa dos nangkokna dos nang tuatna. Molo hita manjalo adat, laos hita do manggarar adat i.

Nian adong taida muse ualaon na-Mangain Anak manang Boru di tingki si hametmetonna, tarsongon adopsi. Boi ma i ala so adong dope tubu dakdanak di keluarga i, manang sude holan anak manang boru, dohot angka alasan na asing. Na naeng dohonon di son, adong tujuan, motivasi, dohot angka harapan di ulaon na-Mangain, i ma asa boi manjalo adat dohot manggarar adat na hombar tu kebutuhan manang kepentingan ni angka ulaon. Boi dohonon, ulaon mangain i ma mambahen sada marga tu sada-sada halak na sian luar suku Batak asa gabe halak Batak ibana, jala masuk gabe bagian masyarakat naniihot ni ruhut-ruhut partuturon Dalihan Natolu.

Nunga hira didodo jala dilumbahon ompunta na parjolo angka rumang dohot ruhut ni adat angka na taulahon di tingki on. Molo pandohan Mampe Marga manang Paampuhon Marga, jot-jot do ra tabege di bona pasogit. Hira dos do lapatan ni ulaon i dohot mangain, nang pe asing rumang dohot ruhut-na. Molo mangain marga hira boi do hita sude mangulahon i. Alai molo napaampuhon marga tertentu, maol-mura do i ulahononhon. Alana, prosesna mansai ganjang, tarlumobi taringot di persetujuan dohot angka mambahen dos ni roha ni na paampuhon marga i dohot di na mangampu; lapatanna antara hak dohot kewajiban dohot angka na asing. Alai, sipata adong do niida sada-sada halak na Mampe Marga mangulahon horja sadari.

Nidok di son, ompunta na parjolo i nunga mangalumbahon (mengan-tisipasi) angka ulaon si songon on, tarida do i di panggulmiton ni paradaton sahat tu tingki on. Taida ma hata na mandok:

Hot pe jabu i, ala hot margulang-gulang,
Manang sian dia pe bere i mangalap boru,
Sai hot do i boru ni Tulang
Sinuan bulu sibahen na las
Sinuan partuturan sibahen na gabe jala horas

Molo tung pe angka rumang dohot ruhut ni adat-paradaton i adong variasi manang sipata taida asing diulahon di sada luat tu luat na asing, alai ianggo tujuanna hira sarupa do i. Alana, songon hata na mandok, asing dolok asing do duhutna, asing huta (luat) asing do nang uhumna (adatna).

Molo di tano parserahaoan, lumobi di Jakarta dohot nahumaliangna, sai songon formalitas na ma taida ulaon mangain anak manang boru na masa di hita halak Batak Toba, sipata gait manang gere idaon, gabe hira so adong be tanggung jawab ni namarulaon molo dung sae ulaon mangain, lumobi dung sae ulaon pesta unjuk. Ala ni i do ra sipata adong deba dongan na mandok holan ulaon na “mangamai ma jolo” molo adong sada-sada ulaon na hombar tu si songon i.

Ndang adong nian naskah na tarsurat taringot adat-paradaton diwarishon ompunta na parjolo i tu hita, jala memang hukum adat pe ndang adong na disurathon. Alana, kebiasaan manang tradisi do i na sai tong-tong diulahon di sada-sada luat, khususnya hita na sian Batak Toba dohot na humaliangna. Jala sipata tahe jot-jot do sian hita menerjemahkan (mangalapati) hata ni natua-tua na mandok:
Eme na masak digagat ursa, i ma na masa i ma taula
Aek godang ma aek tu laut, angka dos ni roha ma si bahen na saut.

Nauli jala sintong ma tutu pandohan i, jala relevan do pe i tu angka ulaon adat paradaton di tingki on. Alai, tasesuaihon ma nian pandohan i tu angka situasi dohot kondisi ni hasuhuton na naeng marulaon, jala hombar ma tabahen tu kebutuhan paradaton i. Alana, adat do na met-met, adat do nang na balga asalma hot di ruhut-ruhutna.

Na naeng sitangkasanta di son songon manambai angka naung taboto, lumobi di ulaon Mangain Boru manang Mangain Anak, tapatupa ma ulaon i hombar tu ruhut Dalihan Natolu, asa arga jala tapelihara adat paradatonta i, asa adong warishononta tu angka ianakhonta muse.

Pandohan nadua nangkin, sian pamerengannami, jot-jot do masa di tonga-tonga ni keluarganta, adong do niida halak mangulahon ulaon mangain marga dipasada dohot ulaon adat naasing, sada tinembak dua hona. Hape gabe hira so tarida be di ulaon i makna dohot tujuan ni na mangain, alai gabe holan formalitas na ma i asa mardalan angka ruhut-ruhut adat paradaton muse. Hape, molo tarbahen, ingkongabe songon ulaon na khusus ma nian molo mangain, adong ikrar manang janji, adong hata (pernyataan) sian na niain i di tingki na manjalo marga na niampehon i, na olo jala rade ibana mangulahon adat paradaton ni halak Batak marguru tu parhundulna di tonga-tonga ni masyarakat Batak (gabe boru, dongan tubu, manang hula-hula). Songon i do nang sian natua-tua namangain i, porlu do pasahatonna hata (pernyataan) di tonga-tonga ni loloan na torop, na ingkon jangkononna na niain i gabe anak manang boru di nasida jala ibana na ma nampunasa anak tudos tu ruhut-ruhut ni halak Batak.
Mardomu tu si, porlu do pingkiranta jala si parhusor-husoron di bagasan roha taringot ulaon mangain boru naung niulahon ni sada keluarga Batak Karo, tarsongon na diulahon nasida:

Ia amanta RO Sembiring inanta i Br. Tarigan naeng pangolihon anak nasida, Setia Sembiring SH, tu sahalak boru sian Jawa Tengah, ima boru ni Amanta Kol. Prabowo inanta i Sri Rejeki. Didok si Setia Sembiring, ndang tarsirang be ibana sian hamletna si Tuty jala ingkon i na ma gabe parsinondukna. Dioloi keluarga Sembiring ma pangidoan ni anak nasida i, alai didok asa sabar jolo ibana paima sae dihatai angka nahombar tu ruhut paradaton mardomu tu pangidoanna i. Alana, tangkas do diboto nasida na saleleng na on jolma paradat do amanta i dohot keluargana di tonga-tonga ni masyarakat nasida.

