Custom Search

Asmara Nababan di Mata Bara Hasibuan

Para penggiat Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia tengah berduka. Salah satu aktivis HAM, Asmara Nababan meninggal dunia setelah 17 hari mendapat perawatan medis di salah satu rumah sakit di Guangzhou, China, sejak 12 Oktober lalu. Guru dan pejuang HAM ini mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 4.

Asmara Nababan lahir di Siborong-Borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 2 September 1946. Seorang sarjana hukum yang mulai dikenal luas ketika berkiprah di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Sepak terjangnya di sebagai Sekjen Komnas HAM dengan membentuk beberapa tim pencari fakta (TPF) untuk membongkar kasus pelanggaran HAM.

Sebelum masuk Komnas HAM, Asmara Nababan giat di NGO internasional untuk Indonesia, menjadi Ketua Dewan Pengurus Lembaga Studi dan Advosai Masyarakat (ELSAM). Dalam kondisi sakitnya, Asmara Nababan tetap aktif memimpin Demos, sebuah Pusat Riset Demokrasi yang didirikannya bersama sejumlah pejuang HAM dan Demokrasi antara lain almarhum Munir, Arief Budiman, almarhum Th Sumartana, dan Nasikun.

Ketua DPP PAN Bara Hasibuan pun memiliki kesan tersendiri terhadap almarhum. Bara Hasibuan secara khusus memposting tulisannya untuk mengenang Asmara Nababan di akun Twitternya, Kamis (28/10/2010). Bara Hasibuan mengawali twitt-nya dengan menuliskan, "Turut berduka cita atas meninggalnya Asmara Nababan, mantan Sekjen Komnas HAM dan aktivis HAM sejati."

Lebih lanjut dia memaparkan sosok Asmara Nababan yang meniti karier dari LSM/NGO. "Background Asmara Nababan sebetulnya adalah NGO, tapi ia setuju untuk masuk ke sistem dengan masuk ke Komnas HAM tahun 1993," demikian Bara membuka sisi kehidupan Asmara Nababan.

Ketika Komnas HAM dibentuk tahun 1993 beberapa aktivis menolak masuk karena dianggap hanyalah cara Soeharto untuk counter tekanan dari barat. Beberapa aktivis menolak masuk juga karena ada beberapa nama yang diragukan kredibiltasnya dan dianggap kepanjangan tangan penguasa. "Tapi Asmara setuju untuk masuk. Ini menunjukkan bahwa sebagai aktivis dia mampu untuk bersikap realistis dalam berjuang," sebutnya.

Mundur ke belakang sedikit, tahun 1993 ada Konferensi HAM sedunia kedua di Wina, di mana delegasi Indonesia dipimpin oleh Menlu Ali Alatas. Setelah konferensi itu, Alatas mengusulkan kepada Soeharto untuk membentuk komisi khusus soal HAM. "Soeharto setuju dan dibentuklah Komnas HAM Des 1993," kata Bara Hasibuan.

Dia melanjutkan, banyak yang mengganggap Soeharto setuju dibentuk Komnas karena itu cara efektif untuk menghadapi tekanan internasional. Soal HAM, khususnya dalam konteks Timor Timur.

Dengan membentuk Komnas HAM, pemerintahan Soeharto bisa menunjukkan bahwa mereka juga peduli dengan isu-isu HAM. "Dan itu yang dipakai oleh para aktivis, termasuk Buyung Nasution dan Mulya Lubis, untuk mempertanyakan kredibilitas Komnas HAM," jelasnya.

Apa dasarnya? Komnas HAM dianggap tidak bisa bekerja secara maksimal dan independen, hanya akan dikooptasi oleh Soeharto. Tapi banyak aktivis juga yang mengganggap Komnas HAM justru bisa dipakai, pada level-level tertentu, sebagai kendaraan untuk memperjuangkan HAM.

