Custom Search
Showing posts with label MYCULTURED. Show all posts
Showing posts with label MYCULTURED. Show all posts

Penjelasan Komunitas Mandailing di Malaysia Soal Tari Tor-tor

Komunitas Mandailing di Malaysia meminta saudara mereka di Indonesia memahami usulan soal tari Tor-tor masuk dalam warisan kebudayaan negeri jiran. Salah satu alasannya adalah agar Tari Tor-tor bisa lestari dan mendapat pengakuan negara, tidak hanya dipentaskan di rumah saja.

"Kami sudah 200 tahun di sini, sebelum wujud Malaysia dan Indonesia, kami sudah ada di sini. Kenapa tidak boleh kebudayaan Mandailing ada," ujar tokoh Mandailing di Malaysia, Ramli Abdul Karim Hasibuan, saat berbincang dengan, Senin (18/6/2012).




Ramli juga mempersoalkan bahasa yang digunakan media di Indonesia soal 'klaim'. Tidak ada yang namanya Malaysia mengklaim tari Tor-tor. Dia bercerita tor-tor merupakan bahasa Mandailing yang artinya tarian-tarian.

Dia bersama 500 ribu warga komunitas warga Mandailing dari berbagai macam marga di Malaysia antara lain Nasution dan Siregar, ingin budaya Mandailing diakui juga oleh pemerintahnya.

"Ini sudah hampir 70 tahun kami perjuangkan. Kemarin 14 Juni ada acara Perhimpunan Anak Mandailing, dan kami meminta kepada yang terhormat Menteri Penerangan supaya kebudayaan Mandailing diangkat sama tingginya dengan budaya China dan India, juga dengan budaya Minang dan Jawa. Saat itu disebutkan akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam akta warisan negara, sebagai pelestarian suatu budaya," terang Ramli yang sempat mengajak detikcom berbicara bahasa Mandailing ini.

Ramli menegaskan, tari Tor-tor diusulkan sebagai warisan kebudayaan bangsa bukan berarti diklaim Malaysia, tapi justru agar dilestarikan, dipelihara dan dipertahankan supaya jangan hilang.

"Selepas masuk dalam pelestarian budaya, akan diberi peruntukan budget keuangan bagi kebudayaan ini. Jadi tidak ada niat Malaysia mengklaim milik Malaysia, kalau disebut itu milik Mandailing," jelasnya.

Masyarakat Mandailing sudah selama 200 tahun berkiprah di Malaysia. Mereka tersebar mulai dari wilayah Perak, Selangor, Negeri Sembilan, hingga Kuala Lumpur. Keturunan Mandailing dari marga Nasution dan Siregar bahkan banyak yang menjadi pejabat di pemerintahan Malaysia.

"Kami ingin budaya Mandailing juga diangkat di sini. Kami berpesan kepada saudara kami di Mandailing, kami juga warga Mandailing, kami ingin kebudayaan kami diakui di Malaysia. Tidak ada diklaim, tapi dilestarikan. Bukan hanya sekadar dipentaskan di belakang rumah," tuturnya.

Ramli mengibaratkan dengan kesenian Barongsai yang di era Gus Dur diperbolehkan dipertunjukkan di Indonesia. Tapi kesenian Barongsai itu pun tidak otomatis diklaim menjadi milik Indonesia, sebatas hanya menjadi kebudayaan saja.

"Kami hanya ingin budaya Mandailing di Malaysia dilestarikan," tegas Ramli yang juga editor di harian Utusan Malaysia ini.

detikNews


Tim Evakuasi Korban Sukhoi Temukan KTP Atas Nama Kornelis Sihombing

Tim evakuasi telah mencapai titik lokasi kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Tim menemukan beberapa identitas penumpang yang tercecer di lokasi.

Informasi yang diperoleh detikcom, Sabtu (12/5/2012), dari salah seorang relawan evakuasi, Duyeh, tim menemukan identitas atas nama Kornelis Sihombing yang ditemukan dalam sebuah dompet.

Selain itu, ditemukan juga sebuah kartu ATM Mandiri Platinum Dolar berwarna biru-putih atas nama Ganis Arman Zuvianto.