Dihatai (dilobi) keluarga RO Sembiring ma pangidoan ni anakna i tu angka tuturna, songon i tu keluarga Kol. Prabowo na mandok nunga las roha nasida ala di naolo boru ni amanta i manjangkon anak nasida. Alai adong pangidoan asa boi nian mardalan adat paradaton na hombar tu rencana parsaripeon ni anakon ni nasida i muse rade ma nian keluarga Prabowo gabe marmarga halak Karo. Dung dipatorang alasanna, masiantusan ma nasida, jala dioloi keluarga Prabowo ma pangidoan nasida i.

Na naeng dohonon di son, marga ni amanta Prabowo do dibahen nasida, songoni dohot marga ni inanta i. Direncanahon ma ulaon mangain, jala dipatupa nasida ma i marhite-hite adat paradaton na masa di Tanah Karo. Dibahen nasida ma amanta Prabowo i gabe marga Ginting, jala inanta i dibahen gabe boru Perangin-angin.

Mardomu tu pangidoan ni anak nasida i, ndang si boru nanaeng topotonna i diain nasida gabe boru Karo, alai ama dohot inang ni si boru do diain nasida. Jala ulaon mangain i dipatupa nasida do secara khusus jala marsintuhu, adong do di si janji (ikrar), hata (pernyataan) ni na niain i na olo jala rade nasida mangulahon adat paradaton Batak Karo.

Gabe ma jala horas. Molo dung dos roha, i ma si bahen na horas. Asing dolok asing do duhutna, asing huta asing do nang adatna.

Alai porlu naeng dohonon, ulaon na mangain na pinatorang di ginjang i gabe sada si parhusor-husoron di bagasan roha (wacana) ma i di hita Batak Toba. Secara logika, ulaon i lebih pas jala hona didok roha. Alana, ama dohot inang ni si boru na naeng parumaen i do diain nasida gabe halak Karo. Tontu mansai bangga jala las do roha nasida di penghargaan si songon i, jala gabe sada tanda holong ni roha ni keluarga ni baoa i do i di boru nasida.

Nanaeng dohonon muse, asa mulak ma tu dos ni roha, sian angka panghataion dohot holong na mangolu di angka na naeng martutur, tangkas ditariashon dung marmarga Batak Karo nasida, nasiap jala rade mangulahon adat Batak Karo songon bukti holong ni roha nasida di boru dohot helana i. Sahali nari molo gabe sada pemikiran manang wacana pe i di hita Batak Toba, porlu do ra didok roha kajionta si songon on.
Asa mulak ma hita tu rumang dohot ruhut ni na-Mangain nasomal jala masa taulahon di tano parserahan on. Molo so apala tarbahen pe patoranghon secara sistematis ala memang ulaon si songon on godang do variasina jala hombar tu situasi dohot kondisi ni hasuhuton, nipatorang di son gabe songon sada cerita pendek asa ummura nian antusanta.

A. Mangain Boru
Di mulana i mansai sogo do roha ni amanta St. Ir. B Purba dung diboto anakna, Poltak Purba SH mardongan dohot si Sri Yolanda, boru sian Jawa Tengah. Lumobi muse inangna, Boru Tobing, sai holan na muruk jala marsak dung diboto anakna si Poltak mansai jonok mardongan tu si Sri Yolanda. Nian mula ni pardonganon nasida sian gareja Oikomene jala halak kristen na botul do keluarga nasida be.
Hata si Poltak tu amang dohot inangna, ingkon si Sri nama gabe ripe (istri) di ibana, jala pardonganon nasida pe nunga leleng, songon i nunga hira adong persetujuan ni keluarga ni parboru. Dipatorang si Poltak ma hatorangan mansai ganjang tu natua-tuana i, lumobi taringot holong dohot do ni roha nasida nadua. Ala ni i mombun ma tutu roha ni amana. Alai, ianggo inangna Boru Tobing sai diondolhon dope asa marboru Batak nian si Poltak, jala muse mansai uli-uli do paribanna angka boru Tobing.

Pendek cerita, dapot ma sada kesimpulan di nasida. Dioloi natua-tua i ma anakna i marboru Jawa. Mansai uli tutu rupa ni nanaeng parumaen nasida i jala karejona pe denggan, songon i amang dohot inangna nunga denggan kedudukan nasida di kantor. Alai didok St. Purba ma tu anakna i ingkon bahenon do adat nagok di perkawinan nasida, alana jolma paradat do nasida jala nunga godang dongan tubu mananda nasida dohot angka tutur di Jakarta on. Didok ma tu si Poltak, asa bahenon nasida marga ni nanaeng parumaen i marhite ulaon Mangain Boru.

Mardomu tu ulaon Mangain Boru i, taida ma jolo partuturon manang partubu ni keluarga i. Amanta St. Purba, tubu ni boru Siagian. Nanialapna, boru Tobing, tubu ni boru Hutapea. Ama ni St. Purba tubu ni boru Simanjuntak, jala ompung doli ni St. Purba ditubuhon boru Silitonga.

Tarsongon on ma rumang ni partuturon sian partubu nasida i:
Raja marga Tobing ma Hula-hula
Raja marga Siagian ma Tulang
Raja marga Hutapea ma Tulang Rorobot
Raja marga Simanjuntak ma Bona Tulang
Raja marga Silitonga ma Bona ni Ari.

Sian horong ni hula-hula dohot tulang nasida (dang dohot tulang rorobot marga Hutapea), sarupa boi do laho manjangkon dohot mangain si Sri Yolanda gabe boru nasida. Alai, ise ma sian horong ni hula-hula dohot tulang i na gabe “ama” ni na naeng parumaen i, saguru tu lomo ni St. Purba dohot inanta i do i, dohot catatan denggan do tutu parsaoran nasida tu hula-hula dohot sude tulangna i. Songon i muse, nunga adong hian panghataion dohot natua-tua ni si boru na naeng parumaen i jala ditolopi nasida na naeng bahenonna boru na i mar-marga Batak.

Mardomu tu si, dipapungu amanta St. Purba ma angka haha-anggina sahat tu ompu na martinodohon. Dipatorang ma di si pangidoan anak nasida dohot ulaon na naeng mangain marga ni calon parumaen nasida. Jala laos dipangido ma disi pandapot sian angka haha-anggina dohot boruna.

