Custom Search

Terbentuknya Sub-suku Batak

MYCULTURED

Suku Batak adalah berasal dari Hindia Belakang/Selatan, keturunan Melayu Tua (Proto Melayu) dan kemudian kawin dengan Melayu Muda (Deutro Melayu). Kemudian terjadi assimilasi kebudayaan imigran atau transmigran pertama yakni Melayu Tua, dengan pendatang (imigran atau transmigran) berikutnya yakni Melayu Muda menjadi kebudayaan yang lebih berkembang (lebih maju). Proto Melayu (Melayu Tua) adalah berasal dari Hindia Belakang, yang menjadi Suku Batak datang dari dua arah yaitu pertama dari pantai barat pulau Sumatera (baik imigran dari Hindia Belakang maupun Transmigran dari kerajaan Sriwijaya maupun Kerajaan Melayu Jambi), dan kedua adalah dari arah pantai Timur pulau Sumatera terutama dari daerah Aceh Timur (kerajaan Haru, kerajaan Tamiang dan lain lain).


Deutro Melayu (Melayu Muda) masuk melalui pantai Timur pulau Sumatera. Masing-masing pendatang (imigran atau transmigran bergerak menuju kawasan Danau Toba. Pergerakan manusia Proto Melayu dan Deutro Melayu menuju kawasan Danau Toba disebabkan (dipengaruhi) pasang-surut kekuasaan kerajan yang ada berkuasa di pulau Sumatera (kerajan kecil yang tahluk kepada kerajaan besar di Nusantara yakni kerajaan Sriwijaya) dan pulau Jawa (kerajaan Majapahit) sekitar abad ke-6 sampai abad- ke-14 M, serta kemudian akibat pengaruh penyebaran agama Islam di daerah Aceh, daerah Deli dan daerah Sumatera Barat..

Dengan demikian Suku Batak berasal dari (1) imigran masuk dari pantai Timur pulau Sumatera dan/atau trasmigran dari kerajaan Tamiang, kerajan Haru, kerajaan Pasai, yang menyebar menuju kawasan Danau Toba dipengaruhi oleh pasang-surut kekuasaan kerajaan tersebut dan pengaruh Penyebaran Agama Islam, dan (2) imigran yang masuk dari pantai Barat pulau Sumatera dan/atau transmigran dari daerah Barus dan daerah Mandailing Natal, dari sekitar Candi Portibi, penyebaran mereka menuju kawasan Danau Toba dipengaruhi oleh pasang-surut kekuasaan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Melayu Jambi serta perkembangan agama Islam di daerah Sumatera Selatan.

Kerajaan Sriwijaya pada zamannya mempunyai pasukan yang bertugas menerima upeti dari kerajaan kerajaan kecil yang ada di Nusantara. Sewaktu kerajaan Sriwijaya ditahlukkan kerajaan Colamandala tahun 1025 M menyebabkan sebahagian pasukan yang sedang bertugas meminta upeti dikerajaan kecil di daerah Aceh dan Sumatera Utara tidak kembali ke pusat kerajaan Sriwijaya. Pasukan kerajaan Sriwijaya ini bersama penduduk asli (Proto Melayu) kawin dan berassimilasi budaya membentuk masyarakat Proto Batak.Masyarakat Proto Batak adalah sekelompok manusia yang telah mempunyai kebudayan yang telah dipengaruhi agama Hindu dan agama Animisme yang relatip sulit dimasuki ajaran agama Islam pada zaman dahulu. Berdasarkan pertimbangan hal-hal yang diuraikan di atas dan berdasarkan kemiripan bahasa, sastra dan aksara, maka asal-usul sub-suku Batak (Proto-Batak) dapat dibedakan terdiri dari 2 bagian yaitu, (1) Proto-Batak Utara (yang terdiri dari: Pakpak, Karo. dan Alas/Gayo) dan (2) Proto Batak Selatan (yang terdiri dari: Simalungun, Toba, Angkola dan Mandailing) seperti ditunjukkan pada gambar-denah berikut:

Imigran ataupun Transmigran yang masuk ke daerah kawasan danau Toba datang secara bertahap atau bergelombang dalam periode waktu berbeda, dan kemudian terjadi perkawinan ataupun assimilasi budaya. Setiap gelombang bergerak menuju daerah yang dianggap paling subur. Pendatang yang lebih awal akan mendapat (bertahan tinggal) di daerah yang lebih subur, sebaliknya pendatang yang lebih belakangan akan mendapat daerah yang lebih tandus. Pada mulanya suku Batak adalah hidup nomade (manusia yang tingkat kebudayaannya hidup dari memungut hasil tumbuhan secara alami dan menangkap ikan serta berburu binatang/burung dan tempat tinggal berpindah-pindah), kemudian berkembang ke tingkat budaya pertanian berpindah-pindah, pertanian tradisional dan hingga pertanian modern (sekarang).

Memperhatikan tingkat kesuburan tanah daerah kawasan danau Toba, yang tergolong tanah yang lebih tandus adalah daerah yang ditempati Sub-suku Batak Toba (yang paling luas). Apakah hal ini dapat menjadi indikator bahwa suku Batak Toba adalah Imigran atau Transmigran yang belakangan dari kelompok Sub-suku Batak Karo, dan Pakpak (yang menempati tanah yang lebih subur)..…?.Kondisi lahan yang kurang subur, menempa penduduknya (Sub-suku Batak Toba) harus lebih agresip, berwatak yang harus lebih keras berpikir, harus lebih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan kemudian menyebabkan sebagian penduduknya pergi merantau ke daerah lain (karena keterbatasan sumberdaya alam di tempat tinggal mereka). Orang perantau terdikondisikan menjadi lebih rajin dibanding penduduk yang dijumpainya. Masyarakat pada daerah lebih tandus terpaksa harus lebih rajin, bekerja keras, ulet dan akhirnya lebih pintar atau lebih maju dibanding masyarakat daerah yang lebih subur. Kenyataan ini terwujud secara rata-rata pada suku Batak Toba yang umumnya menjadi pribadi yang lebih rajin, bekerja keras, ulet, sifat terbuka, lebih berkembang kemajuannya dibanding Sub-suku Batak lainnya.

Proto Batak Pakpak adalah keturunan Proto Batak Utara (Alas/Gayo, Karo, Pakpak) hasil perkawinan (assimilasi) kelompok imigran dan transmigran lokal suku keturunan bangsa Colamandala dari India Selatan melalui pantai kota Barus, Mandailing-Natal, pasukan kerajan Sriwijaya maupun kerajan Melayu Jambi dan Melayu-tua dari kerajaan Tamiang di Aceh Timur, yang telah menganut sistim demokrasi. Dalam menjalankan Demokrasi pada suku Batak dianut “The Trias Manner of Batak Culture” yakni 3 alur/sikap (perilaku) utama dalam budaya (hubungan antar manusia) suku Batak.

Pada Batak Pakpak 3 prilaku utama tersebut, yang dilaksanakan dalam hidup berbudaya adalah meliputi (1) Sembah Merkula-kula, (2) Manat merdengngan tubuh, ( 3) Elek merberru, yang dilaksanakan dalam kelompok yang relatip besar yakni masyarakat beradat yang disebut Silima Sulang. Silima Sulang adalah 5 unsur kekerabatan dari masing-masing kelompok (kula-kula dan anak berru), yaitu (1) Perisang-isang (anak tertua), (2) Pertulan Tengah (anak pertengahan), (4) Perekor-ekor (anak bungsu), (4) Puncanidip atau Puncaniadop (saudara semarga atau satu kakek) dan (5) Anak Berru. Sulang dapat diartikan memberikan makanan sebagai wujud rasa hormat kepada kula-kula dan sebaliknya rasa kasih-sayang kepaada berru (disebut menggohon-gohoni) Pada Batak Karo dikenal 3 cara tersebut adalah Rakut Sitellu yang dilaksankankan dalam adat daerah berdasarkan Tutur Siwaluh. Pada keturunan Proto Batak Selatan 3 cara tersebut disebut Dalihan Natolu

Penulis
Jawaller Matanari, Ir. MS
Ketua PERMANA (Perpulungen Matanari, Berru/Berrena) Medan dan Sekitarnya




No comments:

Post a Comment

Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...