Identitas lain yang ditemukan adalah KTP atas nama Gatot Purwoko, Purworejo, Jalan Grinting 1, No 7 004/006, Kel Pulo, Kec Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Identitas tersebut ditemukan tidak jauh dari puing-puing dan properti penumpang yang berserakan. Di lokasi tersebut juga terlihat kondisi jasad-jasad yang tidak lagi utuh. Tim tidak bisa memastikan identitas temuan tersebut.

Beberapa properti seperti laptop dan BlackBerry juga ditemukan di lokasi kecelakaan.

detikNews



Sekolah di Tarutung Diliburkan Pascagempa

Aktivitas belajar mengajar di lokasi gempa di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara (Sumut), terpaksa diliburkan, karena bangunan sekolah tidak mungkin digunakan.

Apalagi, gempa susulan masih terus menguncang daerah itu, sehingga dikhawatirkan melukai murid jika aktivitas belajar tetap dilaksanakan. Oleh karena itu, murid yang telanjur datang ke sekolah dipulangkan oleh guru mereka.

Salah satu sekolah yang aktivitas belajar mengajarnya diliburkan adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) Huria Kristen Indonesia yang kondisi bangunannya retak-retak. Murid-murid sekolah itu dipulangkan setelah guru mengumumkan bahwa aktivitas belajar mengajar ditiadakan.

Sebelum dipulangkan, mereka menyempatkan diri bersama-sama melakukan kebaktian, memohon agar bencana di daerah mereka segera berakhir. Apalagi, para murid akan melaksanakan ujian semester beberapa hari lagi.

Pihak sekolah berencana membuat tenda darurat sebagai sarana ujian. "Kita masih menunggu petunjuk dari kepala sekolah atau Dinas Pendidikan Tapanuli Utara," kata Suparman Hutabarat, salah seorang guru, Rabu (15/5). (MediaIndonesia.com)


MYCULTURED

TOKOH BATAK

Gisheila Nainggolan, Siswi dengan Nilai Matematika UN Sempurna

Satu langkah lagi hampir dicapai Gisheila Ruth Anggitha Nainggolan (16) untuk menjadi dokter anak. Tekun belajar dan fokus pada mata pelajaran yang akan diuji di Ujian Nasional (UN) berbuah manis. Lulusan SMAN 81 Jakarta ini lolos tanpa tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Anak perempuan kedua dari tiga bersaudara ini mengaku terkejut ketika Pemerintah DKI Jakarta dan pihak sekolahnya mengumumkan dirinya mendapat nilai IPA UN tertinggi se-DKI Jakarta. Nilai rata-rata yang didapatnya dari ujian tersebut adalah 57,5 dari 6 pelajaran yang diuji.

Melihat nilai yang didapat, bukan main tingginya. Mata pelajaran eksak mendapat nilai rata-rata di atas 90, hanya pelajaran Bahasa Indonesia yang terendah.

Anak perempuan yang gemar membaca novel dan roman ini memiliki nilai tertinggi dalam pelajaran Matematika, 100. Disusul Biologi, Fisika, dan Kimia dengan nilai 97,5 dan Bahasa Inggris 94. Kemudian Bahasa Indonesia mendapat poin 86.

"Dari semua pelajaran cuma Bahasa Indonesia yang deg-degan pas ngerjain soalnya. Kalau yang lain masih bisa tenang," ujar siswi yang mendapatkan kesempatan belajar di kelas Akselerasi SMAN 81 Jakarta, saat ditemui wartawan di halaman sekolah, Jl Kartika Eka Paksi, Makassar, Jakarta Timur, Kamis (26/5).

Gadis berperawakan kurus tinggi ini menuturkan alasannya bisa mencapai nilai tertinggi eksak. Baginya pelajaran eksak lebih dianggap mudah daripada pelajaran sosial pada umumnya. Dia menuturkan, pelajaran sosial terlalu banyak yang harus dihafal. Sementara eksak lebih kepada penajaman dan pelatihan dalam menyelesaikan soal.

"Dari semua pelajaran eksak saya lebih suka Kimia, seru aja kalau Kimia," kata Gisheila yang beberapa kali mendapat rangking 3 besar selama bersekolah.