Nian, nunga hira adong dos roha ni St. Purba dohot inantai, asa gabe boru Simanjuntak ma nian na naeng parumaen i, dohot alasan songon “PATIO BABA NI MUAL” tu Bona Tulang (bona hula) tu marga Simanjuntak. Didok nasida, “Molo tu hula-hula marga Tobing dohot tulang marga Siagian, denggan situtu do parsaorannami sahat tu tingki on.”

Jadi, hira na manunduti jala penghormatan ma i tu ompung doli dohot ompung boru nasida. Ditolopi nasida ma pangidoan ni keluarga St. Purba i asa gabe boru Simanjuntak bahenon calon parumaen i. Naung pinatorang di ginjang, ima songon tahap awal. Tatorushon ma muse tu teknis ni angka ulaon na hombar tu si.
Borhat ma (utusan) nasida mandapothon Raja Simanjuntak laho patolhashon pangidoan nasida i. Tangkas do tutu dijangkon Raja Simanjuntak pangidoan i jala ditontuhon ma andigan muse nasida ro laho pahantushon pangidoan nasida i. Alana, ingkon tangkas do botoon ni dongan tubu ni Simanjuntak dohot boruna, taringot tu pangidoan ni St. Purba i, asa hira na marhori-hori dingding do mulana.

Di ari naung ditontuhon ro ma tutu keluarga St. Purba dohot dongan tubu, boru, nang ibebere laho mandapothon keluarga Simanjuntak. Diboan nasida ma sipanganon na marsaudara jala tangkas ma i tutu dipasahat. Raja Simanjuntak pe dipasahat do dekke tu pamoruonna (bere) na, keluarga Purba i.

Dung sidung marsipanganon, parjolo ma dipahantus Raja Simanjuntak taringot tu tudu-tudu ni sipanganon. Tangkas do disungkun paidua ni suhut taringot tu si panganon i. Alai dialusi parhata ni Raja Purba ma, “Surung-surung ni Tulang Simanjuntak ma i.”

Na mangihut muse, disungkun paidua ni suhut Raja Simanjuntak ma taringot tu sintuhu ni indahan na las dohot haroro ni berena i, Raja Purba.
Dialusi Raja Purba ma sungkun-sungkun i, jala didok ma harorona i ala las ni roha nasida do di sude pinompar ni ompung nasida, gabe di anak, gabe di boru, songon i nang angka pasu-pasu sian tulangna i. Jala, asa laos rade ma nian roha ni tulangna i, Raja Simanjuntak, manjalo si boru na naeng parumaen nangkin gabe boru nasida, marhite-hite ulaon mangain. Laos dilapisi ma hatana, mangido asa marboha-bahenon Raja Simanjuntak ala songon i do na tarbahen nasida laho pasangaphon tulangna i. Ima pangidoan tu tulangna i.

Dialusi Raja Simanjuntak ma pangidoan ni berena i. Jala dung hira masitariparan hata dohot angka pandapot sian angka dongan tubu, boru dohot bere-ibeberena, dioloi jala digabehon Raja Simanjuntak ma pangidoan i, jala tangkas ma i tutu dihatahon.
Dung i sahat ma tu namarhata sigabe-gabe. Laos ditutup ma muse dohot ende puji-pujian nang tangiang.

Teknis Mangain Boru

Tugas dohot pelaksanaan ulaon mangain Sri Yolanda gabe boru Siman-juntak, gabe hira tanggung jawab ni Raja Simanjuntak dohot dongan tubuna nama i. Songon i dohot napasahathon gokhon dohot jaou-jou tu angka tuturna, hula-hula, tulang, dongan sahuta, dohot angka na asing. Hira so adong be di ulaon i tanggung jawab teknis ni St. Purba. Alai, songon somalna (jala dos ni roha do i) biaya ni ulaon i, sian St. Purba do.

Di ari naung ditontuhon –songon na di undangan naung mardalan tu angka tutur paboahon napatupaon nasida ulaon Mangain Boru marpungu ma angka tutur, songon i si Sri Yolanda dohot natua-tuana, keluargana pe godang do na ro tu ulaon i.
Andorang so dimulai dope ulaon mangain i, tangkas do dijalo Raja Simanjuntak haroro di hula-hulana dohot tulangna. Ala di gedung do dipatupa ulaon i laos marmusik do dibahen manjalo hula-hula dohot tulangna i.

Dipasahat paidua ni suhut Raja Simanjuntak ma pamuhai (pengantar), hata huhuasi, dohot konsep ni ulaon i, i ma:
Parjolo : Nasida ma parjolo, termasuk ma angka haha-anggina, mangupa-upa boru na naniain na i.
Paduahon : Pasahaton ma tingki tu horong ni hula-hula dohot tulang molo tung adong sipasahaton nasida tu ibeberena na sorang mangodang i.
Patoluhon : Marsipanganon ma. Alai, jumolo ma Raja Simanjuntak pasangaphon hula-hula laho pasahaton tudu-tudu ni sipanganon, jala songon i molo tung adong si pasahaton ni hula-hula (dengke). Molo tung adong horong ni tulang pasahat dengke, laos mangihut ma i.
Hira songon i ma konsep dasar ulaon Mangain. Molo dung dioloi jala digabehon angka tutur, lumobi sian hula-hula dohot tulang, mardalan ma ulaon i di bagasan dame dohot sonang ni roha.
Songon naung tinaringotan parjolo, asa tarida tujuan dohot makna ni ulaon Mangain i, dipatupa ma panghataion nahombar tu ulaon i (andorang so pasahathon upa-upa), i ma:
Parjolo : Hata huhuasi, pengantar sian Raja Simanjuntak, suhut nalaho mangain Boru i.

Paduahon : Hata huhuasi, pengantar sekaligus pernyataan, persetujuan ni nampunasa boru kandung manang na mewakili.

Patoluhon: Pernyataan sian Sri Yolanda mandok na olo ibana gabe boru Simanjuntak, ndang ala napinaksa, tekanan dohot angka na asing. Di tingki mandok hata i boi do ibana diajari manang dituntun.
Paopathon: Mandok hata sian Natua-tua ni Simanjuntak, wakil ni dongan tubu mandok naung gabe boru Simanjuntak si Sri Yolanda, jala dijangkon nasida ibada gabe boru nasida.

