Custom Search

Gagal atau Kurang Berhasilkah Pesta Danau Toba?

Mungkin jumlah wisatawan yang datang tidak sebanyak yang kita duga. Namun mudah-mudahan nanti banyak juga yang datang," demikian ungkapan spontan Cosmas Batubara di tepi Danau Toba, Parapat pada hari Rabu petang(20/10) .

Entah apa yang ada di dalam benak mantan menteri negara perumahan rakyat itu ketika melontarkan ucapan jujur itu saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Pesta Danau Toba 2010 . Pada acara tahunan itu, yang berlangsung hingga hari Minggu(24/10) ternyata tidak banyak nampak wisatawan nusantara apalagi mancanegara.

Yang kelihatan sebagian besar adalah orang-orang atau warga di sekitar Danau Toba saja.

Koran-koran terutama terbitan Sumatera Utara pada hari Kamis dan Jumat juga memberikan komentar yang serupa.

"Jangankan menteri. Gubernur saja tidak datang," demikian laporan sebuah surat kabar pada hari Kamis. Yang dimaksud menteri adalah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Sementara gubernur yang dicecar adalah Gubernur Sumatera utara Syamsul Arifin. Sementara itu, media lainnya menulis "Pesta Danau Toba 2010 sepi pengunjung".

Padahal acara "akbar" ini didukung oleh sedikitnya lima BUMN yakni Pelindo I,II,III hingga IV serta Garuda Indonesia. Belum lagi BUMD, Bank Sumut serta sejumlah perusahaan swasta.

Cosmas Batubara yang didaulat untuk berbicara sebagai seorang tokoh Sumatera Utara menyebutkan ketika 31 tahun lalu menjadi menteri, festival kebudayaan ini sudah ditontonnya. Padahal diingatkan nya , kedatangan seorang wisatawan akan membuka lapangan kerja bagi enam orang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pada setiap kunjungan wisatawan dalam negeri maka dari koceknya keluar 300 dolar AS hingga 500 dolar.

"Sementara itu , wisatawan asing dalam setiap kunjungannya bisa menghabiskan 1000 dolar AS," kata Sapta Nirwandar yang merupakan mantan sekjen Departemen Kebudayaan dan pariwisata yang namanya kini berubah menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Jika ucapan Cosmas Batubara sebagai putra daerah dan Sapta Nirwandar direnungkan, maka seharusnya pesta tahunan ini mampu menarik perhatian ribuan pengunjung mulai dari turis lokal hingga warga asing.

Karena sudah puluhan tahun dilaksanakan, maka sebenarnya adalah hal yang amat wajar jika Pesta Danau Toba ini sudah menjadi incaran wisatawan yang datang sendiri-sendiri maupun secara berkelompok lewat jasa biro perjalanan.

Apa yang menjadi penyebab minimnya jumlah pengunjung ke danau yang sangat indah ini?

Ucapan Sapta Nirwandar amat baik dijadikan bahan renungan bagi para anggota panitia Pesta Budaya Toba tahun 2010 maupun di masa mendatang.

Pejabat ini yang dikenal mempunyai perhatian sangat besar bagi pengembangan pariwisata di kancah nasional ini mengingatkan bahwa kegiatan-kegiatan sejenis ini harus dirancang akan berlangsung secara teratur.

"Kegiatan semacam ini harus dijadikan event tetap dengan jadwal yang tetap pula, karena pasti turis dari mana pun juga tidak hanya ingin mengunjungi Toba tapi juga daerah serta obyek-obyek wisata lainnya," katanya.

Ucapan semacam ini patut dicerna secara baik oleh panitia Pesta Danau Toba sekarang maupun mendatang serta berbagai kegiatan sejenis lainnya. Dahulu acara ini dilaksanakan bulan Juli atau paling lambat Agustus. Sedangkan sekarang ini sudah bulan Oktober.