Bukan hanya dia yang terkejut ketika diumumkan mendapat nilai tertinggi IPA dalam UN. Keluarga dan sekolah juga terkejut sekaligus bangga Gisheila mendapatkan prestasi tersebut.

Prestasi tersebut bukan didapat secara simsalabim. Saat bersekolah, dia lebih memilih membaca dan menyelesaikan soal-soal latihan pelajaran. Ketika UN mulai mendekati hari, Gisheila justru tidak menyibukkan dirinya dengan belajar.

"Deket-deket ujian saya cuma mengulang apa yang pernah dipelajari, nggak terus dipaksakan belajar. Karena kalau sudah capek malah pelajaran enggak akan masuk," ujarnya.

Bukan hanya itu. Kunci kesuksesan, menurutnya, adalah ketekunan dan sungguh-sungguh untuk meraih apa yang dicita-citakan. Sikap itu didapatnya ketika gagal masuk ke SMAN Lapan, Bukit Duri, Jakarta Pusat.

Dia tidak patah arang dengan kegagalan yang diterimanya tersebut. Di bangku sekolah SMA yang pernah ia tempati, dia fokus berupaya untuk dapat melenggang ke kampus UI Fakultas Kedokteran.

"Di mana pun kita ditempatkan asal kita serius pasti tercapai," tuturnya seraya melepas kacamata yang dipakainya.

Kini Gisheila dapat bernapas lega. Cita-citanya duduk di Kedokteran UI dapat tercapai berkat usaha yang dilakukannya. Selamat!(detikNews)

MYCULTURED



Tahun 1966 Masyarakat Batak Di Jakarta Menyumbang Beras dan Uang Kepada Pemerintah Indonesia





Pemahaman Rumah Adat Suku Batak

Suku Batak adalah salah satu suku di Indonesia yang banyak sekali tinggal di pulau Sumatera, namun saat ini keturunan suku Batak sudah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu ciri khas yang menarik adalah rumah adat suku Batak yang bentuknya sangat unik.

Rumah adat suku Batak Toba disebut juga ‘rumah bolon’. Rumah ini berbentuk panggung dengan bahan utama bangunan berupa kayu. Hal yang paling menarik perhatian adalah bentuk atapnya yang melengkung dan runcing di tiap ujungnya.

Di balik bentuknya yang sangat unik, ternyata rumah adat suku Batak ini memiliki makna dan arti tersendiri.Filosofi rumah adat suku batak memang sangat menarik untuk dipelajari, mulai dari proses pembangunan rumah sampai segala dekorasi, ternyata semuanya memiliki makna yang cukup dalam.

Pembangunan Rumah Bolon

Proses pembangunan rumah adat suku Batak selalu dilaksanakan secara gotong royong. Bahan yang digunakan adalah bahan yang dengan kualitas baik, umumnya seorang pande (tukang) akan memilih kayu-kayu dengan cara memukul kayu tersebut dengan suatu alat untuk mencari bunyi kayu yang nyaring.

Pondasi rumah adalah hal yang terpenting, dibuat dengan formasi berbentuk segi empat, dipadu tiang dan dinding yang kuat. Makna dari pondasi ini sendiri adalah saling bekerja sama demi memikul beban yang berat.

Untuk bagian atas rumah, ditopang oleh sebuah tiang yang biasa disebut tiang “ninggor” dibantu oleh kayu penopang yang lain. Tiang “ninggor” ini lurus dan tinggi, orang suku Batak memaknainya sebagai simbol kejujuran. Untuk menjunjung tinggi kejujuran, perlu didukung oleh rasa keadilan (disimbolkan oleh kayu penopang pada “ninggor”).

Di bagian depan atap terdapat “arop-arop” bermakna harapan untuk bisa hidup layak. Lalu ada “songsong boltok” untuk menahan atap, yang punya arti bila ada pelayanan tuan rumah yang kurang baik sebaiknya dipendam dalam hati saja.