Dung sidung jala marune angka panghataion i, ditorushon ma tu na manjangkon, mangupa-upa boru i, jala laos diulosi nasida ma boruna i. Songon i nang sian hula-hula dohot horong ni tulang, dipasahat ma angka nauli tu berena nasida i.
Molo dung hantus saluhutna i, diuduti ma tu na marsipanganon. Alai, songon nidok ni konsep na di ginjang, jolo dipasahat ma tudu-tudu ni sipanganon tu hula-hula. Songon i sian horong ni hula-hula, dipasahat ma tu Raja Simanjuntak molo tung adong na naeng sipasahatononna.

Dung sidung mangan dibagi ma parjambaran juhut songon angka na somal taulahon. Sai jumolo do ro hata sian sian hula-hula na mandok, “Nunga tangkas dipasahat hamu pamoruonnami tudu-tudu ni sipanganon.

Didok natua-tua, sai jolo diseat hata do asa diseat raut.”

Alai, molo tung pe angka na mangalap hata, masipasangapan, asa dibereng angka tingki. Sahat ma angka jambar juhut i tu hasahatanna, molo sian angka dos ni roha.

Ulaon na mangihut muse i ma marhata sigabe-gabe dohot hata pasu-pasu. Dung dipasahat angka hula-hula dohot horong ni tulang hata sigabe-gabe, hata pasu-pasu tu boruna (suhut), mangampu ma hasuhuton dohot angka pa-moruon nasida, songon i dongan sahuta (molo adong). Porlu di son ingoton tangkas: pasahaton ni na mangain i (Raja Simanjuntak) do piso-piso manang pasituak natonggi tu sude hula-hulana dohot angka tulang na ro tu ulaon i. Taringot tu teknis ni na pasahathon, boi do i dipasahat andorang so mangampu dope nasida. Jala na naeng dohonon muse, taringot tu bilangan-na manang godangna, saguru tu na ni onjar ni roha ni hasuhuton do i. Alai, ris ma nian dibagi tu hula-hula, tulang dohot angka uduran nasida na ro tu ulaon i.
Molo dung sude mardalan, ndang adong be nahurang manang na lipe, ditutup ma ulaon i di bagasan ende dohot tangiang. Gabe ma jala horas hita saluhutna tumpahon ni Tuhanta Debata.

Taringot tu ulaon angka na mangihut, i ma ala na naeng hot ripe si songon on, mardalan ma muse rumang dohot ruhut ni paradaton pamulihon boru songon na somal taulahon. Jala songon hatorangan tambahan di hita, molo di ulaon si songon on, ulaon taruhon jual na ma. Paranak (Raja Purba) ma na paradehon amak. Jala songon tuhor (sinamot) ni boru i muse didok na ma i “surung-surung”. Alai, molo angka adat na gok, i ma suhi ni ampang na opat dohot todoan, hot do i mardalan songon na somal.

B. Mangain Anak

Mangain anak na nidok di son i ma mangain manang paampuhon marga tu sahalak doli-doli sian luar suku Batak ala naeng marhot ripe ibana dohot sada boru ni halak Batak.

Nunga godang sian hita Batak mangulahon si songon i, alai adong do muse niida holan na mangamai (ndang pola dibaen marga ni baoa i) asalma mardalan ruhut ni adat-paradaton tu pengantin. Alai, asa hantus jala denggan muse ruhut ni partuturan nasida, lumobi tu angka pinomparna nasida muse, porlu do adong identitas (marga) na jelas, jala asa unang mago nian adat na hombar tu ruhut ni Dalihan Natolu di ulaon nasida.

Di tano parserahan on, jot-jot ndang tarpasiding natua-tua be angka pardonganon ni boruna tu halak na asing di luar suku Batak. Molo sahapor-seaon dope dongan nasida i, ndang pola godang nian masalah, asalma rade natua-tua i manjalo. Alai, molo mardongan (marsangkap hot ripe) boru i tu sada baoa na asing agamana, on do na gabe mambahen jut roha ni natua-tua.

Songon naung pinatorang di na Mangain Boru, adong ma tutu na hu-rang jala pahantuson i ma ala so adong hian marga ni na naeng parumaen i, songon i do nang na naeng sipahantuson di na Mangain Anak. Mardomu tu si, taihuthon ma jolo contoh na mangihut.
Ia amanta Bonar Butar butar dohot inanta i Boru Sihombing Lumban Toruan, boru buha baju nasida dr. Tiurma Butar butar. Di dok boru na i nunga leleng ibana mardongan jala dang tarsirang be sian Ir. Broto Suryo Sungko-no sian Malang, Jawa Timur. Laos dipangido asa mardongan saripe nasida.

Halak paradat do keluarga Butar-butar i, songon i nang inanta i tung ringgas do mangadopi angka ulaon adat, lambok jala boru hasian do nasida di tonga-tonga ni hula-hulana. Di tonga-tonga ni dongan tubu, Butar-butar, sipaimaon do amanta i, na manat mardongan tubu, jala na sai elek marboru, laos burju mardongan sahuta. Songon i di ulaon huria, tung na burju do nasida.

Ala pandohan jala pangidoan ni boruna buha bajuna i ingkon marhaso-hotan tu dongana na so halak Batak i, sai marpingkir i ma amanta Butar butar dohot inanta i. Alai dos ma roha nasida, didok ma tu boruna i: “Molo naingkon si Broto na ma laho calon suami di ho Inang, ingkon bahenon ma margana marhite ulaon Mangain Anak. Asa, di pernikahanmuna haduan mardalan adat paradaton ni hita halak Batak, asa sangap hita di tonga-tonga ni tuturta, jala sangap nasida tabahen. Jadi, molo olo do si Broto dohot keluargana mampe marga, setuju ma hami di pangidoanmi.

Dipasahat si Tiurma ma pesan ni natua-tuana i tu donganna i, jala si Broto dohot keluargana pe mandok setuju. Ro do wakil ni natua-tua ni si Broto mandapothon keluarga Butar-butar, mandok satolop nasida di renca-na ni Butar-butar i.

>Catatan:

>Na naeng dohonon di son, ingkon adong do angka panghataion na terbuka, transparan, di angka na naeng martutur, nang so halak Batak na naeng tondong i.

Ala hurang ni keterbukaan, jot-jot taida di tano na masa parserahan on sada boru Batak muli tu halak Jawa, Manado, manang Ambon, ndang pola marhite-hite adat (holan sian Gareja/Huria). Dung hot ripe nasida, gabe di anak nang di boru, alai laos mago ma sian angka ulaon paradaton.