Salah satunya yang menganggap itu adalah Asmara Nababan, yang pada waktu aktif di INFID, sebuah organisasi gabungan NGO internasional untuk Indonesia. Pada waktu itu di kalangan NGO banyak yang mempertanyakan kenapa Asmara Nababan mau bergabung dengan Komnas HAM. "Mungkin Asmara berpikir dalam berjuang untuk mencapai cita-cita besar dituntut juga sikap realistis, tentu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar," tulis Bara Hasibuan selanjutnya.

Di kepengurusan Komnas HAM I, Asmara menjadi salah satu anggota. Ketua Ali Said, Wakil Ketua Marzuki Darusman & Bambang Soeharto. Sekjen Baharudin Lopa. Ternyata Komnas HAM cukup mengejutkan karena mampu mengekspos berbagai pelanggaran HAM, termasuk sebelum Soeharto jatuh tahun 1998. Bahkan pada waktu itu ada yang menganggap Komnas HAM semacam "superbody."

Kasus-kasus yang diekspose oleh Komnas HAM sebelum Soeharto jatuh anatara lain peristiwa 27 Juli, kasus Marsinah, kasus penculikan aktivis dan banyak lagi. Khusus untuk kasus penculikan aktivis peran Komnas HAM dalam mengungkap kasus itu sangat besar.

Aktivis pertama yang memberikan testimoni publik adalah Pius Lustrilanang dan hal itu dilakukan di Kantor Komnas HAM awal 1998. "Sebelumnya, Pius dijemput di rumah orangtuanya di Palembang. Tadinya ia ragu-ragu untuk berbicara karena takut akan keselamatannya. Setelah Pius kasih testomoni dia langsung dibawa ke airport untuk terbang ke Belanda," kata Baharudin.

Lebih lanjut dia menceritakan suasana waktu itu masih mencekam, karena Soeharo masih berkuasa sehingga Pius harus ke luar negeri demi keselamatannya. "Testimoni di Komnas HAM itulah yang merupakan titik awal dari pengungkapan kasus itu dan terbongkar bahwa penculikan dilakukan oleh Tim Mawar."

Balik ke Asmara, menurut politisi Senayan ini, dia terlibat di berbagai Tim Pencari Fakta (TPF) Komnas HAM. Salah satunya TPF 27 Juli. Tahun 1998, di kepengurusan Komnas HAM II Asmara terpilih sebagai sekjen.

Selama Asmara menjabat sekjen Komnas HAM sangat aktif membentuk KPP HAM untuk menyelidiki berbagai kasus pelanggaran HAM. KPP HAM yang terbentuk antara lain Trisakti/Semanggi, Timor Timur, Tanjung Priok, Kerusuhan Mei, Penghilangan Orang 97/98, Talang Sari, dan KPP Abepura. Dari berbagai KPP HAM itu ada beberapa aktivis LSM yang terlibat sebagai anggota seperti Munir, Mulya Lubis, Hendardi, dan Usman Hamid.

Di kepengurusan Komnas HAM II, Asmara masuk ke dalam grup yang memilih untuk bersikap keras terhadap mereka yang bertanggung jawab atas kasus HAM. Selain Asmara, yang masuk grup ini adalah Emil Salim, Albert Hasibuan, Saparinah Sadli, dan HS Dillon.

Selain keras, tokoh-tokoh itu juga dianggap terlalu dekat dengan kelompok LSM, sehingga membuat banyak anggota lainnya tidak begitu nyaman. Walaupun hampir semua hasil investigasi Komnas HAM tidak berujung pada pengadilan, lembaga itu berkontribusi besar dalam mengekspos kasus-kasus HAM.

Bagaimanapun juga, peran Asmara Nababan dalam mendorong pembentukan berbagai KPP HAM dan melibatkan tokoh-tokoh LSM sangat besar. "Demikianlah tweeps, tweets saya untuk mengenang Asmara Nababan, khususnya dalam konteks Komnas HAM," tutup Bara Hasibuan

okezone



MYCULTURED



No comments:

Post a Comment

Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...