Interior Rumah Adat Suku Batak

Orang suku Batak selalu membersihkan ruangan rumah dengan cara menyapu semua kotoran dan mengeluarkannya lewat lubang “talaga” yang ada di dekat tungku masak. Hal ini juga bermakna untuk membuang segala keburukan di dalam rumah, juga melupakan kelakuan-kelakuan yang tidak baik.

Di dalam rumah terdapat semacam rumah panggung kecil yang mirip balkon pada rumah biasa. Tempat ini untuk menyimpan padi, bermakna pula sebagai pengharapan untuk kelancaran rezeki.

Di setiap rumah di bagian pintu masuk, selalu ada tangga. Bagi orang lain, bila ada tangga rumah rusak, mungkin akan mengeluh. Tapi bagi orang Batak, bila tangga rumah ini cepat rusak/aus, itu malah membanggakan. Karena itu artinya sering dipakai orang/dikunjungi orang karena tuan rumah tersebut adalah orang yang baik dan ramah.

Gorga

Gorga adalah pahatan/ukiran kayu yang ada pada rumah adat suku Batak. Hiasan ini sendiri memiliki nama-nama tersendiri berdasarkan bentuk ukirannya :

* Gorga simataniari (matahari) : menggambarkan matahari yang merupakan sumber kehidupan manusia.

* Gorga desa naualu : menggambarkan 8 penjuru mata angin yang sangat berkaitan erat dengan aktivitas ritual suku Batak

* Gorga singa-singa : menggambarkan tuan rumah sebagai orang yang kuat, kokoh, pemberani dan berwibawa.

Itu beberapa contoh nama gorga, masih cukup banyak nama gorga lainnya yang memiliki makna tertentu. Gorga sendiri sering dilukis dengan 3 warna :

* Merah : melambangkan kecerdasan dan wawasan yang luas sehingga lahir kebijaksanaan.
* Putih : melambangkan kejujuran yang tulus sehingga lahir kesucian.
* Hitam : melambangkan kewibawaan yang melahirkan kepemimpinan.
(Oleh: AnneAhira)

Mengenal Lebih Dekat Rumah Adat Suku Batak

Rumah adat suku Batak di Sumatera Utara ada yang dipasangi tanduk kerbau di pucuk atapnya, Hal ini melambangkan rumah sebagai “kerbau berdiri tegak”.

Suku Batak menganggap rumah adat mereka sebagai kerbau yang sedang berdiri dan dinamakan Rumah Balai Batak Toba. Bentuk rumah adat suku Batak berupa rumah panggung.

Selain sangat menghargai binatang kerbau, warga masyarakat Sumatera Utara sangat mencintai gotong royong dan kebersamaan. Misalnya, pada saat membangun rumah adat suku Batak, mereka melakukannya dengan bersama-sama.

Bagian-bagian Rumah Adat Suku Batak

1. Rumah adat suku Batak terdiri dari tiga bagian yang disebut tritunggal benua, yaitu:

* atap rumah atau benua atas yang dipercaya sebagai tempat dewa.
* lantai dan dinding atau benua tengah yang ditempati manusia.
* kolong rumah atau benua bawah yang dipercaya sebagai sebagai tempat kematian.

Pada zaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar. Untuk masuk ke dalam rumah harus menaiki tangga dari kolong rumah. Anak tangganya berjumlah lima sampai tujuh buah.

2. Bagian rumah adat Batak berupa tiang biasanya dekat dengan pintu. Tiang ini memepunyai bentuk yang bulat panjang, yang dimaksudkan untuk menyangga bagian atas atau lantai dua.

3. Balok digunakan untuk menghubungkan semua tiang yang disebut juga dengan rassang. Balok bentuknya lebih tebal daripada papan Balok ini bisa menyatukan tiang-tiang depan, belakang, samping kanan dan kiri rumah, dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku).

4. Terdapat pintu di kolong rumah untuk jalan masuk kerbau supaya bisa masuk ke dalam kolong.

5. Rumah adat suku Batak mempunyai atap rumah yang terbuat dari ijuk. Ijuk ini terdiri atas 3 lapisan. Tuham-tuham merupakan lapisan pertama, sedangkan lapisan kedua disebut lalubak dan kemudian dilanjutkan dengan lapisan ketiga.