Ia apala lae ni amanta i adong do dua i ma, St. Tigor Tampubolon/br Butar butar dohot Lodewick Siregar/br Butar-butar. Adong do muse apala amangbo-runa, i ma St. Nelson Siahaan/br Butar butar, Samuel Sibuea/br Butar butar, dohot Posman Hutagaol/br Butar-butar.

NB: Molo na laho Mangain Anak, sian marga ni pamoruon do bahenon gabe marga ni calon helana i. Dos do peluang ni angka laena dohot amangboruna i laho mangain calon hela i. Ise ma na naeng gabe ama pangain, saguru tu pamillit ni keluarga Butar butar ma i.

Angka boru na burju do pamoruon nasida i. Alai, nunga dos roha ni amanta Bonar Butar butar dohot inanta i, sian marga ni amangboruna ma dibahen na laho marga ni calon hela i, i ma amang boru St. Nelson Siahaan.
Rumang dohot ruhut ni na-Mangain Boru asing do pangalahona tu ula-on Mangain Anak. Di na Mangain Boru, sian marga ni hula-hula manang tu-lang do dibahen marga ni boru i. Jadi gabe boru tulang ni anak na naeng ma-ngoli i ma boru na diain (calon parumen) i. Alai di na-Mangain Anak, ingkon marga ni pamoruon do bahenon marga ni anak i. Jadi gabe anak ni namboru ni boru i ma anak na dianin (calon hela) i.
Di tingki na naeng mangain boru (calon parumaen), tangkas do dida-pothon paranak hula-hula (manang tulang)-na jala diboan sipanganon laho pasahathon pangidoanna. Alai, molo di na naeng mangain anak, pamoruon na naeng mangain i do dijou parboru tu bagasna.

Nunga dos be tutu roha ni amanta Bonar Butar butar dohot inanta i, jala nunga hira dipaboa rencana ulaon parsaripeon ni boruna, Ir. Tiruma dohot Ir. Broto na sian Malang i, tu angka haha-anggina. Dipatupa nasida ma parpunguan ripe-ripe. Dijou nasida ma tangkas angka laena dohot amangboruna.

Ditariashon amanta Bonar Butar butar ma pangidoanna asa rade nian nasida laho manjangkon na naeng helana i gabe anak nasida muse, lumobi tu amangboru dohot namboruna, keluarga St. Siahaan. Jala tangkas do dihata-hon di si, naung sian dos ni roha nasida jala pangidoan ni boruna, si Tiurma, molo apala tung dipangido nasida amangboruna, St. Siahaan, songon hapeahan na laho manjangkon anak calon helana i.
Tangkas do tutu dioloi angka laena dohot amangboruna i pangidoan ni amanta Bonar Butar butar. Didok nasida, nunga tung mansai denggan i, jala ndang pasombuon nasida tulang manang tunggane na i (keluarga Bonar Butar butar) molo tung pe so apala anak nasida na mangalap (menikahi) maen nasida (si Tiurma). Jala malambok pusu do nasida molo boi do anak nasida gabe gabe dongan saripe ni dr. Tiurma, nang pe sian ulaon Mangain Anak.

Gabe ma jala horas. Aek godang tu aek laut, dos ni roha do sibahen na saut.

Catatan:

Ala nunga rade amanta St. Siahaan dohot inanta i laho manjangkon Ir. Broto gabe anak marhite ulaon Mangain Anak muse, jala songon i di haradeon ni keluarga Ir. Broto, nasida na ma manghatai, pahantushon na naeng ulaon i. Hira ndang adong be pola tanggung jawab ni amanta Bonar Butar butar di na patupahon ulaon i (asing ni biaya ni ulaon i). Alai sian dos ni roha ma saluhutna i. Jala laos dumenggan do molo boi sian keluarga ni na nanaeng anakna i (Ir. Broto) mananggung biayai ni ulaon Mangain i songon patuduhon holong ni rohana tu calon istrina (dr. Tiurma).

Keluarga St. Siahaan mambahen sada parpunguan na metmet. Tangkas do dijou angka dongan tubu na marhaha-anggi, boru, dohot pariban. Di pa-tolhas ma di si naung dijalo jala rade nasida manjangkon Ir. Broto gabe anakna marhite na-Mangain. Hombar tu si dipangido ma panuturion hom-bar tu ulaon i., lumobi asa laos nasida ma na langsung mangulahon ulaon Mangain, songon i di panjaloon nasida muse tu angka horong ni hula-hula.

Mansai godang do tutu pandapot dohot saran di si. Adong na mandok songon on, songon an, adong muse mandok sulit do i, ala porlu persetujuan sian haha anggi na adong di bona pasogit, dohot angka na asing. Alai dapot ma sada sintuhu ni panghataion di parpunguan nasida i: Patupaon nasida ma ulaon Mangain Anak tanggal …., bulan X, di tempat Y, jala tangkas didok nasida asa digokhon dohot dijou-jou, marhite-hite undangan, angka hula-hula dohot tulang.

Jumpa ma ari ulaon i. Nunga marpungu angka na mardongan tubu dohot angka tutur. Andorang so dimulai acara, tangkas ma dijalo nasida hula-hula dohot horong ni angka tulang. Dipasahat paidua ni suhut ma hata huhuasi dohot konsep ni ulaon Mangain Anak i. Ianggo teknis ni acara di na Mangain Anak hira dos do i dohot na-Mangain Boru, i ma sai jumolo do dipangido nasida panuturion sian angka tutur, lumobi sian horong ni hula-hula dohot tulang. Molo dung dos roha nasida, diulahon nasida ma ulaon i:

Parjolo : Hata huhuasi sian suhut na laho Mangain Anak.
Paduahon : Hata huhuasi (pertanyataan) sian natua-tua ni anak na laho si ainon i manang na mangawakili.
Patoluhon : Hata sian anak na laho diain (Ir. Broto).
Paopathon : Mandok hata sian natua-tua Siahaan, wakil ni dongan tubu, laho manjangkon anak na diain i gabe marga Siahaan.
Dung i ditorushon ma muse tu ulaon mangupa-upa, manjangkon anakna i, dilehon mangan, diulosi pihak paranak ma ibana. Laos mangihut ma muse horong ni hula-hula dohot tulang mangulosi ibana.
Songon hatorangan tambahan, di ulaon Mangain Anak tangkas ma ditariashon natua-tua namangain i posisi dohot tanggung jawab ni anak i muse di tonga-tonga ni keluarga, lumobi i taringot tu angka ulaon adat-paradaton, dohot didok naung gabe anak nasida ibana. Lapatanna, ala sian ama do na mamboan goar keturunan, saluhut ianakhon ni naniain i nunga adong hakna mamangke marga naung dipampena i, nang pe tung so apala disurathon di angka parsaoran siganup ari.

