Custom Search

BANJARNAHOR dan Marga-marga Keturunannya

BANJARNAHOR menjadi marga bagi keturunan anak kedua MARBUN, tetapi bagi keturunan Banjarnahor yang berdiam di Parmonangan, Parbotihan maupun Samosir lebih cenderung memakai marga MARBUN.

Pada awalnya Banjarnahor bermukim di Bakkara, mempunyai dua orang anak yaitu : GURDUNG MALELA dan ATAS BARITA.

Di Bakkara, Banjarnahor mempunyai perkampungan yang cukup luas dan sumber air /pansur (Humban) yang sangat baik untuk keperluan sehari-hari termasuk pengairan sawah-sawah yang ada di sekitarnya. Sumber mata air itu menjadi harta warisan dari Banjarnahor kepada kedua orang anaknya. Sumber air/pancur atau sumur (humban) yang ada di hulu diberikan kepada Gurdung Malela dan sumber air/pancur/sumur (humban) yang satunya diberikan kepada Atas Barita.

Anak keturunan mereka dikemudian hari untuk mengetahui kedudukan dalam kekeluargaan marga Banjarnahor biasa mempertegas dengan bertannya : Bakkara dia ma hamu? Apabila dijawab dengan HUMBAN JULU, berarti kedudukan mereka adalah “siabangan” keturunan Gurdung Malela, dan apabila dijawab dengan HUMBAN SOLOTAN berarti mereka “siadek” keturunan si Atas Barita.

Dari Bakkara, keturunan Banjarnahor ada yang membuka perkampungan di daerah HUMBANG seperti Doloksanggul dan Sihikkit sekarang.

Salah seorang keturunan Banjarnahor bernama PANDEBOSI mengambil janda seorang marga Manalu menjadi isterinya dan menganggap anak pertama isterinya tersebut sebagai anaknya sendiri, sejak saat itu hingga sekarang persaudaraan itu tetap terjaga dan keturunan mereka tidak saling kawin, malah saat ini bukan hanya keturunan Pandebosi tetapi semua yang masuk marga Banjarnahor menganggap seperti saudara dengan marga Manalu.

MYCULTURED



No comments:

Post a Comment

Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...