6. Tangga rumah adat suku Batak ada dua macam, yaitu:

* Pertama adalah tangga jantan (balatuk tunggal). Tangan jantan terbuat dari beberapa potongan pohon. Jenis pohon yang bisa dijadikan tangga tidak sembarang. Pohon ini biasanya disebut sibagure, merupakan jenis pohon yang mempunyai batang kuat.
* Kedua disebut tangga betina (balatuk boru-boru). Jenis tangga ini merupakan paduan beberapa potong kayu yang keras dan biasanya terdiri atas anak tangga dengan hitungan yang ganjil.

Ciri Khas Rumah Adat Suku Batak

Ada beberapa ciri khas yang dapat dijumpai pada rumah adat suku Batak. Diantaranya adalah

* Bentuk bangunan merupakan perpaduan dari tiga macam hasil seni, yaitu seni pahat, seni ukir, serta hasil seni kerajinan.
* Bentuk rumah adat dari suku Batak pada umumnya melambangkan “Kerbau berdiri tegak”.
* Menghias bagian atap dengan tanduk kerbau.
* Bangunan dibuat berdasarkan musyawarah dan saran-saran dari para orang tua.
(Oleh: AnneAhira)

Satu Keluarga Dari Empat Orang di Binjai Tewas Dibantai

Satu keluarga yang terdiri dari empat orang ditemukan tewas mengenaskan di dalam rumah di Jalan Rukam, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai, Sumatera Utara.

Besar dugaan para korban tewas karfena dianiaya orang yang masih memiliki hubungan dekat.

Empat mayat ditemukan di dalam dua kamar. Jasad korban Atu (65) ditemukan tergeletak di kamarnya, sementara menantu Ceni, serta dua anak Ceni, Kevin dan Karen ditemukan tergeletak di kamar depan dalam kondisi tertutup selimut tebal.

Dari tubuh Atu dan Ceni ditemukan luka di bagian leher. Sementara dua bocah malang keluar busa dari mulut serta terdapat luka lebam di mata.

Diduga korban tewas pada Sabtu 30 April atau sehari sebelum ditemukan. Dugaan tersebut terlihat dari kalender di dalam ruang tamu korban yang masih tertera tanggal 30 April.

Tan Cheng Kiat, tetangga korban mengatakan, mayat kali pertama diketahui dari warga yang melintas di rumah korban. Saat melintas, tercium bau busuk, namunwarga berani masuk ke dalam rumah. Mereka pun akhirnya melaporkan ke polisi.

Sementara itu jajaran Polres Binjai yang melakukan olah TKP tidak menemukan tanda-tanda kekarasan dan pencurian dari rumah korban. Apalagi, pintu rumah tidak dirusak. Fakta ini menunjukkan pelaku kemungkinan besar orang yang dikenal korban.

Untuk mengungkap pembunuhan sadis ini, Polres Binjai langsung membentuk tim (news.okezone.com)

MYCULTURED


Ir Robert Edison Siahaan, Peduli Pertanian

Ir. Robert Edison Siahaan yang saat ini menjabat Walikota Pematangsiantar, Sumatera Utara, diunggulkan memenangi Pilgub Sumut, 16 April 2008. Dia berpasangan dengan H. Suherdi, Ketua Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera), Sumut. Pasangan bernomor urut 3 (tiga) ini didukung delapan Parpol, yakni PDS, PKB, PPIB, Partai Persatuan Daerah, PNI Marhaenisme, PBSD, Partai Pelopor dan PNBK.

Dalam pencalonannya sebagai Gubernur Sumatera Utara, RE Siahaan dan H. Suherdi, mengedepankan misi “Empati Kemiskinan Sumut dengan Pemberdayaan Pertanian.” RE Siahaan, lulusan Institut Pertanian Bogor (1982), sebelum menjabat Walikota Pematang Siantar, menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Simalungun (2001 – 2005).