Ditorushon ma tu na marsipanganon, alai parjolo ma dipasahat nasida tudu-tudu ni sipanganon tu hula-hula. Di tingki na pasahat tudu-tudu ni sipanganon, molo boi, sai jolo marsantabi ma tu horong ni angka tulang ala tu jolo ni hula-hula dipasahat nasida. Dung i dipasahat hula-hula ma dekke (molo adong) tu pamoruonna i. Molo adong muse angka dekke diboan horong ni tulang dipasahat nasida ma i tu pamoruonna i.
Dung sidung marsipanganon, mardalan ma panghataion taringot tu jambar juhut. Songon na somal, sai sian hula-hula ma na manungkun i tu pamoruon nasida, asa di pambagian jambar juhut i mardalan sian angka dos ni roha, jala sahat tu hasahatanna.
Molo hira ulaon na mangihut muse i ma angka di panghataion. Molo tung adong pe angka hata na masisungkunan sian hasuhuton na mangain anak i, alai ianggo hata pasu-pasu dohot hata gabe-gabe ingkon sian hula-hula dohot horong ni tulang do. Jala mangampu ma muse suhut. Songon di ulaon Mangain Boru, mardalan do pasituak na tonggi tu angka hula-hula dohot tulang nang di ulaon Mangain Anak.Dung hantus jala marune saluhutna i ditutup ma ulaon i marhite-hite ende huria dohot tangiang.

Songon tambahan muse, molo ulaon na mangihut hira sarupa do tu ulaon na somal. Jala ulaon pesta unjuk dibahen ma alap jual, pihak parboru ma paradehon dohot patupahon angka na hombar tu si.Na naeng dohonon muse di son, adong do ulaon Mangain Anak na hira maol diantusi, manang adong sungkun-sungkun ni angka dongan na hira maol alusan.
Piga-piga sian sungkun-sungkun i hira songon on ma:

1. Efektif do ulaon Mangain Anak si songon i, lumobi pangaitna tu ruhut-ruhut ni paradaton. Alana, didok angka dongan: molo holan asa mardalan adat-paradaton cukup ma dibahen holan pangamai, ndang pola ingkon Mangain.Taringot tu si, saguru tu tekad dohot haradeon ni nampunasa anak/boru ma i laho manogu-nogu paradaton tu gellengna. Alana, godang do halak hita na so pola radot tu paradaton.
2. Molo marulaon pesta unjuk muse, ise do sijalo ulos pansamot, jala songon dia do parhundul ni natua-tua pangintubu ni anak na niain i?Ianggo si jalo ulos pansamot ingkon namangain anak i do. Rap hundul ma nian nasida dohot natua-tua tangkas ni na niain i, jala dipasahat parboru ma ulos holong tu nasida.
3. Di tingki ulaon Mangain Anak, tontu diulahon paranak ma manjalo tumpak. Di ise do angka tumpak na nilehon ni angka tutur i? Ise do na manggarar sinamot dohot angka na porlu tu ulaon i?Sungkun-sungkun si songon i jot-jot masa di tingki on, jala adong binege gabe adong parsalisian ala ni angka si patupaon tu ulaon i.
Na naeng dohonon di son, molo mangalusi sungkun-sungkun dohot angka pandapot si songon i –lumobi di hita angka anak ni raja– ingkon mulak ma nian hita tu angka dos ni roha, roha na elek jala terbuka, masialapan hata angka na martutur. Ai didok natua-tua: Hata do parsimboraan.
Sian logika, angka tumpak nanijalo nasida i, di nampunasa anak ma i. Jala sinamot nanaeng sipasahaton nasida dohot angka kewajiban sian paranak tu hula-hulana, nasida ma mananggung dohot (keluarga ni) anak naung niain i, jala porlu koordinasi dohot tu na naeng nampunasa hela (calon simatua ni anak na niain i) taringot tu sipatupaon di ulaon i. Jadi, asa unang adong na masipailaan, ingkon adong ma di hita angka roha na masiantusan, jala marboha-bahenon. Gabe ma jala horas, molo dapot roha na masipaolo-oloan di angka na martutur.

http://bungaran.simanjuntak.or.id/

Mengenal Marga MANURUNG

MYCULTURED

Manurung satu warna, itulah terjemahan bebas istilah bahasa Batak kuno ini. Sebuah wasiat suci yang diwariskan turun-temurun, agar setiap marga Manurung menjaga kesatuan dan
solidaritas Manurung untuk selamanya.

*Manurung sipolin-polin* adalah buah kearifan para leluhur Manurung yang memiliki visi futuristik, bahwa setelah mereka berlalu ada kemungkinan keturunannya mengalami perpecahan.

Potensi ke arah itu memang ada berhubung Raja Manurung memiliki tiga anak : Hutagurgur, Hutagaol, Manoroni.

Namun berkat adanya wasiat suci tadi, sampai detik ini Manurung masih satu. Kalau dibandingkan dengan perpecahan di banyak marga yang umumnya disusul dengan "proklamasi" marga baru, keutuhan Manurung hingga detik ini merupakan prestasi yang menarik untuk dikaji.

Manurung adalah salah satu marga tertua, merupakan generasi keenam dari leluhur etnis Batak yaitu Raja Batak. Kalau dicermati silsilah marga-marga lain, sebagian besar sudah pecah pada generasi keempat. Tak sedikit di antara sub-sub marga kemudian pecah
lagi, membentuk sub-sub marga baru yang nantinya bakal pecah lagi berkali-kali.