Bulan Juli adalah waktu yang paling menguntungkan karena saat anak sekolah mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas menikmati liburan panjang setelah menerima rapor.

Kalaupun ada pesta budaya yang dilaksanakan bulan September atau bahkan Oktober, maka mereka tentu tidak mungkin diizinkan oleh orang tuanya untuk membolos. Tentu anak-anak harus disuruh rajin belajar karena baru memasuki tahun ajaran baru.

"Pesta tandingan"

Pada hari Kamis (21/10) beberapa seniman asal Medan dan dari kawasan sekitar Danau Toba mengajak beberapa wartawan untuk bercakap-cakap tentang kegiatan pesta ini.

"Dari sebuah daerah yang kurang lebih tiga kilometer dari sini ada wacana untuk melakukan `kegiatan tandingan`," kata seorang seniman bernama Herry.

Sementara seniman lainnya, Endra mengatakan mereka tidak peduli atau tidak berurusan dengan pikiran untuk menyelenggarakan sebuah "pesta tandingan" terhadap Pesta Danau Toba ini.

Ungkapan bahwa ada keinginan untuk melakukan "pesta tandingan" biar bagaimanapun juga merupakan hal baru sehingga patut dipikirkan untung ruginya.

Kalau yang sekarang saja sudah tidak menarik perhatian wisatawan nusantara apalagi mancanegara, maka apa yang bakal terjadi jika misalnya di kawasan Danau Toba berlangsung dua hingga tiga kegiatan sejenis secara bersamaan.

Para pengunjung akan bingung atau kerepotan untuk memilih acara yang ingin ditontonnya, padahal jenis atau ragam acara budaya itu relatif kurang lebih sama.

Bisa-bisa terjadi keributan di antara para penyelenggara serta pendukung mereka. Aparat keamanan seperti polisi, babinsa atau bintara pembina desa, akan kerepotan atau kebingungan untuk menangani bentrokan atau perbenturan fisik, apalagi jika yang bentrok itu masih ada hubungan kekeluargaan atau famili.

Sementara itu, sumber lainnya menyebutkan bahwa Pesta Danau Toba ini tidak mendapat dukungan penuh dari para tokoh masyarakat terutama "elit politik" karena ada wacana untuk membentuk provinsi baru yang disebut-sebut bisa bernama "Provinsi Tapanuli" atau ""Protap".

Jika provinsi pecahan dari Provinsi Sumatera Utara ini jadi terbentuk maka wilayahnya akan berada di sekitar Danau Toba ini. Sekarang di sekitar Toba ini, terdapat tujuh kabupaten.

Kalau melihat Pesta Danau Toba 2010 ini tidak menghasilkan banyak hal positif bagi warga sekitarnya mulai dari naiknya tingkat hunian hotel , lakunya barang dagangan para pedagang, melonjaknya jumlah pengunjung warung atau restoran hingga "tetap samanya" jumlah kunjungan wisatawan maka tentu harus dipikirkan masa depannya acara budaya ini, apakah akan diteruskan atau tidak dan kalau diteruskan bagaimana caranya agar bisa benar- benar menarik minat wisatawan.

"Kalau Pesta Danau Toba pada masa mendatang hanya `begitu-begitu` saja maka bisa diperkirakan akan semakin sepinya para pengunjung. Belum lagi kalau dicampur-adukkan dengan urusan politik "lokal" seperti pembentukan provinsi baru yang akan menambah carut-marutnya persoalan Danau Toba ini.

Sebuah wacana agar pemerintah hanya menjadi regulator sehingga penyelenggaranya adalah orang-orang swasta patut direnungkan atau ditimbang-timbang segi positif dan negatifnya kalau memang mau agar Pesta Danau Toba tetap terus berlangsung tanpa harus dibebani persoalan yang tak berkaitan seperti pembentukan provinsi atau kabupaten baru. (Antara/Arnaz Ferial Firman)

MYCULTURED



No comments:

Post a Comment

Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...