Pada 1984 – 1987 menjabat Kepala Cabang VI Dinas Perkebunan Propinsi Dati I Sumatera Utara di Siborong-borong. Tahun 1994 – 1995 Kepala Cabang V Dinas Perkebunan Propinsi Dati I Sumatera Utara di Sidikalang. Tahun 1995 – 2001 Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Simalungun

Da menjabat walikota sejak tanggal 25 Agustus 2005 berpasangan dengan Drs Imal Raya Harahap sebagai wakil walikota.

Karena diyakini mengedepankan pembangunan pertanian dan juga memiliki keahlian di bidang pertanian, pasangan RE Siahaan dan H. Suherdi ini diperkirakan akan mendapat dukungan luas dari kalangan petani.

Sebagaimana dikemukakan Ketua dan Sekretaris PKB Karo, Abadi Depari dan Anwar Sadat Bangun S.Sos, Cagubsu RE Siahaan-H Suherdi pada Pilgubsu akan memperoleh kemenangan signifikan karena diyakini akan dipilih masyarakat Sumut yang umumnya petani. "Khususnya di Kabupaten Karo yang mayoritas petani dipastikan memilih RE Siahaan yang memiliki keahlian di bidang pertanian," ujar Abadi Depari.

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumatera Utara menetapkan masa kampanye Pilgubsu dimulai 30 Maret hingga 12 April 2008. Masa tenang 13, 14 dan 15 April 2008. Kemudian pada 16 April 2008 masyarakat Sumut menggunakan hak pilihnya untuk menentukan Gubernur-Wakil Gubernur Sumut periode 2008-2013.

Pasangan Cagub-Cawagub yang bersaing dalam Pilgubusu ini adalah HM Ali Umri SH.MKn dan DR H Maratua Simanjuntak nomor urut satu. Tritamtomo SH dan DR Ir Sahala Benny Pasaribu MEc, nomor urut dua. Ir Robert Edison Siahaan dan H Suherdi, nomor urut tiga. H Abdul Wahab Dalimunthe SH dan HM Syafei SH MHum, nomor urut empat. H Syamsul Arifin SE dan Gatot Pujonugroho ST, nomor urut lima

Nama: Ir Robert Edison Siahaan
Lahir: Balige, 29 April 1959
Agama: Kristen Protestan

Jabatan: Walikota Pematangsiantar

Istri:
Elfrida Dorowaty Hutapea (Sibolga, 7 Desember 1961)

Anak:
- Fernando S.M. Siahaan (P.Siantar, 9 Maret 1984)
- Sylvia M.E. Siahaan (P.Siantar, 28 April 1987)
- Endang Sartika Siahaan (P.Siantar, 6 Oktober 1994)
- Eric Julio Siahaan (P.Siantar, 13 Juli 1996)

Pendidikan:
- Sekolah Dasar : SD Negeri 12 P. Siantar (1971)
- Sekolah Menengah Umum : SMP Negeri 1 P. Siantar (1974)
- Sekolah Menengah Atas :
- SMA Negeri 2 P. Siantar (1977)
- S1 Institut Pertanian Bogor (1982)

Karir:
1983 – 1987 Kepala Unit Pelaksana Proyek (UPP) PKKR Dolok Batu Nanggar Simalungun
1984 – 1987 Kepala Cabang VI Dinas Perkebunan Propinsi Dati I Sumatera Utara di Siborong-borong
1994 – 1995 Kepala Cabang V Dinas Perkebunan Propinsi Dati I Sumatera Utara di Sidikalang
1995 – 2001 Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Simalungun
2001 – 2005 Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Simalungun
2005 – sekarang Walikota Pematang Siantar

Organisasi:
2006 – 2011 : Ketua DPC Partai Demokrat Kota Pematang Siantar

Pengalaman LN:
April, 2007 : Bangladesh – Promosi Budaya dan Pariwisata Indonesia (Indonesia Night 2007)

Tanda Jasa/Penghargaan:
2005: Satyalancana Karya Satya 20 Tahun, Oleh Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono

Alamat: Jl. Sutomo No 10 Pematang Siantar – Sumatera Utara

TokohIndonesia.com - The Journalistic Biography
(Sumber: mediaindonesia)

MYCULTURED

Batak Tempo Doeloe - The Batak in old photographs





MYCULTURED


Mossak & Tortor Sigale Gale





MYCULTURED


Tari tortor batak - Batak Toba Dance





MYCULTURED


Gondang Batak dht Beta mangalap boru (SKB)