Tidak ada maksud menepuk dada atau menyombong dengan mengemukakan fakta ini. Bangga memang ya, karena leluhur Manurung ternyata sangat arif dan futuristik. Hanya dengan sebuah* tagline* atau semboyan yang sederhana, mereka berhasil mengikat keturunannya– puluhan generasi kemudian–untuk tetap mengibarkan satu bendera : *Manurung United.*

Meskipun belum tersedia data statistik yang valid, bisa dikatakan, Manurung adalah salah satu marga terbesar di antara sekitar 400 marga Batak. Di Tapanuli, marga ini memiliki "home base" yang lumayan luas, terbentang dari Parapat sampai Porsea, mencakup hampir setengah luas wilayah Kabupaten Toba Samosir.

Sedangkan di perantauan, hampir di semua kota di Indonesia ada marga Manurung. Mayoritas bermukim di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi.

Baik di kampung halaman maupun di perantauan, Manurung punya reputasi bagus sebagai marga yang cinta damai. Kaum prianya rata-rata berperangai tenang, kuat pengendalian diri dan lebih suka menyelesaikan perselisihan dengan berunding atau diplomasi. Mungkin karena karakternya itulah, sedikit sekali marga Manurung yang menjadi anggota TNI, Polri atau preman (meskipun ada marga Manurung yang pernah menjabat sebagai Kepala Babinkum TNI dan Kapolres Jakarta Timur).

Ada juga faktor lain yang membuat kaum pria Manurung cenderung mengekang diri dan kurang garang dalam interaksi sosial sesama orang Batak, yaitu lantaran banyak betul marga yang memanggilnya Tulang (paman dari garis ibu), karena ibunya, neneknya atau leluhurnya beberapa generasi ke atas adalah boru Manurung (perempuan bermarga Manurung).

Kedudukan Tulang sangat terhormat di dalam masyarakat Batak, maka yang bersangkutan "terpaksa" menjaga sikap dan perbuatan agar sesuai dengan kedudukan itu.

Salah satu marga yang lahir dari rahim boru Manurung adalah *Tambunan*. Leluhur marga ini bahkan terlahir di kampung halaman Manurung di daerah Sibisa. Fakta historis ini sudah menjelaskan dengan sendirinya, Manurung memang baik hati dan mengayomi bere atau keponakannya.

Hal inilah yang membuat para sepupu Tambunan yang tergabung dalam rumpun marga *Silahi Sabungan* ikut menghormati Manurung sebagai Tulang.

Fakta tersebut di atas, betapa banyak marga yang menghormati Manurung sebagai Tulang, sebenarnya merupakan anomali atau kenyataan yang ganjil.

Kenapa? Karena bertolak belakang dengan sifat umum kaum prianya, kaum perempuan (boru) Manurung justru terkenal agresif, garang, nekad dan independen. Selain itu, jarang sekali boru Manurung berwajah cantik, tapi ternyata malah laris manis dan menjadi ibu yang melahirkan banyak marga dikalangan etnis Batak.

Kenapa bisa begitu ? Ternyata di balik sikapnya yang pemberang, garang dan pembangkang (plus cerewet juga), boru Manurung selalu berbakti secara total demi meningkatkan kesejahteraan dan mengangkat harkat serta martabat keluarga suaminya. Mereka dikenal pekerja keras, ulet dan tidak jaim, sehingga pekerjaan kasar pun dilakoni. Kalau martabat keluarga suaminya direndahkan orang lain, dia akan maju paling depan melabrak pelakunya.

Fakta yang kontradiktif inilah yang melambungkan reputasi boru Manurung, sehingga banyak marga yang mendambakannya menjadi menantu. Dan itu pula salah satu faktor yang membuat marga lain menaruh hormat pada Manurung.

Inilah sekilas salam perkenalan dari marga Manurung untuk warga dunia. Sebuah ikhtiar kecil untuk mendorong dan mewadahi komunikasi positif dikalangan *halak hita*, untuk selanjutnya disumbangkan demi memperkuat keindonesiaan kita.

• By : Rihart Manurung

Martuasame sebagai julukan Naipospos

MYCULTURED

Martuasame merupakan julukan Raja Naipospos yang memperanakkan 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

Martuasame sebagai julukan Naipospos

Raja Naipospos mempunyai julukan MARTUASAME. Gelar Martuasame ini didapat Raja Naipospos karena dia mengambil isteri yang kakak-beradik boru Pasaribu.

Umbahen namambuat boru namarpariban (saama) Raja Naipospos jala alani namasa di tingki marsame Raja Naipospos marbunibuni mambuat tuanboruna napaduahon, gabe digoari ma ibana Martuasame. Jadi Martuasame, goargoar ni Raja Naipospos do i. Ndada goar ni anakna, songon pandok ni nadeba. (bahasa Batak)

Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.

Hal itu dapat kita lihat bahwa terdapat hubungan kata marsame dengan kata martuasame. Sehingga Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos dan bukan juga nama asli Toga Sipoholon. Karena Sipoholon hanyalah nama daerah yang berasal dari kata sipohulon.

Fakta penguat bahwa Martuasame adalah julukan Raja Naipospos

Menurut Haran Sibagariang (gelar:Ompu Basar Solonggaron) sebagi mantan Kepala Negeri Huta Raja menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada kepastian yang menyatakan dimana letak pasti makam dari Raja Naipospos. Di dalam tulisannya ada terdapat 2 (dua) pendapat yang menyatakan letak makam dari Raja Naipospos, yaitu di Dolok Imun dan di Sipoholon.

di Dolok Imun

Bagi sebagian orang menyatakan bahwa makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun. Namun Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang menyatakan tidak ada yang dapat dijadikan sebagai pertanda makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun selain daripada kisah pesta yang membawa persoalan antar keturunan Raja Naipospos.

Mungkin tak banyak orang yang mengetahui pesta apakah sebenarnya yang membawa persoalan antar keturunan Raja Naipospos khususnya masalah bagi marga Sibagariang sendiri. Pesta tersebut tak lain adalah mansantihon (baca:massattihon) Raja Naipospos menjadi sesembahan atau pun sombaon.

Pada zaman dahulu seseorang yang dianggap penting atau pun memiliki kesaktian harus dipestakan (dihorjahon) sebanyak tujuh kali agar dapat menjadi sesembahan. Pesta ke-7 tersebut hanya diadakan oleh pihak keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) tanpa menunggu kehadiran pihak keturunan Raja Naipospos dari isteri II (Marbun) dari Humbang. Meskipun seluruh keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) turut serta dalam pesta tersebut tetapi masalah lebih besar dilami marga Sibagariang karena hanya oleh perintah Sibagariang lah maka pesta ke-7 diadakan sebelum hari yang telah ditentukan.