MYCULTURED


Tor Tor Bona Pasogit





MYCULTURED


Tari tortor batak (Indonesian dance)





MYCULTURED


Tari Tortor Batak Toba - Martonun





MYCULTURED


Tari Tortor Naposo - Gondang Marhusip





MYCULTURED


GONDANG UNING-UNINGAN BATAK (anakkon hi do hamoraon di au )





MYCULTURED


Arti Batak : Penunggang Kuda

Sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Phill Ichwan Azhari menyampaikan hasil penelitiannya di Jerman terkait etimologi (asal-usul kata) dan genealogi (asal-usul garis turunan) Batak. Simpulan Ichwan: Batak bukan berasal dari Batak sendiri, tapi dikonstruksi para musafir barat dan dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Benarkah demikian?

Ilmuwan Batak yang juga Guru Besar Departemen Sejarah Unimed Prof Bungaran A Simanjuntak sedikit ‘gerah’ dengan publikasi Ichwan itu. Menurut Bungaran, tak perlu terlalu meyakini arsip-arsip di Jerman. “Belum tentu arsip-arsip di sana merupakan arsip yang valid, perlu dikonfirmasi ulang. Saya rasa kita tidak perlu terlalu menghebat-hebatkan arsip yang ada di sana,” katanya via telepon seluler, Kamis (18/11) lalu.

Bungaran menegaskan, asal-usul nama etnik Batak merupakan hasil dari budaya maupun sejarah di Sumut. “Batak merupakan satu kata dari bahasa Batak sendiri yang artinya penunggang kuda. Dari sisi inilah nama Batak ini muncul. Nama ini sudah sejak lama ada,” katanya.

Menurutnya, etnis Batak merupakan ras Mongolia Mansuria. “Awalnya kurang lebih 5000 tahun lalu, tentara Mongol berperang dengan bangsa Tar-tar, terpojok dan kemudian lari menuju Indonesia Bagian Timur melalui China. Para tentara Mongol ini pada saat itu mengendarai kuda, dan masyarakat di daerah Indonesia Bagian Timur (saat itu belum beretnis Batak) menamai tentara Mongol ini dengan ’Batak.’ Itulah awal nama etnik Batak,” tutur Bungaran.

Bukan Hal Baru

Bagi sebagian orang, hasil penelitian Ichwan itu mungkin mengejutkan. Tapi bagi sebagian lain, ini polemik yang sudah ‘basi’, sebab sudah sejak awal abad ke-20 pengertian dan asal kata Batak dipolemikkan. Sebutan atau perkataan Batak sebagai nama satu etnis di Indonesia, misalnya, sudah dibicarakan dalam beberapa penerbitan surat kabar pada tahun 1900-an. Sejumlah penulis ketika itu sudah berdebat, apa sesungguhnya pengertian kata (nama) Batak dan dari mana asal muasal kata itu?

Di suratkabar Pewarta Deli No. 82 tahun 1919, misalnya, polemik terjadi antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J Simanjutak. Polemik yang sama terjadi di suratkabar keliling mingguan yang diterbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya tampil sebagai penengah di antara silang pendapat yang ada. JS mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda yang terbit tahun 1903, ada halaman 64 menulis: “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residentie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : oerang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan) kepada bangsa itoe…”

Berdasarkan sejumlah referensi, umumnya kata Batak menyiratkan defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Menurut Ambrosius Hutabarat dalam catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938, pengertian Batak adalah orang yang mahir menaiki kuda, memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang berjiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan menghadapi bahaya/rintangan.

Bahkan, salah seorang pemikir Batak ketika itu, Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis teori bahwa suku Batak adalah sai-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal-usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda (sekitar Asia Tenggara sekarang), masuk ke pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia.

Drs DJ Gultom bahkan bersusah payah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak dengan membaca sejarah, legenda, mitologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.
Beberapa perkataan “batak” antara lain ditemukan dalam hampir seluruh bahasa sub etnis Batak mulai Pak-pak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Toba, yang pada umumnya bermakna heroik, tidak negatif. Berbagai penjelasan itu disampaikan untuk meluruskan anggapan seolah-olah ‘Batak’ adalah suatu aliran/kepercayaan tentang suatu agama yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak ketika itu.

Namun dalam pemeriksaan Ichwan terhadap arsip-arsip di Jerman, penelusuran data di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda, sama sekali tidak ada penjelasan tentang defenisi Batak sebagai penunggang kuda, yang kemudian diplesetkan sehingga menjadi sangat peyoratif terhadap identitas kebatakan.

Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Tak mengherankan peneliti Batak asal Belanda bernama Van der Tuuk, pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan Batak untuk nama etnik karena imej negatif pada kata itu.

“Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu,” katanya.

Dalam peta-peta kuno itu, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat. kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

Bermula dari Daniel Perret

Menurut salah seorang pengamat Kebatakan, Thompson Hs, penelitian Ichwan Azhari itu terkait dengan isu tentang Batak yang dilontarkan Daniel Perret dalam bukunya berjudul Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Buku tersebut sudah diseminarkan oleh PUSSIS pimpinan Ichwan Azhari sendiri.
Dalam buku Daniel Perret, semua istilah Batak dicatat dalam tanda petik dan identifikasi “batak” dalam setting kolonial waktu itu merupakan bagian dari dikotomi antara melayu yang dianggap beradab melalui kesultanan dan keislamannya dan posisi orang-orang “batak” yang belum menganut Islam yang dianggap stereotip dari orang-orang yang tidak beradab.

“Peta dikotomi ini saya kira yang ingin diungkapkan kembali oleh Ichwan Azhari tanpa mengungkap posisi Melayu di Sumatera Utara. Kita tunggu saja sambungan penelitiannya,” ujar Thompson.

Menurut Thompson, hasil penelitian Ichwan itu juga terkait dengan kepentingan isu Batak yang diperdebatkan lagi oleh sebagian orang Karo belakangan ini. Dalam sebuah diskusi di Padangbulan baru-baru ini, identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan muncul dari seorang antroplog Karo, Juara Ginting. Juara mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak disematkan pada suku Karo. Menurut Juara, tak ada kaitan antara Batak dengan Karo. Juara tak setuju jika Karo dianggap Batak, sebab Karo punya standar adat-istiadat yang mandiri. Kalaupun ada kemiripan tidak bisa langsung diklaim, harus dilihat dari banyak sisi.

“Tentu saja orang Karo tidak harus menjadi Batak. Itulah mungkin dasar lain di samping argumen Juara Rimanta Ginting yang mengambil catatan-catatan lama secara umum. Lalu orang Toba sendiri juga bisa juga menganggap dirinya bukan orang Batak. Mamun masalahnya bukan di situ,” kata Thompson.

Masyarakat Mandailing juga menolak disebut Batak. Sebab Mandailing sudah diketahui sejak abad ke-14, menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing. Nama Mandailing tercatat dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M.

Tapi ‘Batak’ sama sekali tidak disebut dalam kitab tersebut. Nama Batak itu sendiri tidak diketahui asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun.

Saat Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu, mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, tapi juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Belandalah yang kemudian membatakkan bangsa/umat Mandailing dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda.
Kembali ke hasil penelitian Ichwan. Menurutnya, konsep Batak dari misionaris Jerman semula digunakan kelompok masyarakat di kawasan Tapanuli Utara, tapi lebih lanjut dipakai Belanda menguatkan cengekraman ideologi kolonial.
Perlahan-lahan konsep Batak itu meluas dipakai Belanda termasuk sebagai pernyataan identitas oleh penduduk di luar daerah Toba. Peneliti Belanda kemudian merumuskan konsep sub suku batak dalam antropologi kolonial yang membagi etnik Batak dalam beberapa sub suku seperti sub suku Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun serta Batak Pak Pak.(Hariansumutpos-Panda MT Siallagan/saz)

MYCULTURED



Masukkan Email Anda Disini untuk dapat artikel terbaru dari BUDAYA BATAK:

Delivered by FeedBurner

KOMENTAR NI AKKA DONGAN....!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...