Hal ini pun dapat menjadi sebagai bukti nyata hak sulung yang dimiliki Sibagariang. Seandainya Sibagariang bukanlah putera I (sulung) Raja Naipospos maka perintahnya tidak akan didengarkan oleh saudara-saudaranya. Karena dalam adat Batak bahwa apabila orangtua dalam keluarga sudah tiada lagi maka pengganti orangtua dalam keluarga tersebut adalah putera sulung. Namun dalam hal ini, kedudukan tidaklah boleh menjadi alasan untuk bersikap semaunya. Naingkon satahi saoloan do namarhahamaranggi.

Ende hananangkok sian si Daud. Ida ma, dengganna i dohot sonangnai, molo tung pungu sahundulan angka na marhahamaranggi!Psalmen 133:1

Segala sikap buruk dari nenek moyang adalah suatu hal yang perlu dijauhkan. Napinungka ni ompunta sijolojolo tubu ndada siihuthonhon alai sipaturenta do.

Ompunta di jolo, martungkot siala gundi,
Pinungka ni ompunta sijolojolo tubu, sipatureonta na di pudi

Dolok Imun sebagi tempat mengadakan pesta ke-7, mangkorjahon Raja Naipospos menjadi sombaon menjadi alasan bagi orang yang menyatakan bahwa makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun.

Pada kata sambutan Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H, dalam tertib acara Jubileum 75 Taon Partangiangan Pomparan Raja Naipospos menyatakan bahwa terdapat batu hobon yang menjadi pertanda makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun. Tetapi di dalam buku Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak oleh D. J. Gultom Raja Marpodang bahwa batu hobon adalah sebagai tempat penyimpanan barang pusaka. Seperti halnya batu hobon peninggalan keturunan Raja Batak yang terdapat di Sianjurmulamula yang belum diketahui barang pusaka apakah isinya. Dalam hal ini, batu hobon yang dilihat oleh Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H, beum tentu makam Raja Naipospos.

Dalam hal ini perlu dilakukan penelitian di Dolok Imun untuk mengungkap hal ini.

di Sipoholon

Bagi sebagian orang yang menyebutkan bahwa makam dari Raja Naipospos terdapat di Sipoholon. Menurut Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang (alm) tak banyak hal yang dapat dijadikan sebagai bukti kecuali sombaon same yang terdapat di Sipoholon. Siapa sangka dan siapa yang tahu kejadian yang terjadi beratus tahun lalu. Menurut Ricardo Parulian Sibagariang sebagai penulis artikel ini adalah bahwa mungkin saja pesta ke-7 diadakan di Dolok Imun namun Raja Naipospos dimakamkan di Sipoholon. Inilah yang menjadi bukti sekaligus fakta penguat bahwa Martuasame adalah julukan Raja Naipospos sendiri. Karena setelah Raja Naipospos (Martuasame) disantihon menjadi sombaon maka Raja Naipospos menjadi sombaon same. Karena dimana pun kita cari, tak ada tempat yang bernama sombaon Naipospos melainkan yang adalah adalah sombaon same.

Namun perlu diingat sebagai umat beragama yang berkeyakinan terhdap Tuhan sebagai sumber segala berkat dan karunia, tidaklah baik bagi kita untuk menjadikan orangtua menjadi sombaon. Karena itu sama saja dengan menduakan Tuhan.

Ndang jadi marangkup Ahu adong Debatam.II Musa 20:3

Sombaon same menjadi bukti nyata bahwa Raja Naipospos (Martuasame) yang menjadi sesembahan (sombaon) adalah makam Raja Naipospos sendiri.

Pendapat lain

Telah menjadi suatu kebiasan bagi umat manusia untuk berbeda pendapat, tetapi perbedaan pendapat tentang silsilah dalam suatu marga sungguh jarang ditemukan. Sehingga muncul suatu keprihatinan tertentu yang bersifat individu dengan adanya perbedaan pendapat mengenai siapakah Martuasame ini di kalangan keturunan Raja Naipospos sendiri.

Berikut ini 2 (dua) pendapat yang memang tak dapat dibuktikan kebenarannya namun sangat berkembang dan sering kali menjadi bahan pertentangan diantara keturunan Raja Naipospos:

Martuasame sebagai putera Raja Naipospos

Beberapa orang dengan tanpa alasan yang jelas menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang salah satunya disebut Martuasame. Martuasame kemudian dikatakan memperanakkan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

Suatu pendapat yang salah.

Martuasame sebagai nama untuk Toga Sipoholon

Bagi orang yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang salah satunya adalah Martuasame, menyebutkan Martuasame sebagai nama asli Toga Sipoholon.

Suatu pendapat yang tanpa alasan yang kuat dan jelas serta tentu saja pendapat yang salah.

Kesimpulan

* Martuasame adalah julukan Raja Naipospos.

* Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos.

* Martuasame bukanlah nama asli Toga Sipoholon dan Sipoholon hanya berupa nama daerah saja.

* Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu:

1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang.
2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
5. Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, Marbun Lumban Gaol.

Catatan kaki (referensi dan sumber)

Mansai harop do nian roha asa unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik on. Alai tapadimpudimpu jala tatambai ma natarsurat on molo tung adong nataboto taringot turiturian pinompar ni Raja Naipospos. Alai tong ma taingot unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik napinatupa on. Jala unang lupa hamu manurat goarmuna songon sipanambai dohot mual panorangionmuna di toru on. Porlu taboto molo adong turiturian taringot pangalaho naso patut sitiruon sian ompunta, unang pola tapabotohon tu situan natorop. Sae ma holan hita naumbotosa. bahasa Batak

* Ricardo Parulian Sibagariang sebagai penulis artikel Martuasame
* Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang (Alm), mantan Kepala Negeri utaraja sebagai sumber tertulis dalam buku sederhana susunannya sendiri tentang Raja Naipospos dan Keturunannya.
* Laris Kaladius Sibagariang, seorang yang dituakan dan kepala adat di utaraja Sipoholon sebagai sumber lisan.
* W. M. Hutagalung, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang ejudul Tarombo dohot Turiturian Bangso Batak
* D. J. Gultom Raja Marpodang, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang berjudul Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak tentang marga keturunan Raja Batak

Source : Ricardo Parulian Sibagariang (Naipospos Sibagariang)



Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...